Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2014

Menggambar Ibu

Kami sering melakukan ini, menertawakan nasib dan meringis di tengah rasa sakit. Ya, aku dan ibuku. Hari ini pun sama, sambil berbisik seolah suara kami bisa membangunkan serigala, ibuku menolak sebungkus nasi yang sengaja aku beli di jalan tadi. Ibu hanya mengambil obat pesanannya, sambil tergesa meninggalkanku dan sekantung makanan yang kuberikan padanya. “Udah, bawa pulang aja. Di sini banyak makanan.” Ucapnya berbisik  dari balik gerbang. Rasa-rasanya, aku ingin menghantam gerbang besi itu, merobeknya, lalu meniupnya serupa debu. Supaya aku bisa melihat wajah ibuku lebih jelas tentunya. Tapi, gerbang itu tetap gagah, menjulang seolah penguasa rimba. Ia seperti memasang wajah nanar dan mengeryitkan dahinya padaku. “Hei, kau anak tak berguna, bagaimana mungkin kau bisa mengalahkanku.” Suaranya menggelegar. Aku benci padanya, ya, dan suatu hari, aku berjanji, akan kurobohkan gerbang sialan itu. Ibu terus memaksaku untuk cepat pergi, sebab majkannya sedang ada di rumah. Akan j...

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...