Skip to main content

maaf...


      Aku selalu membayangkannya, semua, ya semua. Semua bayangan tentang bagaimana aku ketika aku tak mecapai batas-batas ini, mencapai semua hal yang mestinya kusyukuri ini bu. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain merangkai kata-kata, menjentikan jemari-jemariku pada papan qwerty di hadapan sebuah layar flat, yang aku tahu hanya bolpoin-bolpoin yang tinta hitamnya setiap hari kugoreskan pada berlembar kertas-kertas putih, yang kutahu hanyalah bagaimana aku bisa mencapai nilai-nilai baik kemudian kutnjukan itu sebagai sebuah hadiah kebanggaan kepadamu.

      Tak ada yang lain selain itu, tak ada. Kau yang menyiapkan semuanya bu, kau dan tetes darahmu, kau dan cucuran keringatmu, kau dan lingkar hitam di matamu, kau dan tangismu yang tanpa kata-kata itu. Sementara tak ada yang mampu kulakukan selain semua hal-hal yang telah menjadi candu itu bu. Pada akhirnya aku menyaksikanmu terpuruk, jatuh dalam sakitmu, sebuah tubuh yang pada akhirnya meneriakkan lelahnya. aku tahu bu, itu batas di mana kau adalah manusia yang tak seharusnya hidup layaknya mesin. Apa yang harus kulakukan, apa yang harus anak tak bergunamu ini lakukan bu, sementara yang kutahu hanya menangis, menangis sebagai dalih bahwa aku ingin lari, mataku ingin lari, aku tak ingin melihat ibu yang telah cukup menderita karena mengandung dan melahirkanku harus kembali menderita untuk menuruti canduku. Benar, aku butuh anestesi bu, biar aku tak sadarkan diri, biar kau bisa sedikit membiarkan tubuhmu bahagia, biar tubuhmu tak lagi menangis.

Comments

  1. everything will be fine :')

    can u text me? I lost your number in my phone :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.