Barangkali, dedaunan kering hanya tinggal menunggu angin demi menentukan nasibnya untuk gugur dengan cara paling sederhana dan syahdu. Lalu, aku akan tetap menunggu dan menjadi patung. Seperti halnya Sukab yang malang, yang mencintai wanitanya sedemikian rupa hingga membatu dalam luka. Ketika kata-kata tak dapat giliran, ia menjelma kebisuan yang menyakitkan. Aku ingin menumpahkan segalanya padamu, ya padamu. Tapi, rupanya segalanya harus bergiliran. Aku tak mendapatkan giliran itu. Kau tahu el? entah sejak kapan aku menjadi pembohong ulung. Entah sejak kapan pula aku lupa bagaimana caranya menjadi begitu jujur pada diriku sendiri. Peluk aku el, agar aku tak hatiku tak mati dalam sunyi. Tanpa kata-kata, tanpa suara.
kerangka manusia dan keinginan bebasnya.