anak bajang itu tak sampai pada kehendak juri, tak apa. aku tak menyesalinya, karena waktu kukirimkan Ia tak sekalipun terbesit sebuah piagam tertulis untuknya...inilah kisah bajang itu...kuletakkan di sini sebagai kehendak bahwa kau akan membahasakannya pada mata-mata lainnya...
Upacara si Bajang
Bajang, ya sudah bertahun-tahun sejak nama itu melekat sebagai julukan orang-orang dukuh padanya, seorang pemuda lugu, baik budi, dan taat adat. Ia hanya seorang pemuda biasa yang melewati fase pubertas seperti halnya aku, kau, ataupun remaja-remaja lainnya, mengalami kisah cinta yang romansanya memabukkan. Ah, aku hanya berpikir bahwa Ia terlalu sial.
Semua bermula dari Kanthi, kembang perawan putri kebayan di dukuh ini. Pertumbuhannya menjadi perawan jelita membawa petaka bagi si Bajang. Barangkali takkan jadi petaka jika saja waktu itu Bajang tak pergi ke alun-alun untuk melihat pertunjukan si lengger.
Ya di dukuh ini selalu mengadakan pertunjukan lengger setiap masuk bulan syura, kudapat cerita itu dari bapakku. Katanya bulan syura itu bulannya para jin dan dhemit, entahlah, aku juga tak tahu dari mana kisah seperti itu berawal, bapakku meyakini itu dan Ia selalu mengadakan rapat syura menggelar pertunjukan lengger, tujuannya jelas untuk melindungi dukuh dari ruh-ruh jahat. Ah, aku hanya melihatnya sebagai mitos kuno yang dipertahankan sampai era 21 ini. Betapa tidak, secara geografis saja dukuh ini terletak di pedalaman yang jauh jangkauan wilayah luar, orang-orang menamainya dukuh Jingkang, satu bagian paling kecil di Jawa Tengah. Sikap tertutup dan etnosentris masyarakat di dukuh ini membuat kebaruan lambat sampainya ke dukuh ini. Sikap itulah yang membuat seorang Bajang, pemuda seusiaku yang harus menanggung derita hidup karena cinta terlarang, lebih tepatnya kusebut itu sebagai mitos block, larangan yang fatal untuk dilanggar.
Aku selalu melihatnya di jalan ini, berjalan tanpa tujuan dengan tatapan mata kosong dan bulir-bulir luka yang tak orang lain pahami. Ia begitu mencintai seorang Kanthi sejak pertama kali mereka bertatap sapa. Nyanyian asmarandhana yang dinyanyikan sinden ternama dan tarian seorang lengger jelita yang tubuhnya melenggak-lenggok di atas panggung. Usia Bajang baru 15 tahun saat itu, lengger yang di atas panggung itu Kanthi, aroma kecantikannya menyihir Pram, pemuda yang kini kukenal sebagai Bajang. Ia mengalami pubertas pertama dan Kanthi menjadi puncak hasrat pertamanya bertumpu. Matanya tak sekejap pun lepas dari Kanthi yang menari indah di atas panggung, Pram terpaku, tak sedikitpun Ia bergerak dari tempatnya berdiri. Ia melupakan kambingnya yang belum Ia beri makan, juga segulung rumput yang seharian Ia cari, entah Ia lemparkan ke mana rumput itu.
Anestesi, ya Kanthi menjadi anestesi yang membius keluguannya dari awal. Usai pertunjukan, Pram tak lagi mendapati Kanthi di hadapannya, betapa mata itu membelalak ke sana ke mari, tapi Kanthi lenyap entah ke mana. Aku tahu, hati pram memburu meminta raganya berburu mencari Kanthi, tapi candu itu terhenti sejenak, Pram tersadar, suara kambing kesayangannya meliuk-liuk di udara dan sampai ke telinganya. Ia celingukan mencari gulungan rumputnya lalu terbirit-birit lari ke rumah.
Malam menjadi begitu sunyi sejak pertemuan tanpa dialog itu, Pram sadar bahwa candu itu belum seutuhnya hilang dari hatinya. Di langit-langit kamar yang tadinya hanya sawang bergelantungan di mana-mana, kini gambaran Kanthi menjadi begitu jelas di sana, senyumnya, tariannya.
Ya sejak saat itu Pram gila, kusebut itu sebagai gandrung asmara anak muda.
