Barangkali, dedaunan kering hanya tinggal menunggu angin demi menentukan nasibnya untuk gugur dengan cara paling sederhana dan syahdu. Lalu, aku akan tetap menunggu dan menjadi patung. Seperti halnya Sukab yang malang, yang mencintai wanitanya sedemikian rupa hingga membatu dalam luka. Ketika kata-kata tak dapat giliran, ia menjelma kebisuan yang menyakitkan. Aku ingin menumpahkan segalanya padamu, ya padamu. Tapi, rupanya segalanya harus bergiliran. Aku tak mendapatkan giliran itu. Kau tahu el? entah sejak kapan aku menjadi pembohong ulung. Entah sejak kapan pula aku lupa bagaimana caranya menjadi begitu jujur pada diriku sendiri. Peluk aku el, agar aku tak hatiku tak mati dalam sunyi. Tanpa kata-kata, tanpa suara.
Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit. Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih. Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...
I must remind you, you're such a bad liar!
ReplyDelete