Ayah, entah telah berapa lama kita tak menghabiskan malam di ruang tengah rumah kecil kita sambil bercerita, bercerita apa saja, segalanya. Aku ingat, sewaktu kecil, meski jauh, kau selalu mengajarkan padaku bagaimana segalanya akan terasa menyenangkan dan ringan jika dibicarakan. Ya, mungkin kaulah orangnya, lelaki pertama yang kucintai dan kucelotehi apa saja. Kau dengarkan sekalipun itu hal-hal tak penting. Aku belajar bahasa darimu dan aku belajar keteguhan cinta dari ibu. Meski keluarga kita tak sempurna, meski keluarga kita tak pernah utuh, meski seringkali aku melihat bagaimana bahasa menjadi begitu memuakkan manakala kau dan ibu bertengkar, tapi kasih sayang mengikat kita jauh lebih erat dibanding luapan emosi dan ego. Pernah suatu malam, di ruang tengah, di depan televisi, ketika kita utuh, Ibu, juga si Lanang, kau mulai menanyakan hal-hal serius, dan kau sebut namanya. Ada banyak cara untuk menyakiti seseorang, tapi hanya ada sedikit cara untuk membahagiakannya, katamu lembu...