Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Tentangmu

Kepada siapa lagi selain Tuhan, Bahwa Ia akan mengetuk hati yang kau kunci dalam diam Sebab hanya Tuhan yang mampu mencintai dan kau cintai Sebab hanya Tuhan yang memiliki seluruh yang ada dalam dadamu Sebab karena Tuhan, kita bertemu... Kepada siapa lagi selain Tuhan

Move...

Terkadang, untuk mendapatkan sedikit kebenaran, kita perlu melakukan banyak kesalahan. Boleh jadi, selama ini kita begitu angkuh el, merasa diri paling benar, dan merasa segalanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Aku lupa el, kita tak sedang menjalani hidup sendiri atau hanya aku dan kau saja. Kita berteman dan menjalin banyak hubungan dengan manusia lain. Tidak ada satu orang pun  yang tak ingin dipahami karakter dan cara mereka menjalani kehidupan. Maka katanya, untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain kita harus tahu bagaimana cara menerimanya. Memberi ruang kepada mereka akan membuat mereka jauh lebih nyaman dibanding harus mengekang mereka dan memaksa agar mereka memahami kita juga, el. Aku kira akan datang giliran kita el, waktu di mana mereka akan memahamiku juga kau. Tapi tak perlu dipakasakan. Kesadaran akan datang pada mereka yang mau menerima bahwa aku dan kau ada. 

Kepada Ayah

Ayah, entah telah berapa lama kita tak menghabiskan malam di ruang tengah rumah kecil kita sambil bercerita, bercerita apa saja, segalanya. Aku ingat, sewaktu kecil, meski jauh, kau selalu mengajarkan padaku bagaimana segalanya akan terasa menyenangkan dan ringan jika dibicarakan. Ya, mungkin kaulah orangnya, lelaki pertama yang kucintai dan kucelotehi apa saja. Kau dengarkan sekalipun itu hal-hal tak penting. Aku belajar bahasa darimu dan aku belajar keteguhan cinta dari ibu. Meski keluarga kita tak sempurna, meski keluarga kita tak pernah utuh, meski seringkali aku melihat bagaimana bahasa menjadi begitu memuakkan manakala kau dan ibu bertengkar, tapi kasih sayang mengikat kita jauh lebih erat dibanding luapan emosi dan ego. Pernah suatu malam, di ruang tengah, di depan televisi, ketika kita utuh, Ibu, juga si Lanang, kau mulai menanyakan hal-hal serius, dan kau sebut namanya. Ada banyak cara untuk menyakiti seseorang, tapi hanya ada sedikit cara untuk membahagiakannya, katamu lembu...

(. . .)

Gorong-gorong itu masih serupa lorong panjang Serupa perjalanan kehidupan Ya, Bagiku yang papa Kehidupan adalah ibu yang mengasuh semesta Di sana kau dan aku seringkali lena Barangkali kau dan aku tak jauh berbeda Kita sama-sama menghidu bau kepedihan yang anyir Berkelindan dalam ruang-ruang suci yang abadi sebentuk rahim Mengecap sepiring kesenangan Justru ketika di luar sana Manusia memilih memungut daun-daun di sudut-sudut kota Di tumpukan hinaan dan menjadi oportunis Bukan karena kau tak ingin kehidupan mengasuhmu Selepas keluar dari rahim ibu Tapi karena kesenangan menjadi alasan Mengapa kau dan aku mungkin berbeda.