“koe kok emak liat dari tadi aneh Le” mak Sumi membuka percakapan malam itu.
“aku gandrung sama lengger itu mak” tukas Pram tanpa ragu, Ia mengatakan kebenaran dalam hatinya seperti biasa yang selalu Ia lakukan. Tak pernah ada yang disembunyikan pada emak tersayangnya itu. Mak Sumi tersenyum, Ia mulai ingin tahu anak perawan siapakah yang berhasil menjerat hati bujang sulungnya itu.
“sopo to Le?”
Pram hanya diam, siapa? Ya, pram tak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. sekarang justru Ia sendiri yang digentayangi pertanyaan itu, bukan hanya emaknya saja, tapi Ia pun ingin tahu siapa lengger yang sekarang begitu Ia gandrungi. Malam meninggi, Ia lelap bersama mimpinya.
Tak ada kupu-kupu yang masuk ke rumahnya atau kicau burung kutilang seperti pertanda-pertanda yang diyakininya juga masyarakat dukuh ini. Tapi, pagi-pagi begini di depan pintu rumahnya, pak Kebayan tengah berdiri menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. “pak Kebayan mangga, silahkan masuk” mak Sumi segera memepersilahkan tetangganya itu untuk masuk, meski Ia masih berusaha untuk menutupi rasa penasarannya akan kedatangan tetangga satu halamannya itu.
“mau ngunjuk apa pak Kebayan?ngupi? ngeteh anget?” tawar mak Sumi, pak Kebayan hanya menggeleng sambil melempar senyum arifnya. “ora usah lah mak, sudah ngupi tadi, jadi kedatanganku pagi-pagi begini, mau minta mak Sumi masak buat tahlilan di rumah, sama sekalian si Pram nanti malem disuruh ikut tahlilan mak” pa Kebayan mulai menjelaskan alasan kedatangannya.
“tahlilan opo to pak?”
“ini lho, mau nyewu almarhum si mbah, kebetulan Kanthi anak wadonku juga lagi di sini biasanya di rumah buliknya di Karang Asem” , mak Sumi mengangguk-angguk tanda mafhum dan menerima permintaan pak Kebayan.
Pram terpana, Ia hampir tak bisa menahan dirinya yang masih terpaku menatap gadis jelita di hadapannya. Pram lupa dengan bacaan-bacaan surat Yassin di hadapannya, Ia tersihir dengan kedatangan Kanthi. Berbeda dengan saat pertama Ia melihatnya, kini si jelita itu mengenakan pakaian tertutup dari ujung kepala sampai kaki, jilbab ungu lembayung membentuk wajahnya begitu asri.
Ah, lagi-lagi anestesi yang sempat tereduksi harus datang lagi, lebih hebat dibandingkan dengan satu waktu sebelumnya. Sekarang Ia tahu banowati itu Kanthi, putri sulung pak Kebayan yang tinggal bersama buliknya di Karang Asem sejak kecil. Satu sudut tak terkira Ia merasa bahagia, setidaknya keberadaan Kanthi dekat dengannya, rumah mereka masih satu halaman. Tetapi, seperti bara dilemparkan padanya tiba-tiba, ketakutan menyelusup dalam dadanya. Satu mitos block yang tak bisa dilanggar dengan alasan apapun. Ia meredam ketakutan itu cepat, nyatanya tembang asmarandhana terlampau kuat dalam jiwanya. Ia jatuh cinta dan itu cinta pertama, bara cintanya tak terkalahkan oleh apapun.
Dua tahun Pram dan Kanthi dimabuk asmara.
Sejak tahlilan di rumah pak kebayan, keduanya mempertemukan gelora cinta yang tak lagi mampu terbendung. Inilah kisah yang kutahu, Kanthi menolak kembali ke Karang Asem, Ia terlibat perdebatan sengit sepanjang malam dengan bapaknya karena Kanthi menolak melanjutkan sekolahnya. Pram, ya pemuda itulah yang menjadi ruh yang menarik Kanthi untuk tetap tinggal di dukuh ini. Asmara yang meluap-luap seperti halnya bagaskara merekah membawa warna kuning di ufuk timur, ah, keadaan itu terlalu hiperbola kupikir, tapi tak kupungkiri aku pun merasakannya. Namun, kubiarkan ini menjadi rahasiaku sendiri. Pram kawanku sejak kecil, saat Ia mabuk oleh kecantikan Kanthi di atas panggung, tak ada yang tahu bahwa aku telah terjangkiti asmara lebih dulu pada lengger jelita itu. Ketika Pram tersihir oleh Kanthi yang asri dengan balutan jilbab lembayungnya, aku telah mendapatinya lebih dulu sekeluarnya Ia dari kamar. Aku mabuk, ya, tapi kupendam itu untuk Pram.
