Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

DAN UNTUK SAMPAI KE TAHAP INI, AKU TELAH MELALUI BANYAK KISAH. “LPDP”

“Berjuang tidak sebercanda itu” Bagi para pejuang beasiswa, tentu saja LPDP adalah salah satu yang paling diminati. Selepas lulus, keinginan untuk terus bersekolah tidak pernah surut. Pernah sekali waktu keinginan itu melemah karena beberapa alasan, salah satu yang paling krusial adalah biaya. Keyakinan untuk mencari beasiswa itu kemudian muncul setelah dosen pembimbing skripsiku menghubungiku. Beliau dan tim penelitian jurusan tengah melaksanakan penelitian dan mengajakku turut serta. Entah dari mana, rasa percaya diriku pun muncul. Aku mantapkan diriku untuk mencari program beasiswa s2. Awalnya aku hanya mencari informasi dari berbagai sumber tentang beasiswa s2, mulai dari beasiswa penuh sampai beasiswa yang hanya menawarkan bantuan akademik. LPDP adalah yang paling pertama aku tuju. Rupanya, untuk mendapatkan beasiswa LPDP, banyak kualifikasi yang harus dipenuhi. Beberapa persyaratan penting yang harus dimiliki adalah IPK minimal 3,00, penguasaan bahasa inggris baik...

Bisu

Barangkali, dedaunan kering hanya tinggal menunggu angin demi menentukan nasibnya untuk gugur dengan cara paling sederhana dan syahdu. Lalu, aku akan tetap menunggu dan menjadi patung. Seperti halnya Sukab yang malang, yang mencintai wanitanya sedemikian rupa hingga membatu dalam luka. Ketika kata-kata tak dapat giliran, ia menjelma kebisuan yang menyakitkan. Aku ingin menumpahkan segalanya padamu, ya padamu. Tapi, rupanya segalanya harus bergiliran. Aku tak mendapatkan giliran itu. Kau tahu el? entah sejak kapan aku menjadi pembohong ulung. Entah sejak kapan pula aku lupa bagaimana caranya menjadi begitu jujur pada diriku sendiri. Peluk aku el, agar aku tak hatiku tak mati dalam sunyi. Tanpa kata-kata, tanpa suara. 

Sekerut Dahi untukmu El, Aku Rindu

Hei el, lama rasanya kita tak menghabiskan malam dengan secangkir kopi, tumpukan buku, dan imajinasi. Rupanya buku telah menjadi begitu asing bagiku. Lama rasanya kita tak membahasakan kehidupan. Terlalu lama kau tak mampir dan menepuk kepalaku yang keras ini. Sungguh, kepala ini tak lagi sekeras batu, tapi ia jauh lebih rapuh dari yang bisa kau duga. Apa yang membuatnya rapuh el? apa karena ia terlalu menikmati hari-hari yang nyaman? Kenapa ia mudah meluapkan kesedihan dan melankolia? Apa karena ia tak lagi sadar betapa berharganya setetes air mata itu? Mengapa ia tak lagi pandai menyembunyikan segalanya sendiri dan menjadi kuat? Apa karena ia tak lagi mampu mengungkapkan segalanya padamu? Karena ia tak lagi mampu memilih bahasa paling sederhana untuk mengurangi gumpalan asing di dadanya? Atau karena ia tak lagi mampu berdiri di atas kakinya sendiri hingga ia harus bergantung pada mimpi dan keinginan manusia lain, el? Sungguh, kepala ini tak lagi sekeras batu . Barangkali aku t...