Kami sering melakukan ini, menertawakan nasib dan meringis di tengah rasa sakit. Ya, aku dan ibuku. Hari ini pun sama, sambil berbisik seolah suara kami bisa membangunkan serigala, ibuku menolak sebungkus nasi yang sengaja aku beli di jalan tadi. Ibu hanya mengambil obat pesanannya, sambil tergesa meninggalkanku dan sekantung makanan yang kuberikan padanya. “Udah, bawa pulang aja. Di sini banyak makanan.” Ucapnya berbisik dari balik gerbang. Rasa-rasanya, aku ingin menghantam gerbang besi itu, merobeknya, lalu meniupnya serupa debu. Supaya aku bisa melihat wajah ibuku lebih jelas tentunya. Tapi, gerbang itu tetap gagah, menjulang seolah penguasa rimba. Ia seperti memasang wajah nanar dan mengeryitkan dahinya padaku. “Hei, kau anak tak berguna, bagaimana mungkin kau bisa mengalahkanku.” Suaranya menggelegar. Aku benci padanya, ya, dan suatu hari, aku berjanji, akan kurobohkan gerbang sialan itu. Ibu terus memaksaku untuk cepat pergi, sebab majkannya sedang ada di rumah. Akan j...
kerangka manusia dan keinginan bebasnya.