Ada yang Berbeda

Tiba-tiba aku sampai pada satu kesadaran gaib itu. Entah sejak kapan aku mulai mempunyai kebiasaan aneh ini, melukai diriku sendiri, misalnya menggigit tanganku sampai biru, membenturkan kepalaku sendiri sampai rasa sakitnya jauh lebih besar dibandingkan rasa sakit dalam dadaku, atau hal paling aneh yang baru kulakukan hari-hari belakangan ini, mendaratkan kepala palu pada ibu jariku. Anehnya El, aku tak merasakan sakit sedikitpun. Aku mulai kaget ketika tiba-tiba ada cairan merah menggumpal di balik kulit ari jariku. Rasanya beberapa saat sebelumnya, aku masih memukul paku tepat pada kepalanya, sampai aku sadar palu itu beberapa kali mendarat di jariku dan aku tak menyadarinya. Paling tidak, tak ada rasa sakit yang jauh lebih membunuhku di bandingkan menerima kenyataan bahwa ibuku harus kembali memeras peluh. A ku marah pada diriku sendiri El.  

Bohong

"Kau baik-baik saja?" "Em..." "Kau yakin?" "Em..." "Lalu ada apa dengan matamu?" "Tidak tahu..." "Kau berbohong?" "Tidak" "Kau berbohong?" "Aku tak baik-baik saja, aku mencoba untuk tertawa dan bercanda gurau mengumpulkan seluruh energi yang kupunya, tapi aku tak baik-baik saja. Ada monster kejam yang mencabik-cabik dadaku. Aku memukul dadaku agar ia pergi, tapi ia tetap di sana dan memakan bagian-bagian tubuhku yang lain. Aku lemas. Tapi El, aku akan baik-baik saja, segera, setelah ini, takkan lama, ya, tak lama."

Let You Go

Kepada Ia Sekalipun kini aku menjadi pembunuh paling nista, barangkali aku tak akan menyesali ini, meski air mata tetap luluh dan meluruh. Hal yang paling kusesali adalah sesuatu yang kujaga dengan sangat hati-hati agar ia tak terluka, agar kepedihan hidup tak meniupkan aroma busuk padanya hingga ia berubah warna, agar ia tetap halus, lugu, dan murni seperti hati seorang bayi, justru padanya kini aku menebarkan ribuan jarum hingga darah dan nanah membuncah. Aku membebaskannya, sebab kebebasan akan membuat kita mengenal banyak hal yang tak bisa kita kenali manakala kita tetap saling menggenggam. Aku membebaskannya, sebab kebebasan selalu menjadi ruang di mana kita akan mendapatkan banyak kasih sayang dari Tuhan, dari alam. Aku tak berhak bermain-main dengan hati manusia, tapi aku melakukan sebisaku agar kita mampu belajar menjadi lebih manusia. Kebebasan itu akan menempatkan kita pada ruang di mana kita akan mengerti bagaimana caranya bertutur sapa dengan diri kita sendiri, dengan be...

Kita yang Membangun Cerita Friksi

Hei El, Kau tahu? kuhabiskan untuk apa saja hari-hariku belakangan ini?  Mengapa wanita suka sekali mengenang cerita seolah-olah kehidupan adalah drama dan ia menjadi pemeran utama yang tunggal? Belakangan ini kuhabiskan waktuku untuk mengukur sejauh mana batinku yang payah ini bertarung. Kita pernah benar-benar bertarung dengan musim. Kau ingat El? tempat itu, tempat di mana aroma buku terhidu di mana-mana, tempat di mana orang-orang silih berganti datang dan pergi lengkap dengan tatapan mata yang beragam. Andai saja waktu itu Kau menarik tanganku dan membawaku pergi, tentu saja tak akan ada cerita fiksi semacam ini. Aku kembali ke tempat itu hanya untuk melihat bayangan diriku yang dulu untuk kali pertama dalam hidupnya berbicara tentang harapan besar, ya, sebentuk pernikahan. Aku tengah mengenang air matanya kala itu, begitu lugu, tapi penuh keyakinan. Ia yang tengah meminta penegasan atas keyakinannya itu. Kini, aku melihat gambar itu hanya berupa bayang-bayang kenangan....

Drama

"Katanya, bertemu dengan seseorang, menerima hatinya, lalu mencintainya, adalah sebuah tanggung jawab yang besar El. Lalu bagaimana jika Kau justru tersiksa El?"

