Skip to main content

Posts

Showing posts from 2012

hujan kembali deru

di kota itu, dulu kita sama-sama asing. ada yang menarikku pada sebuah dunia yang sama-sama kita singgahi kini. kau tahu El? kita sama-sama mengelana pada kehampaan, di mana langit menjadi begitu gelap dan hujan lagi-lagi penuh deru. El, aku pulang pada keputusasaan, pada pilihan hidup yang mungkin saja absurd...tapi, bukankah katamu hidup bukan hanya persoalan pilihan? atau kebebasan yang barangkali kini tak lagi kutemui. aku mantap, ingin keluar! pagi tadi tepatnya, tapi kau tahu El? hujan menderas, lagi dan lagi. kau sendiri tahu aku terlanjur tergila-gila pada hujan, lalu menganggapnya begitu penting. lantas ke mana kemantapan itu menguap? apakah harus kucari-cari di udara yang kadang hampa-nya sendiri adalah enigma...aku bisa makin gila El, karena hujan ini tak juga menyusut.

sajak ini untukmu "Nang"

Aku menanyakan ini pada-Mu  Bila cinta yang tertanam di ruang sukma ialah juga agung-Mu  Bisakah Si Lanang di sana  Menembus rimba yang wajahnya terpampang ngeri?  Adakah nyalak di sana Hanya piranti kesetiaan yang kuhardik hari lalu?  Aku mencintai Lanangku… Yang lahirnya adalah pengorbanan bagi tawa semuku…  Aku begitu mencintai Lana ngku, kukatakan ini pada-Mu jika cinta yang terkembang di ujung sukma ini adalah agung-Mu…

untuk sebuah nama

apa yang menjadi hebat dengan menjadi sepotong kuku yang terus tumbuh dan menyela di antara daging-daging hidup. Ia hanya menjadi benalu yang tak kan pernah ber'usai'. bahkan meelihat makhluk kecil seperti nyamuk pun aku iri...ya..iri...mereka pun bisa mencari makanannya sendiri, terbang dengan sayap-sayapnya sendiri, berdiri di atas kakinya sendiri, dan tidur di pagi hari dengan begitu lelap. barangkali aku akan terus tumbuh menjadi anak nakal yang melempar liat ke jendela-jendela tetangga, lalu mereka akan mengadukan kenakalanku pada-Mu,,,bukan,,tapi Kau selalu melihatku,,,karena itukah Kau menahan hadiah untukku dan membiarkanku terus melihat anak-anak lain menerima hadiah-Mu,,sementara aku akan tetap menjadi anak nakal dan tokoh antagonis dalam drama nyata....maafkan aku....

satu hari matahari tak tampak

inilah goresan entah yang ke sekian...aku tak peduli,,aku tak ingin peduli. aku menangis di antara riuh tawa, aku sendiri heran dengan apa yang kutangiskan, "menangis itu wajar" kata kawanku,,,tapi kataku, itu hanya sekedar pembenaran atas lelah-lelahku yang kukeluhkan...aku menyesal,,,aku menyesal untuk memohon pada manusia yang tak kan melirik air mataku,,,aku tak akan melakukan kebodohan itu lagi...

ini kisah tentang Bajang

anak bajang itu tak sampai pada kehendak juri, tak apa. aku tak menyesalinya, karena waktu kukirimkan Ia tak sekalipun terbesit sebuah piagam tertulis untuknya...inilah kisah bajang itu...kuletakkan di sini sebagai kehendak bahwa kau akan membahasakannya pada mata-mata lainnya... Upacara si Bajang           Bajang, ya sudah bertahun-tahun sejak nama itu melekat sebagai julukan orang-orang dukuh padanya, seorang pemuda lugu, baik budi, dan taat adat. Ia hanya seorang pemuda biasa yang melewati fase pubertas seperti halnya aku, kau, ataupun remaja-remaja lainnya, mengalami kisah cinta yang romansanya memabukkan. Ah, aku hanya berpikir bahwa Ia terlalu sial.          Semua bermula dari Kanthi, kembang perawan putri kebayan di dukuh ini. Pertumbuhannya menjadi perawan jelita membawa petaka bagi si Bajang. Barangkali takkan jadi petaka jika saja waktu itu Bajang tak pergi ke alun-alun untuk melihat pertunjukan si lengger. Ya ...

maaf...

