Preambule
Orang itu membuka matanya lalu menutupnya lagi, demikian terus seperti itu sampai dirasa kesadarannya mulai kembali normal. Ia lalu merapatkan duduknya dan menatap kesekeliling hingga didapati bahwa dirinya tengah berada ditengah-tengah sekelopok manusia aneh yang sama sekali tak dikenalnya. Ia kini menjadi santapan empuk para pengagung theosof , keberadaannya menjadi semakin mengerikan, dan ia ingin sekali lari namun terjatuh, lari lalu terjatuh lagi, terus diulanginya sampai tubuhnya mengerang dan tak sanggup untuk bengkit lagi. Orang itu terkapar tak berdaya, sementara kelompok orang yang mengelilnginya saat ini tertawa terbahak-bahak seolah baru saja mendapatkan sebuah hiburan yang fantastis
“ marveolus.....haahhaa” pekikan salah seorang diantaranya.
Orang itu meringis kesakitan, luka-luka ditubuhnya tak lagi dikenalnya, sama sekali tak diketahuinya, dan tak ia pahami dari mana asal luka-luka itu. Yang ia tahu sekarang rasa sakit itu akhirnya membuatnya kembali tak sadarkan diri setelah beberapa saat tak berselang lama iapun baru saja kembali dari keadaan seperti itu.
Sekelompok orang yang mengelilinginya itupun meninggalkannya begitu saja terkapar dilantai , seperti tikus yang barusaja tak jadi dimangsa kucing, meninggalkannya begitu saja. Mereka menuju sebuah ruangan besar yang berjarak agak jauh dari tempat dimana pemuda itu terkapar tak berdaya. Sebuah ruangan besar bergaya modern, dengan beberapa ornamen dari berbagai daerah didalamnya, kursi-kursi yang diatur layaknya ruang pertemuan di istana kepresidenan, dinding yang penuh ditempeli dengan rentetan bingkai-bingkai besar berisi foto-foto mantan pemimpin organisasi itu, dan beberapa simbol-simbol aneh yang tampak sakral bagi mereka, sementara lubang ventilasi kecil terselip diantara pintu dan dinding di sebelah selatan ruangan, ruangan itu nampak begitu gelap, tak ada satupun jendela, ruangan itu begitu tertutup seolah mengisyaratkan bahwa organisasi itupun begitu tertutup hingga tak ada yang boleh sekedar melirik, bahkan mereka sama sekali tak membiarkan sinar matahari itu menerobos kedalamnya dan mengetahui apa yang tengah mereka rundingkan saat ini. Masing-masing dari mereka saling berucap, seorang yang tampak telah berusia sekitar 70-80 tahunan memajukan kursi rodanya dan menatap tajam pada mereka yang hadir, tatapan si tua itu berpegaruh begitu besar pada sekelompok orang dihadapannya, mereka semua tertunduk tanpa mampu berkata-kata, apalgi berteriak seperti yang mereka lakukan beberapa saat sebelumnya,
“ sudah sejak abad ke-18 organisasi ini ada, pemimpin kami dulu membangun loji-loji kita dengan perjuangan karena pelarangan keras dari pemerintahan Belanda dan Jerman, tapi pemimpin kami terus mendirikannya untuk kita, suhu agung kita menguasai seluruh wilayah Hindia-Belanda, apalagi yang kita tautkan?”
ada ketegangan diwajah salah satu diantara mereka saat mendengarkan perkataan orang tua itu.
“ tapi tuan agung, bagaimana dengan pemuda bernama Afa itu? Dia akan menjadi ancaman besar untuk keberadaan kita, pemikirannya akan berhasil menghancurkan loji kita kalau dia dibiarkan begitu saja, kenapa kau tak membunuhnya? Bukankah itu sangat mudah.”
Tukas salah seorang anggota oganisasi itu, yang juga merupakan pemimpin salah satu loji di wilayah timur.
“ Tuan steven, dia memang berbahaya, tapi tidak sekarang untuk mematikannya, dia masih kita butuhkan, kita butuh otaknya, pemikirannya, dan tubuhnya.” Jawab orang tua dikursi roda itu, ialah pimpinan besar organisasi itu.
