Hari itu aku menangis sekencang-kencangnya, ketika kubuka mataku dan tak ada lagi cahaya matahari di hadapanku. Aku menangis sekencang-kencangnya dan Ibu memelukku erat. Kurasakan tetes-tetes air matanya jatuh di pipiku. Sejak saat itu, hari terasa begitu dingin, begitu hampa, dan kosong. Tiap hari yang kulakukan hanya menyendiri di kamarku meratapi hidupku sendiri. Kehampaan yang memenjarakan hidupku dalam kegelapan, tak lagi muncul warna-warni Tuhan, yang ada di hadapnku hanyalah hitam. Aku merasa hidupku berakhir karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain meminta belas kasih orang. Hanya untuk mengambil sepiring nasi aku harus merepotkan banyak orang. Aku merasa hidup dalam kematian. Hal-hal penting dalam hidupku dulu mulai kutinggalkan dan meninggalkanku satu persatu. Kutinggalkan lukisan-lukisanku, kanvas, kuas, dan cat air yang kini menjadi kisah lalu. Kutinggalkan kuliahku, dan banyak orang meninggalkanku. Aku terperosok seorang diri di dunia yang bahkan tak kukenali dan memang hidupku telah berakhir. Buku kisahku telah selesai dan harus kututup segera. Sebilah pisau kuaraih dan mulai kusayat pergelangan tanganku, tepat bagian pembuluh darahku. Aku ingin mati saat itu juga. Sayup-sayup suara Ibu masih terdengar di telingaku, derap langkahnya berlari ke arahku, menangis dan memanggilku, tapi hitam semakin pekat memenjarakan keberadaanku, dan aku tak lagi mendengar suara Ibu.
Tempat itu jauh lebih indah dari tempat-tempat yang selama ini kulihat. Aku melihat cahaya berpendar di mana-mana dan bocah-bocah kecil berlari ke sana ke mari dengan ceria. Kicauan burung mengantarkan kedamaian dalam jiwa yang selama ini mati bagiku. Bunga-bunga indah merekah, lebih indah dari yang pernah kulihat sebelumnya, dan seorang wanita dengan anggun menghampiriku. Balutan kain dan jilbab putih yang menutupi tubuhnya membuatnya seperti seorang bidadari surga. Ia tak berucap apapun selain sesungging senyum ayu merekah pada bibirnya. Binar matanya memancarkan cahya purnama dan derap langkahnya mendatangkan irama-irama yang ritmis. Ia meraih tanganku dan mengajakku ikut dengannya melihat jutaan bunga dengan aneka warna, satu yang menarik pandanganku, serumpun bunga tulip hitam di antara jutaan bunga dengan warna menyala. Aku terhenti, kupandangi tulip itu lama dan menyadari betapa berbedanya Ia di antara bunga-bunga lainnya.
“Mengapa Tuhan menciptakan perbedaan yang begitu tampak menyiksa.”
“tidak, Allah tak menciptakan perbedaan yang menyiksa makhluknya, itulah kasih illahi yang tak terbaca oleh makhluk. Lihatlah tulip itu, ia tegar, ia bahagia menerima hidupnya, ia resapi hembusan angin yang meresap di kelopaknya, Ia tetap ayu berkilau dengan cahaya dalam dirinya, cahayanya memancar di manapun Ia tumbuh”. Tutur wanita ayu itu sembari tersenyum melihatku.
Air terjun yang jatuh dengan gemuruhnya yang indah, aliran sungai dan hijau rerumputan membentang di hadapanku. Kilauan cahaya berpendar menari-nari sepanjang perjalanan kami dan aku melukisnya dalam ingatanku. Ia berhenti dan berbalik ke arahku, masih dengan senyum ayu Ia lalu memelukku erat.
“cahaya yang hakiki ada dalam iman di dadamu, warna yang kau lihat sebelumnya telah kau miliki dalam hati dan ingatanmu, tapi kasih sayang Allah kali ini lebih indah jika kau mampu membahasakannya. Hiduplah dengan cahaya iman yang menyala dari jiwamu, seperti tulip hitam itu yang menerjemahkan belaian angin sebagai cinta.”
Seklumit misteri illahi menghampiriku dan suara-suara penyeru-Nya bergema di telingaku, begitu indah, begitu menyejukkan hati. Kubuka mataku pelan, meski hitam masih tetap menjadi warna dalam kegelapan. Kudengar Ibu yang tengah mengaji di sampingku, begitu merdu dan indahnya merenyuhkan jiwa. Baru kali pertama dalam hidupku kurasakan ketentraman ini. Untuk waktu yang lama aku melupakan ajaran-ajaran Ibu dulu, tentang iman, tentang Tuhan. Aku melupakan Allah yang memberiku segalanya. Aku melupakan kuasa-Nya. Aku melupakan rahman-Nya. Aku menjadi orang yang dzalim dan kufur nikmat. Aku lupa kemahacintaan-Nya yang Ia berikan padaku dan aku lena pada dunia. “Alhamdulillah kau bangun nak,,,jangan melakukan hal bodoh lagi anakku, jangan berusaha untuk meninggalkan Ibu nak.” Tutur Ibu yang lalu memelukku erat, tangisnya tak terbendung lagi, begitu juga tangisku. Rasanya begitu hangat Ibu memelukku, kehangatan yang selama ini kulupakan, kehangatan yang dengan egoisnya ingin kutinggalkan, aku makin menangis sejadi-jadinya. Betapa berartinya hidupku.