      Aku selalu membayangkannya, semua, ya semua. Semua bayangan tentang bagaimana aku ketika aku tak mecapai batas-batas ini, mencapai semua hal yang mestinya kusyukuri ini bu. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain merangkai kata-kata, menjentikan jemari-jemariku pada papan qwerty di hadapan sebuah layar flat, yang aku tahu hanya bolpoin-bolpoin yang tinta hitamnya setiap hari kugoreskan pada berlembar kertas-kertas putih, yang kutahu hanyalah bagaimana aku bisa mencapai nilai-nilai baik kemudian kutnjukan itu sebagai sebuah hadiah kebanggaan kepadamu.       Tak ada yang lain selain itu, tak ada. Kau yang menyiapkan semuanya bu, kau dan tetes darahmu, kau dan cucuran keringatmu, kau dan lingkar hitam di matamu, kau dan tangismu yang tanpa kata-kata itu. Sementara tak ada yang mampu kulakukan selain semua hal-hal yang telah menjadi candu itu bu. Pada akhirnya aku menyaksikanmu terpuruk, jatuh dalam sakitmu, sebuah tubuh yang pada akhirnya me...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

beludru di bulan maret

ini belum genap dua tahun sejak kita bertatap sapa dan mengeja nama...aku mengingatnya, saat untuk kali pertama itu, kau mengenalkanku dengan duniamu, bukan, dunia kita yang belum kusadari. menjadi seorang wali, dan datang kapanpun kanakku memmbutuhkanmu. aku dimanjakan oleh perlindunganmu, "itu bekal" katamu. mengajakku meninggalkan lorong gelap dari sisi tak terkira, lalu kita berkelana ke negri sophie dengan keingintahuan yang pelan-pelan kau ajarkan padaku...kini aku harus melepasmu pergi,,dengan mengantongi sebingkis bekal yang kau suapkan sampai detik sebelum langkahmu mulai menjauh...

Kembara Rasa

Sunyi... Ya, sejak puisi menjadi begitu definitif tentangmu Dan kisah cinta sepasang anak manusia yang takkan abadi Ingin sekali kuterbangkan merpati padamu Biar rasamu tak jua mengembara Tapi senja tetap begitu angkuh bagimu Juga untukku, kini. Alina, Menyihirmu menjadi selembar daun kering Kau tahu, Tapi kau terima meski luka menganga Meski kisah tentangmu hanya jadi lelucon pengantar pulang bagaskara Hujan menjadi begitu melodis kini tinggal rasaku yang mengembara sejak kisahmu hanya untuk Alina ah Alina,,,betapa aku cemburu padamu tapi tak iri. Sudut fajar 2012

matahari februari menjadi merah muda

hujan...pada akhirnya aku menyadari bahwa kehadiranmu akan terlihat indah hanya bagi mereka yang memiliki tempat untuk berteduh. tak apa,,karena aku tak punya itu hingga nyatanya kau begitu menakutkan bagiku...sudahlah lupakan...sudah saatnya aku meninggalkan kenangan tentangmu yang terlampau lama. inilah manusia, nyatanya aku mulai jenuh menunggumu. harus kuakui, aku tak lagi menunggumu. meski aku ingin. hatiku menyerah. ya, ada selembar daun yang tiba-tiba menyambangiku, dan menebarkan wewangian romansa baru di tubuhku yang terlalu bau karena menunggu. entahlah...barangkali akan menjadi terlalu dini ketika kukatakan keadaan seperti ini sebagai satu bentuk rasa percintaan bodoh yang tak berguna...mungkin...inilah dia selembar daun yang mencoba memotong senja untuk seorang Alina,,,dan aku mulai merasa cemburu karenanya meski tak iri...inilah selembar daun yang tiba-tiba menyambangi setiap mimpi-mimpiku dan membawkan sebongkah senyum yang lalu kuingat sampai pagi,,,kau mungkin akan ter...

