Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2014

(. . .)

Gorong-gorong itu masih serupa lorong panjang Serupa perjalanan kehidupan Ya, Bagiku yang papa Kehidupan adalah ibu yang mengasuh semesta Di sana kau dan aku seringkali lena Barangkali kau dan aku tak jauh berbeda Kita sama-sama menghidu bau kepedihan yang anyir Berkelindan dalam ruang-ruang suci yang abadi sebentuk rahim Mengecap sepiring kesenangan Justru ketika di luar sana Manusia memilih memungut daun-daun di sudut-sudut kota Di tumpukan hinaan dan menjadi oportunis Bukan karena kau tak ingin kehidupan mengasuhmu Selepas keluar dari rahim ibu Tapi karena kesenangan menjadi alasan Mengapa kau dan aku mungkin berbeda.

Ada yang Berbeda

Tiba-tiba aku sampai pada satu kesadaran gaib itu. Entah sejak kapan aku mulai mempunyai kebiasaan aneh ini, melukai diriku sendiri, misalnya menggigit tanganku sampai biru, membenturkan kepalaku sendiri sampai rasa sakitnya jauh lebih besar dibandingkan rasa sakit dalam dadaku, atau hal paling aneh yang baru kulakukan hari-hari belakangan ini, mendaratkan kepala palu pada ibu jariku. Anehnya El, aku tak merasakan sakit sedikitpun. Aku mulai kaget ketika tiba-tiba ada cairan merah menggumpal di balik kulit ari jariku. Rasanya beberapa saat sebelumnya, aku masih memukul paku tepat pada kepalanya, sampai aku sadar palu itu beberapa kali mendarat di jariku dan aku tak menyadarinya. Paling tidak, tak ada rasa sakit yang jauh lebih membunuhku di bandingkan menerima kenyataan bahwa ibuku harus kembali memeras peluh. A ku marah pada diriku sendiri El.  

Bohong

"Kau baik-baik saja?" "Em..." "Kau yakin?" "Em..." "Lalu ada apa dengan matamu?" "Tidak tahu..." "Kau berbohong?" "Tidak" "Kau berbohong?" "Aku tak baik-baik saja, aku mencoba untuk tertawa dan bercanda gurau mengumpulkan seluruh energi yang kupunya, tapi aku tak baik-baik saja. Ada monster kejam yang mencabik-cabik dadaku. Aku memukul dadaku agar ia pergi, tapi ia tetap di sana dan memakan bagian-bagian tubuhku yang lain. Aku lemas. Tapi El, aku akan baik-baik saja, segera, setelah ini, takkan lama, ya, tak lama."

Let You Go

Kepada Ia Sekalipun kini aku menjadi pembunuh paling nista, barangkali aku tak akan menyesali ini, meski air mata tetap luluh dan meluruh. Hal yang paling kusesali adalah sesuatu yang kujaga dengan sangat hati-hati agar ia tak terluka, agar kepedihan hidup tak meniupkan aroma busuk padanya hingga ia berubah warna, agar ia tetap halus, lugu, dan murni seperti hati seorang bayi, justru padanya kini aku menebarkan ribuan jarum hingga darah dan nanah membuncah. Aku membebaskannya, sebab kebebasan akan membuat kita mengenal banyak hal yang tak bisa kita kenali manakala kita tetap saling menggenggam. Aku membebaskannya, sebab kebebasan selalu menjadi ruang di mana kita akan mendapatkan banyak kasih sayang dari Tuhan, dari alam. Aku tak berhak bermain-main dengan hati manusia, tapi aku melakukan sebisaku agar kita mampu belajar menjadi lebih manusia. Kebebasan itu akan menempatkan kita pada ruang di mana kita akan mengerti bagaimana caranya bertutur sapa dengan diri kita sendiri, dengan be...

Kita yang Membangun Cerita Friksi

Hei El, Kau tahu? kuhabiskan untuk apa saja hari-hariku belakangan ini?  Mengapa wanita suka sekali mengenang cerita seolah-olah kehidupan adalah drama dan ia menjadi pemeran utama yang tunggal? Belakangan ini kuhabiskan waktuku untuk mengukur sejauh mana batinku yang payah ini bertarung. Kita pernah benar-benar bertarung dengan musim. Kau ingat El? tempat itu, tempat di mana aroma buku terhidu di mana-mana, tempat di mana orang-orang silih berganti datang dan pergi lengkap dengan tatapan mata yang beragam. Andai saja waktu itu Kau menarik tanganku dan membawaku pergi, tentu saja tak akan ada cerita fiksi semacam ini. Aku kembali ke tempat itu hanya untuk melihat bayangan diriku yang dulu untuk kali pertama dalam hidupnya berbicara tentang harapan besar, ya, sebentuk pernikahan. Aku tengah mengenang air matanya kala itu, begitu lugu, tapi penuh keyakinan. Ia yang tengah meminta penegasan atas keyakinannya itu. Kini, aku melihat gambar itu hanya berupa bayang-bayang kenangan....

Drama

"Katanya, bertemu dengan seseorang, menerima hatinya, lalu mencintainya, adalah sebuah tanggung jawab yang besar El. Lalu bagaimana jika Kau justru tersiksa El?"

Nothing

"Tentang cinta, mungkin saja tak ada yang benar-benar mengerti mengapa manusia jatuh cinta pada manusia lain. Katakanlah bahwa cinta yang kita bicarakan adalah satu bentuk ketertarikan pada lawan jenis. Suatu hari, kita akan benar-benar menyadari bahwa sebuah hubungan tak hanya berdasar pada cinta." "Lalu apa yang terpenting dalam sebuah hubungan El? kejujuran? kesabaran? rasa menerima? legowo ?" "Itu hanya beberapa faktor pendukung." "Lalu?" "Menurutmu, apa yang kau butuhkan ketika Kau memutuskan untuk membangun sebuah hubungan?" "Jadi dasar dari semuanya adalah kebutuhan?" "Apa yang membuatmu memutuskan untuk membagi sebagian kisahmu pada orang lain di luar dirimu dan membangun sebuah kenangan?" "Entahlah..." "Kau orang yang terbiasa menghadapi hal-hal rumit sorang diri. Kau terlatih sebab sejak kecil kehidupan mengasuhmu seperti itu. Ya, katakanlah Kau dibentuk sebag...

Malam itu...

"Boleh aku tanyakan beberapa hal padamu El?" "Em..." "Mengapa Kau selalu datang tengah malam, di saat semua orang tertidur?Aku harus memaksa mataku terjaga sebab ingin bertemu denganmu dan bercerita?" "Aku memberimu waktu untuk menjadi manusia, berteman dan berbagi dengan yang lain." "Kau tahu aku tak mampu, berteman apalagi berbagi." "Kau mampu." "Berbagi hanya bagi mereka yang memiliki dan dimiliki." "Tidakkah kau merasa memiliki dan dimiliki?" "Perasaan seperti itu hanya dimiliki mereka yang percaya bahwa kebahagiaan itu dapat dijaga." "Lalu kenapa Kau tak terlihat bahagia?" "Aku bahagia. Hanya saja tak ada satupun kebahagiaan yang dapat dijaga." "Ke mana perginya  kepercayaanmu?" "Tidak tahu." "Apa yang membuatmu selalu ingin sendiri dan tak berbagi?" "Entahlah." "Mengapa Kau seperti ini? apa itu me...