anak bajang itu tak sampai pada kehendak juri, tak apa. aku tak menyesalinya, karena waktu kukirimkan Ia tak sekalipun terbesit sebuah piagam tertulis untuknya...inilah kisah bajang itu...kuletakkan di sini sebagai kehendak bahwa kau akan membahasakannya pada mata-mata lainnya... Upacara si Bajang Bajang, ya sudah bertahun-tahun sejak nama itu melekat sebagai julukan orang-orang dukuh padanya, seorang pemuda lugu, baik budi, dan taat adat. Ia hanya seorang pemuda biasa yang melewati fase pubertas seperti halnya aku, kau, ataupun remaja-remaja lainnya, mengalami kisah cinta yang romansanya memabukkan. Ah, aku hanya berpikir bahwa Ia terlalu sial. Semua bermula dari Kanthi, kembang perawan putri kebayan di dukuh ini. Pertumbuhannya menjadi perawan jelita membawa petaka bagi si Bajang. Barangkali takkan jadi petaka jika saja waktu itu Bajang tak pergi ke alun-alun untuk melihat pertunjukan si lengger. Ya ...
kerangka manusia dan keinginan bebasnya.