aku mencintaimu ayah

mengapa selalu seperti ini ayah? setiap kali burung berita mengisahkan tentangmu, seolah perih menyelusup menggerogoti dadaku. ayah, lukamu menjadi begitu menyakitkan untukku. betapa ingin kusudahi jerit luka yang menganga di tubuhmu itu, tapi begitu nista ketika menyadari bahwa aku tak punya apapun untuk itu...ayah, lapangkanlah dadamu dan benamkan ikhlas dalam jiwa besarmu,,,

Tulip Hitam yang Ranggas

Hari itu aku menangis sekencang-kencangnya, ketika kubuka mataku dan tak ada lagi cahaya matahari di hadapanku. Aku menangis sekencang-kencangnya dan Ibu memelukku erat. Kurasakan tetes-tetes air matanya jatuh di pipiku. Sejak saat itu, hari terasa begitu dingin, begitu hampa, dan kosong. Tiap hari yang kulakukan hanya menyendiri di kamarku meratapi hidupku sendiri. Kehampaan yang memenjarakan hidupku dalam kegelapan, tak lagi muncul warna-warni Tuhan, yang ada di hadapnku hanyalah hitam. Aku merasa hidupku berakhir karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain meminta belas kasih orang. Hanya untuk mengambil sepiring nasi aku harus merepotkan banyak orang. Aku merasa hidup dalam kematian. Hal-hal penting dalam hidupku dulu mulai kutinggalkan dan meninggalkanku satu persatu. Kutinggalkan lukisan-lukisanku, kanvas, kuas, dan cat air yang kini menjadi kisah lalu. Kutinggalkan kuliahku, dan banyak orang meninggalkanku. Aku terperosok seorang diri di dunia yang bahkan tak kukenali dan me...

sajak biru

Senandung Lirih Anakmu Luka meranggas di hatimu mama Dan aku hanya terdiam kelu Membatu Tak lagi kulihat binar mata indahmu yang dulu Atau sekedar senyum simpul di sudut-sudut bibirmu Bambu berderit di latar rumah Angin menderu serupa sunyi mendera tiba-tiba Kau dan aku terluka oleh sepinya hidup Oleh lara maya pada Saat kugenggam telapak tanganmu Saat kurengkuh tubuh rapuhmu Aku tahu kau menahan lara Menahannya lama Luka meranggas di hatimu mama Dan aku hanya terdiam kelu Membatu Ruang sepi, 2012

sepi

Sajak Tentangnya Untuk pemuda yang tak kusebut namanya Kulihat gambaranku yang dulu Saat tumbuh dengan cinta yang lugu Untuknya. Hujan,,, terimakasih telah membawaku pada kenangan lalu Saat Ia dan aku terduduk dalam diam Memandangi tetesan langit yang terpercik satu-satu Menikmati aroma sunyi berdua Merasakan sejuknya angin yang berubah dingin Kudengar deru hatinya bagai genderang suarga Dan hatiku ikut bergemuruh Ia dan aku masih terdiam Sementara hujan terus menari-nari Dan wajah langit berubah senja Masihkah Ia mengingatku saat hujan Membuncah rindu dengan bayang-bayang mega asmara Meski tahun telah berlalu Dan ruang terbelah cita Masihkah Ia mengingatku Menawarkan irama cinta suarga loka Dalam sepi dan sunyiku Meski kini tak lagi kudengar merpati berkicau tentangnya Aku masih menunggunya seperti Kunthi Meski tahu Pandu takan pernah datang padanya Aku masih menunggunya Penghujung Desember 2011