Nothing

"Tentang cinta, mungkin saja tak ada yang benar-benar mengerti mengapa manusia jatuh cinta pada manusia lain. Katakanlah bahwa cinta yang kita bicarakan adalah satu bentuk ketertarikan pada lawan jenis. Suatu hari, kita akan benar-benar menyadari bahwa sebuah hubungan tak hanya berdasar pada cinta." "Lalu apa yang terpenting dalam sebuah hubungan El? kejujuran? kesabaran? rasa menerima? legowo ?" "Itu hanya beberapa faktor pendukung." "Lalu?" "Menurutmu, apa yang kau butuhkan ketika Kau memutuskan untuk membangun sebuah hubungan?" "Jadi dasar dari semuanya adalah kebutuhan?" "Apa yang membuatmu memutuskan untuk membagi sebagian kisahmu pada orang lain di luar dirimu dan membangun sebuah kenangan?" "Entahlah..." "Kau orang yang terbiasa menghadapi hal-hal rumit sorang diri. Kau terlatih sebab sejak kecil kehidupan mengasuhmu seperti itu. Ya, katakanlah Kau dibentuk sebag...

Malam itu...

"Boleh aku tanyakan beberapa hal padamu El?" "Em..." "Mengapa Kau selalu datang tengah malam, di saat semua orang tertidur?Aku harus memaksa mataku terjaga sebab ingin bertemu denganmu dan bercerita?" "Aku memberimu waktu untuk menjadi manusia, berteman dan berbagi dengan yang lain." "Kau tahu aku tak mampu, berteman apalagi berbagi." "Kau mampu." "Berbagi hanya bagi mereka yang memiliki dan dimiliki." "Tidakkah kau merasa memiliki dan dimiliki?" "Perasaan seperti itu hanya dimiliki mereka yang percaya bahwa kebahagiaan itu dapat dijaga." "Lalu kenapa Kau tak terlihat bahagia?" "Aku bahagia. Hanya saja tak ada satupun kebahagiaan yang dapat dijaga." "Ke mana perginya  kepercayaanmu?" "Tidak tahu." "Apa yang membuatmu selalu ingin sendiri dan tak berbagi?" "Entahlah." "Mengapa Kau seperti ini? apa itu me...

Edelweis

Aku melihatmu  pada pot kecil yang kubuat dengan bahagia kala itu,  Kini, kau lebih tabah dari mataku

Sad

El, kapan kau datang dan membasuh segala air mata? Bu, apa yang harus kulakukan agar kehidupan tak selalu mengkhianatimu? Pada akhirnya, diam menjadi jalan paling kejam yang bisa kulakukan untukmu bu. Aku pernah berpikir untuk segera menemukan seseorang yang kepadanya dapat kuceritakan segalanya tentangmu, tentang lukamu, tentang hak-hakmu yang tak pernah kau dapatkan. Tapi, kukira cerita tentang kita selalu menjadi hal paling lapuk dan membosankan untuk oranglain. Aku memilih diam bu, lalu menenggelamkan segalanya dalam sunyi. Pernah pula aku berpikir bahwa manusia semacam itu akan datang dalam kehidupanku, kehidupan kita, serupa cahaya yang menyala dan menarik kita dari kegelapan bu. Tapi, kukira tak ada manusia seperti itu bu, ia takkan datang, atau paling tidak barangkali butuh waktu yang lama untuk menunggunya datang. Barangkali pula, ia akan datang ketika segala air mata telah kering dengan sendirinya dari mata kita bu.  Apa yang harus kulakukan bu, manakala kau ...