Sementara didalam ruangan tadi, pemuda itu tengah mencoba membuka matanya kembali, menutup lalu membukanya lagi. Rasa sakit yang dirasakannya semakin menjadi, kali ini ia tak mampu untuk bangkit. Ia memandang kesekeliling ruang, ruangan itu tak berjendela hingga tak ada cahaya yang masuk dan membantunya sekedar mengenali dimana ia berada sekarang ini. Memorinya mencoba meraba beberapa kejadian yang membawanya sampai pada keadaan seperti sekarang ini. Pening kepalanya hingga tak mampu sebatas mengingat dimana ia sebelumnya sebelum akhirnya sampai ditempat ini. Mata belonya terkedip dalam perih karena pelipisnya juga terluka, ia tak menyerah dan kembali dalam ingatan-ingatannya. Ia pejamkan matanya dan menarik napas dalam. Dalam hatinya yang bergetar ia seperti mendapat gambaran-gambaran kecil keberadaannya sebelum ini, tentang dirinya dan potongan-potongan memori yang terus mencoba direngkuhnya. Secercah cahaya pagi, rimbunan pohon dan gemricik air sungai serta suara-suara kodok yang bercengkrama ria. Keadaan sebuah hutan yang indah, riuh suara anak manusia tertawa ria, saling bercengkrama, berkisah tentang pengalaman perjalanan yang baru saja dilewati, ada juga tentang kisah-kisah yang ak begitu asing baginya, lalu
“ afa,,,,,”
suara yang membuatnya menengok kearah datangnya suara itu. Sayang, potongan memori itu kembali hilang dalam bayangannya, ia membuka matanya kembali dan merasa teramat pening.
“afa,,,” bisiknya dalam hati.
Ia kembali meringis menahan sakit namun terus mencoba mengulang refleksinya untuk mendapati sepotong ingatan tentangnya, sekalipun hanya sepotong ingatan tentangnya, keeradaannya sebelum ini dan alasannya berada disini, dan mengapa ia seperti ini, sekarat dengan luka berentet disekujur tubuhnya. Ia menghela napas panjang, nihil bahkan ia tak mapu mengingat siapa dirinya.
“sssrreek...ssrreek”
seseorang datang mendekati ruangan dimana pemuda itu berada. Orang itu mulai membuka pintu perlahan, suara sepatunya terdengar seperti irama yang dikenal oleh pemuda itu, ia pernah mendengar irama langkah itu sebelumnya, sangat jelas dan potongan memorinya mulai berterbangan diatas kepalanya. Pemuda itu mencoba membuka matanya lebar-lebar, menahan sakit dipelipisnya, ia menanti dengan penuh harap berdoa dalam hati akan ada cahaya yang menerangi wajah orang itu, semakin dekat semakin ia membuka lebar-lebar matanya. Benar, tuhan mengabulkan permitaan pemuda itu, ada secercah cahaya yang menembus celah-celah pintu yang terbuka, cukup mampu menerangi wajah orang yang masuk itu. Diluar dugaan orang itu adalah seorang wanita dengan rambut panjang sebahu, memakai dress hitam dan sepatu hak tinggi yang mengeluarkan irama irama aneh dalam setiap ketukannya. Wanita itu menatap si pemuda dengan tatapan sendu seolah ia begitu simpatik terhadap keadaan pemuda itu yang sekarang teramat menyedihkan, ia bahkan tak bisa bangkit menatap dirinya sendiri yang begitu menyedihkan, ia tak mengingat satupun hal tentang dirinya sendiri.
“ si,,,siapa,,ka,,mu?” tanya pemuda itu dengan terbata-bata.
“makanlah,,,entah berapa lama kau tak sadarkan diri” jawab wanita itu tanpa memandang kearahnya.
“ tempat apa ini, dan siapa kau” pemuda itu berusaha menguatkan ucapannya hingga tak terbata-bata lagi.
Wanita itu diam, ia menunduk tanpa mampu menjawab pertanyaan pemuda itu, pemuda itu mencoba bangkit sekalipun itu hanya akan meperbanyak luka ditubuhnya, tapi ia sama sekali tak menyerah. Lalu ia jatuh, bangkit, dan terjatuh lagi, wanita itu semakin tak tega melihatnya, ia masih tak mau melihat kearah pemuda itu, namun ia tak lagi mampu menahan rasa kasihannya pada pemuda itu, ia lalu berbalik dan menahan pemuda itu yang akan terjatuh kembali. “berhentilah afa,,,” teriak wanita itu spontan, pemuda itu langsung menatap tajam kearahnya, ia terbelalak saat wanita itu memanggilnya afa. “ jadi namaku afa?” pemuda itu tampak begitu senang mengetahui satu bagian tentangnya, sekalipun hanya sebatas nama. Afa terjatuh, kepalanya mendadak seperti tetembak peluru dari arah yang tak terduga, ia tak bisa mengendalikan rasa sakit yang tak biasa itu.seperti ada bom waktu dikepalanya yang dikendalikan oleh satu orang yang tak ia ketahui, ia merasa seperti akan mati saat itu juga, tapi ada satu bagian yang menariknya dari kematian dan meletakannya diantara keduanya, itu lebih menyakitkan dari apapun. Ia memegang erat kepalanya, sakit dikepalanya membuat tubuhnya terbanting kesana kemari. Ada gambar-gambar nyata yang muncul dibenaknya, tentang gambaran dirinya dan banyak hal tentangnya. Satu persatu potongan mosaik ia dapati, ya, ia mulai mengingat sesuatu..................
