Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2014

Lost

Lalu pada akhirnya el, kehilangan menjadi lebih menyakitkan manakala kita menyadarinya lebih dulu sebelum  ia benar-benar hilang. Sebab aku merasa pernah memiliki memori sekuat dinding rumah ini, karenanya aku begitu yakin bahwa satu di antara kita akan mengerti, betapa bermaknanya segala yang terbangun dan teramu dalam pertemanan. Kukira el, berceloteh akan membuat keyakinan satu sama lain terbangun kembali. Aku ingin memeluk mereka, mengatakan betapa "mereka tak perlu sendiri".  Sempat aku bertanya el, barangkali pada Tuhan, atau padamu, mengapa ada lubang menganga di dadaku, mengapa air mata menderas. Barangkali inilah jawabanya el, "aku kehilangan, sesuatu paling berharga." *Sepiring nasi liwet tak pernah begitu seberharga ini, yang gagal kumakan dan aku terluka, ya sepiring nasi liwet, yang kepadanya aku menaruh harapan mendengar banyak hal... 

Terkadang Kita...

Ada banyak hari di mana kita telah menghabiskan berbagai moment, menikmatinya, menertawakannya, mungkin saja menangisinya, 'bersama'. Tapi, hanya ada sedikit hari di mana kita akan lupa bahwa kita adalah bagian dari 'kebersamaan' itu. Barangkali hari ini adalah bagian dari yang sedikit itu. Bukankan memang benar? teman hanyalah orang asing yang tiba-tiba bertemu, yang tiba-tiba bersamanya kita menjadi konyol? yang kemudian bersamanya kita memiliki candaan baru. Terkadang, ya, terkadang, dan terkadang adalah berarti tidak selalu, kita mulai berharap segala yang lebih. Berharap bahwa 'kebersaman' itu akan menghapus luka kita, menyeka air mata kita, atau mungkin memeluk kita dengan mesra dan hangat.  Ada kalanya kita begitu kecewa manakala justru pada titik di mana kita membutuhkan 'kebersamaan' itu, ia menguap serupa didih air. Ada kalanya kita mulai berpikir untuk sendiri, sebab kesendirian nyatanya jauh lebih aman dan nyaman. Tidak ada yang peduli dan h...