Lost

Lalu pada akhirnya el, kehilangan menjadi lebih menyakitkan manakala kita menyadarinya lebih dulu sebelum  ia benar-benar hilang. Sebab aku merasa pernah memiliki memori sekuat dinding rumah ini, karenanya aku begitu yakin bahwa satu di antara kita akan mengerti, betapa bermaknanya segala yang terbangun dan teramu dalam pertemanan. Kukira el, berceloteh akan membuat keyakinan satu sama lain terbangun kembali. Aku ingin memeluk mereka, mengatakan betapa "mereka tak perlu sendiri".  Sempat aku bertanya el, barangkali pada Tuhan, atau padamu, mengapa ada lubang menganga di dadaku, mengapa air mata menderas. Barangkali inilah jawabanya el, "aku kehilangan, sesuatu paling berharga." *Sepiring nasi liwet tak pernah begitu seberharga ini, yang gagal kumakan dan aku terluka, ya sepiring nasi liwet, yang kepadanya aku menaruh harapan mendengar banyak hal... 

Terkadang Kita...

Ada banyak hari di mana kita telah menghabiskan berbagai moment, menikmatinya, menertawakannya, mungkin saja menangisinya, 'bersama'. Tapi, hanya ada sedikit hari di mana kita akan lupa bahwa kita adalah bagian dari 'kebersamaan' itu. Barangkali hari ini adalah bagian dari yang sedikit itu. Bukankan memang benar? teman hanyalah orang asing yang tiba-tiba bertemu, yang tiba-tiba bersamanya kita menjadi konyol? yang kemudian bersamanya kita memiliki candaan baru. Terkadang, ya, terkadang, dan terkadang adalah berarti tidak selalu, kita mulai berharap segala yang lebih. Berharap bahwa 'kebersaman' itu akan menghapus luka kita, menyeka air mata kita, atau mungkin memeluk kita dengan mesra dan hangat.  Ada kalanya kita begitu kecewa manakala justru pada titik di mana kita membutuhkan 'kebersamaan' itu, ia menguap serupa didih air. Ada kalanya kita mulai berpikir untuk sendiri, sebab kesendirian nyatanya jauh lebih aman dan nyaman. Tidak ada yang peduli dan h...

Aku, mmm...

Aku, ya, setidaknya pernah, atau jujur saja harus kuakui bahwa belakangan ini aku mulai memikirkannya, menemukan seseorang yang kepadanya aku meletakan segala keinginan menjadi yang halal. Entahlah el. barangkali ini karena usia, tapi kurasa bukan. Paling tidak, aku masih dua puluhan. Masih cukup muda untuk tak memikirkannya. Selalu begini saat mendengar kabar beberapa kawanku yang telah memilih untuk sebuah mimpi sederhana tapi manis dan aku iri. Ya, apalagi, pernikahan tentu saja.

Menggambar Ibu

Kami sering melakukan ini, menertawakan nasib dan meringis di tengah rasa sakit. Ya, aku dan ibuku. Hari ini pun sama, sambil berbisik seolah suara kami bisa membangunkan serigala, ibuku menolak sebungkus nasi yang sengaja aku beli di jalan tadi. Ibu hanya mengambil obat pesanannya, sambil tergesa meninggalkanku dan sekantung makanan yang kuberikan padanya. “Udah, bawa pulang aja. Di sini banyak makanan.” Ucapnya berbisik  dari balik gerbang. Rasa-rasanya, aku ingin menghantam gerbang besi itu, merobeknya, lalu meniupnya serupa debu. Supaya aku bisa melihat wajah ibuku lebih jelas tentunya. Tapi, gerbang itu tetap gagah, menjulang seolah penguasa rimba. Ia seperti memasang wajah nanar dan mengeryitkan dahinya padaku. “Hei, kau anak tak berguna, bagaimana mungkin kau bisa mengalahkanku.” Suaranya menggelegar. Aku benci padanya, ya, dan suatu hari, aku berjanji, akan kurobohkan gerbang sialan itu. Ibu terus memaksaku untuk cepat pergi, sebab majkannya sedang ada di rumah. Akan j...

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...