Aku selalu membayangkannya, semua, ya semua. Semua bayangan tentang bagaimana aku ketika aku tak mecapai batas-batas ini, mencapai semua hal yang mestinya kusyukuri ini bu. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain merangkai kata-kata, menjentikan jemari-jemariku pada papan qwerty di hadapan sebuah layar flat, yang aku tahu hanya bolpoin-bolpoin yang tinta hitamnya setiap hari kugoreskan pada berlembar kertas-kertas putih, yang kutahu hanyalah bagaimana aku bisa mencapai nilai-nilai baik kemudian kutnjukan itu sebagai sebuah hadiah kebanggaan kepadamu.
Tak ada yang lain selain itu, tak ada. Kau yang menyiapkan semuanya bu, kau dan tetes darahmu, kau dan cucuran keringatmu, kau dan lingkar hitam di matamu, kau dan tangismu yang tanpa kata-kata itu. Sementara tak ada yang mampu kulakukan selain semua hal-hal yang telah menjadi candu itu bu. Pada akhirnya aku menyaksikanmu terpuruk, jatuh dalam sakitmu, sebuah tubuh yang pada akhirnya meneriakkan lelahnya. aku tahu bu, itu batas di mana kau adalah manusia yang tak seharusnya hidup layaknya mesin. Apa yang harus kulakukan, apa yang harus anak tak bergunamu ini lakukan bu, sementara yang kutahu hanya menangis, menangis sebagai dalih bahwa aku ingin lari, mataku ingin lari, aku tak ingin melihat ibu yang telah cukup menderita karena mengandung dan melahirkanku harus kembali menderita untuk menuruti canduku. Benar, aku butuh anestesi bu, biar aku tak sadarkan diri, biar kau bisa sedikit membiarkan tubuhmu bahagia, biar tubuhmu tak lagi menangis.

everything will be fine :')
ReplyDeletecan u text me? I lost your number in my phone :(