Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2012

Tulip Hitam yang Ranggas

Hari itu aku menangis sekencang-kencangnya, ketika kubuka mataku dan tak ada lagi cahaya matahari di hadapanku. Aku menangis sekencang-kencangnya dan Ibu memelukku erat. Kurasakan tetes-tetes air matanya jatuh di pipiku. Sejak saat itu, hari terasa begitu dingin, begitu hampa, dan kosong. Tiap hari yang kulakukan hanya menyendiri di kamarku meratapi hidupku sendiri. Kehampaan yang memenjarakan hidupku dalam kegelapan, tak lagi muncul warna-warni Tuhan, yang ada di hadapnku hanyalah hitam. Aku merasa hidupku berakhir karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain meminta belas kasih orang. Hanya untuk mengambil sepiring nasi aku harus merepotkan banyak orang. Aku merasa hidup dalam kematian. Hal-hal penting dalam hidupku dulu mulai kutinggalkan dan meninggalkanku satu persatu. Kutinggalkan lukisan-lukisanku, kanvas, kuas, dan cat air yang kini menjadi kisah lalu. Kutinggalkan kuliahku, dan banyak orang meninggalkanku. Aku terperosok seorang diri di dunia yang bahkan tak kukenali dan me...

sajak biru

Senandung Lirih Anakmu Luka meranggas di hatimu mama Dan aku hanya terdiam kelu Membatu Tak lagi kulihat binar mata indahmu yang dulu Atau sekedar senyum simpul di sudut-sudut bibirmu Bambu berderit di latar rumah Angin menderu serupa sunyi mendera tiba-tiba Kau dan aku terluka oleh sepinya hidup Oleh lara maya pada Saat kugenggam telapak tanganmu Saat kurengkuh tubuh rapuhmu Aku tahu kau menahan lara Menahannya lama Luka meranggas di hatimu mama Dan aku hanya terdiam kelu Membatu Ruang sepi, 2012

sepi

Sajak Tentangnya Untuk pemuda yang tak kusebut namanya Kulihat gambaranku yang dulu Saat tumbuh dengan cinta yang lugu Untuknya. Hujan,,, terimakasih telah membawaku pada kenangan lalu Saat Ia dan aku terduduk dalam diam Memandangi tetesan langit yang terpercik satu-satu Menikmati aroma sunyi berdua Merasakan sejuknya angin yang berubah dingin Kudengar deru hatinya bagai genderang suarga Dan hatiku ikut bergemuruh Ia dan aku masih terdiam Sementara hujan terus menari-nari Dan wajah langit berubah senja Masihkah Ia mengingatku saat hujan Membuncah rindu dengan bayang-bayang mega asmara Meski tahun telah berlalu Dan ruang terbelah cita Masihkah Ia mengingatku Menawarkan irama cinta suarga loka Dalam sepi dan sunyiku Meski kini tak lagi kudengar merpati berkicau tentangnya Aku masih menunggunya seperti Kunthi Meski tahu Pandu takan pernah datang padanya Aku masih menunggunya Penghujung Desember 2011