Skip to main content

matahari februari menjadi merah muda

hujan...pada akhirnya aku menyadari bahwa kehadiranmu akan terlihat indah hanya

bagi mereka yang memiliki tempat untuk berteduh. tak apa,,karena aku tak punya itu hingga nyatanya kau begitu menakutkan bagiku...sudahlah lupakan...sudah saatnya aku meninggalkan kenangan tentangmu yang terlampau lama. inilah manusia, nyatanya aku mulai jenuh menunggumu. harus kuakui, aku tak lagi menunggumu. meski aku ingin. hatiku menyerah. ya, ada selembar daun yang tiba-tiba menyambangiku, dan menebarkan wewangian romansa baru di tubuhku yang terlalu bau karena menunggu. entahlah...barangkali akan menjadi terlalu dini ketika kukatakan keadaan seperti ini sebagai satu bentuk rasa percintaan bodoh yang tak berguna...mungkin...inilah dia selembar daun yang mencoba memotong senja untuk seorang Alina,,,dan aku mulai merasa cemburu karenanya meski tak iri...inilah selembar daun yang tiba-tiba menyambangi setiap mimpi-mimpiku dan membawkan sebongkah senyum yang lalu kuingat sampai pagi,,,kau mungkin akan tertawa saat melihatku cekikikan di pagi hari,, bersemangat menelusuri jalan-jalan berliku hanya untuk bertemu dengannya dan melihat sebongkah senyumnya yang malam tadi melilit alam bawah sadarku...aku terjebak romansa,,pada selembar daun yang masih mencoba untuk mempersembahkan sepotong senja untuk sang Alina...dan kali ini aku menlisnya.........

Comments

  1. sebenarnya ketika menanti sesuatu yang kunjung tiba secara pasti kita diberi pilihan oleh waktu: tetap menunggu atau berlalu. tapi pilihan untuk kembali pada suatu titik kehidupan itu tak akan pernah ada...

    Hey bebii... I know u grow up and it's ur choice to be mature... Hope u never fall in fool anymore like u and I did before, in our past...

    regard. Haness :*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.