***
Memoir
Sekelompok orang mengejarnya, ia lari terhuyung tak tentu arah. Yang ada di benak afa hanya menyelamatkan teman-temannya yang saat itu juga dalam pengejaran. Afa seperti babi hutan yang tengah diburu anjing liar milik para pemburu yang juga liar. Hutan lebat pada malam hari bukanlah tempat yang baik untuk lari, napas afa berdengus kencang menahan lelah setelah hampir 15 hari dalam pengejaran sekelompok orang yang siap membunuhnya bersama teman-temannya, mereka seperti tentara nazi yang kejam, perawakan yang besar dan berotot, tinggi mereka sekitar 180 sentimeter, mengingatkan afa pada pasukan pengaman Garda swiss, senjata tajam digenggamannya membuat afa yakin bahwa mereka adalah sekawanan pembunuh bayaran berdarah dingin. Terlalu lelah hingga afa memutuskan untuk sejenak merebahkan diri di bawah diantara semak belukar, ia yakin para pembunuh itu tak akan menyadari keberadaannya, dahaga dan lapar membuat tubuhnya melemah. Entah dimana keberadaan teman-temannya saat ini, sudah berhari-hari lalu ia berpisah dengan teman-temannya, kehilangan jejak dalam pelarian. Ia berusaha menarik napas dalam lalu menghembuskannya, otaknya berputar mencoba menerka-nerka kemana larinya tiga orang temannya itu. Mata afa memerah, ia tampak begitu khawatir, ia ingat bahwa salah satu temannya terluka sesaat sebelum mereka terpisah. ia mengendus-endus seperti kucing, ternyata tepat perkiraannya 15 hari dalam pengejaran hidungnya mampu mengenali bau sengit orang-orang yang mengejarnya itu. Ia merapatkan kedua lututnya dan semakin masuk kedalam semak belukar itu, para pembunuh itu rupanya terlampau cepat dari yang ia duga.
“ bedebah,,,kemana larinya bocah itu,,,” pekik salah seorang dari pembunuh itu.
mereka lalu berpencar mencari sampai kesemak belukar. Afa menggigil, ia mulai pesimis keberadaannya akan tercium juga oleh para pembunuh itu, ia membekam mulut dengan kedua tangannya erat-erat.
“shreek,,shreek,,,”
langkah salah seorang dari mereka yang mulai terdengar semakin mendekat kearah afa. Jantung afa berdebar kencang ia tahu pasti bahwa beberapa detik setelah ini ia akan tamat.
“ heiii, aku menemukannya!!!” teriak salah satu lainnya dari kejauhan.
Lalu pembunuh yang mendekat kearah afa pun langsung berbalik arah dan kembali menuju kawanannya. Afa membuka kebali matanya, keberuntungan berpihak padanya. Afa menghela napas panjang, ia tetap siaga, barangkali mereka kembali dan langsung memburunya. Ia tetap diam ditempat itu, mematung namun memorinya berputar kesana kemari. Ia merogoh benda kecil yang ada dikantong celananya, sebuah mikrochip yang ia dapatkan dari john temannya. Mikrochip yang membongkar keberadaan organisasi gelap dunia. Afa tertegun memandang benda kecil ditangannya itu, john mendapatkan benda itu dengan pertaruhan nyawa, ia tak lagi melihat batang hidung kawannya itu setelah menyerahkan benda kecil itu pada afa, tak ada kabar apapun tentangnya, keluarganya bahkan masih mengira bahwa anak sulung mereka masih di kampus menjalani kehidupan layaknya orang pada umumnya. Bau sengit para begundal itu semakin dekat, jantung Afa berdebar kencang, Ia masih kelelahan, napasnya masih tak beraturan, dadanya turun naik, dan Ia tak bisa berlari lebih jauh lagi.
“duaaarrrrrr”
Suara tembakan itu semakin menyergap hati afa, ketakutan yang semakin menjadi, kini memuncak, bukan takut bahwa nyawanya akan segera melayang saat para begundal itu berhasil menangkapnya, tapi takut dirinya tak akan bisa menyelamatkan satu-satunya hal besar yang John titipkan itu, satu-satunya yang dapat mengungkap organisasi gelap itu. napasnya masih mengendus tak beraturan, Ia mencoba mengelilingkan pandangannya, matanya yang kini mulai menghitam karena tak pernah tidur selama pelarian itu.
Ingatan afa kembali pada hari-hari sebelum keadaanya sekarang, hari sebelum 15 hari pelarian ini...............
To be continued....
Comments
Post a Comment