Aku mulai menyadari banyak hal yang telah kutinggalkan. Ibu menuntunku ke kamar, namun aku ingin berusaha untuk berjalan sendiri, menghafal setiap letak benda-benda di rumahku. Aku ingin menata hidupku lagi. Kubuka jendela kamarku dan mendapati kesejukan angin menerpa tubuhku lembut. Angin menyambut datangku dengan mesra, untuk hidupku yang baru. Hari-hari kulalui dengan belajar semua hal tanpa penglihatanku. Aku mulai tersenyum kembali setelah entah berapa lama kulupakan itu. Hari-hari menjadi lebih berarti, aku mulai belajar memakai Jilbab, Ibu dengan sabar menuntunku menemukan kembali cahaya iman dalam dadaku, benar bahwa Ibu adalah malaikat yang Allah turunkan ke dunia untuk tiap anak manusia. Kali ini, Ia mengajarkanku doa-doa dalam shalat, seperti dulu ketika aku masih kecil. Malamnya, sebelum tidur Ibu selalu mengaji di dekatku, atau membacakan novel-novel inspiratif untukku. Kali ini adalah novel Hafalan Shalat Delisa, Ibu seperti tengah memperlihatkan kembali diriku yang sekarang dengan hafalan shalatku yang kalah dengan seorang bocah kecil bernama Delisa yang luar biasa. “Allah memberi hadiah terindah dalam rupa dan keberadaanmu putriku.” Ucap Ibu sambil mengecup keningku lalu berbalik meninggalkanku terkulai dalam kehangatan selimut. Aku seperti lahir kembali menjadi bayi tua merangkak mencari cahaya Illahi yang pada kehidupan lalu jauh kutinggalkan. Setangkai bunga tulip hitam yang meranggas kini telah kembali bersemi. Kelopak-kelopaknya merekah menebarkan wangi dan daun indah menunggu angin membelainya.
Suatu hari Ibu membawakan sebuah hadiah di hari kelulusanku. Aku tetap melanjutkan kuliahku dengan usaha keras dan dorongan Ibu, meski aku tak bisa melihat warna cat airku atau objek yang akan kulukis, tapi aku melukis apa yang ada dalam hatiku, dengan ingatan yang terekam jelas dalam memoriku. Aku mendapat penghargaan The Best Art untuk karya abstrakku berjudul “Tulip Hitam yang Ranggas” dan semua berkat begitu besarnya cinta yang Allah berikan padaku dari yang layak kudapati. Setangkai tulip hitam dalam pot, Ibu menghadiahkannya padaku, lalu seperti biasa Ia memelukku, hangat. Aku menangis dan bersujud di kakinya, untuk semua yang telah kulakukan hingga melukainya, untuk semua yang telah Ia berikan padaku, untuk seluruh pengorbanannya, aku menciuminya dan kami larut dalam tangis. Malaikat Allah yang menjadi pilar penegakku ini ibuku. Aku begitu merindukan wajahnya, binar matanya, dan wajah ayunya yang selalu dibalut jilbab itu, aku rindu padanya. Namun, Ia selalu berkata, “wajah Ibu sudah cukup banyak dalam memorimu anakku, saat kau merindukannya, peluklah Ibumu ini dan ingatlah wajah dalam memori itu.”
Hidup bukanlah semangkuk mi instan yang bisa kuseduh kapanpun dengan mudah. Hidup adalah cinta sejati dari Illahi. Kumpulan cahaya iman setiap makhluk dan fragmen-fragmen harapan yang menyatu dalam rasa syukur. Kali ini aku melihat diriku sendiri dalam pendaran cahaya-cahaya yang menyala apik. Dan inilah cerita yang tengah kuceritakan pada anakku tentang sekuntum bunga tulip hitam yang meranggas dan bersemi kembali. Kugenggam tangannya yang lembut dan Ia menguatkan genggamannya padaku.
“terimakasih telah hidup Umi, terimakasih untuk tetap bertahan, terimakasih Umi telah melahirkanku.”
“kau tak malu memiliki Umi yang buta?”
“ Umi adalah malaikat yang Allah kirimkan untuk bersamaku di dunia ini, aku ingin sepertimu Umi yang selalu memancarkan cahaya iman dalam dadamu dimanapun kau berada Umi.”
Kupeluk Ia erat sama seperti Ibu memelukku dulu.***
Simpang hidup, 10/01/12
Comments
Post a Comment