Skip to main content

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.

       Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.

      Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan jauh dariku. Tapi, ia memilih menyimpan segalanya dalam diam. Ia menelan segala rasa sakitnya bersama kepasrahan. Baginya, tak ada lagi jalan selain menerima nasibnya. Maka, aku pun memilih diam, lalu menenggelamkan segalanya dalam tidur. Katanya, tidur bisa mengubur kepiluan apa saja.

         Orang memiliki banyak cara untuk lari, menangis adalah salah satunya, tapi air mataku terlanjur mengendap di pangkal tenggorok. Luka yang tak kau keluarkan dalam bentuk paling manusia katanya bisa jadi borok. Mungkin saja, setumpuk lukaku telah menjadi borok, menganga dan berbau anyir. Sebab, ia dipenuhi darah segar bercampur daging yang membusuk. Betapapun aku mencoba menyekanya, mengoleskan obat-obatan apa saja, ia terlanjur membusuk lebih dulu.

Comments

  1. dengan segala keterbatasanmu, kamu harus sangat bersyukur atas kesempatan yang bisa kamu dapatkan skarang...
    akan ada waktu untuk membalas semuanya. tak perlu terburu.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.