Hari itu aku menangis sekencang-kencangnya, ketika kubuka mataku dan tak ada lagi cahaya matahari di hadapanku. Aku menangis sekencang-kencangnya dan Ibu memelukku erat. Kurasakan tetes-tetes air matanya jatuh di pipiku. Sejak saat itu, hari terasa begitu dingin, begitu hampa, dan kosong. Tiap hari yang kulakukan hanya menyendiri di kamarku meratapi hidupku sendiri. Kehampaan yang memenjarakan hidupku dalam kegelapan, tak lagi muncul warna-warni Tuhan, yang ada di hadapnku hanyalah hitam. Aku merasa hidupku berakhir karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain meminta belas kasih orang. Hanya untuk mengambil sepiring nasi aku harus merepotkan banyak orang. Aku merasa hidup dalam kematian. Hal-hal penting dalam hidupku dulu mulai kutinggalkan dan meninggalkanku satu persatu. Kutinggalkan lukisan-lukisanku, kanvas, kuas, dan cat air yang kini menjadi kisah lalu. Kutinggalkan kuliahku, dan banyak orang meninggalkanku. Aku terperosok seorang diri di dunia yang bahkan tak kukenali dan me...
kerangka manusia dan keinginan bebasnya.