Petaka itu memang sudah bermula sejak mereka bertatap sapa tanpa dialog. Pram bersikeras meminang Kanthi, berbagai cara Ia lakukan untuk membujuk mak Sumi agar mengijinkannya meminang banowati jelita itu. Mak Sumi menolak keras, bukan karena kemiskinan atau strata sosial yang masih berlaku di dukuh ini, bukan karena pak Kebayan seorang pamong desa dan mak Sumi hanya buruh masak dan buruh tani, bukan pula karena Kanthi anak terpelajar dan Pram cuma bujang angon yang pegewannya mengurus dan memberi makan kambing-kambing orang lain dengan upah satu anak kambing kecil kesayangannya, tapi dukuh mengutuk asmara mereka. Semua karena Pram dan Kanthi anak sulung, semua karena Pram dan Kanthi lahir di wekton yang sama, selasa pon, semua karena mak Sumi lahir di hari kapesan pak Kebayan, satu hari sial sebelum kelahiran seseorang, dan semua karena rumah mereka masih satu halaman, kami orang-orang di dukuh ini menyebutnya sebatur.
Asmara mereka terlalu berani melewati mitos block yang biasa orang-orang dukuh ini sebut sebagai tujuh besan. Apa yang akan terjadi ketika semua hal itu tetap dilanggar, tak ada yang tahu. Bapakku yang selalu mewanti-wanti agar aku tak pernah melampaui larangan itu, atau salah satu dari kedua besan meninggal, bahkan pernikahan akan berujung petaka tiada henti, entahlah, aku sendiri tak yakin dan meyakini bahwa semua hanya mitos yang leluhur kami tinggalkan sebagai warisan budaya, tapi sampai sebesar ini tak ada seorangpun di dukuh ini yang berani melanggarnya.
Nyatanya, pernikahan itu tetap terjadi, tak ada yang bisa menahan gairah cinta yang luapannya melebihi lautan itu, tak ada seorangpun, bahkan pak Kebayan dan mak Sumi. Semua orang pasrah dengan kenekatan Pram dan Kanthi. Juga aku yang masih diam di sini mengirim doa untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka. Tidak, tak ada keberanian menyaksikan lembayung pujaanku dipinang kawanku sendiri.
Sejak awal aku tahu bahwa romansa mereka hanya akan berakhir dengan penolakan dan kutukan dukuh ini. Aku tahu mitos block itu, kukira mereka takkan menjadi manusia-manusia bodoh yang dibutakan oleh cinta dan rela mengorbankan diri dan keluarga untuk melanggar mitos block itu. Sebagai seorang terpelajar inilah trik yang kugunakan, aku tak bisa melepaskan kecintaanku pada Kanthi begitu saja. Sejujurnya kelicikanku ini berbuah batu yang pada akhirnya terlempar ke diriku sendiri, tak ada Kanthi cintaku, yang kudapati hanyalah nyinyir darah mengalir di hatiku, pilu.
Sehari setelah pesta pernikahan sederhana Pram dan Kanthi, orang-orang ramai menggunjing di mana-mana. Katanya Pram dan Kanthi akan segera menerima kutukannya setelah 40 hari pernikahan, katanya lagi salah satu dari orangtua mereka akan mati segera setelah pernikahan, petaka akan datang ke dukuh ini, dan rupa-rupa gunjingan lainnya. Seperti kata-kata mereka lebih tepat kusebut sebagai harapan dari diri mereka sendiri. Harapan untuk menunjukan kebenaran mitos itu, harapan agar petaka dapat membuka mata orang lain tentang kekuatan mitos yang sangat terlarang untuk dilanggar.
Benar saja, kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, saat mak Sumi lalu meninggal setelah seminggu pernikahan Pram dan Kanthi. Tidak, bukan karena aku sakit hati atas pernikahan mereka lalu aku membenarkan kematian mak Sumi karena pernikahan terlarang mereka, aku bahkan memanggil mantri dari kecamatan untuk memeriksa kematian mak Sumi yang tiba-tiba itu. Secara medis mantri itu mengatakan bahwa mak Sumi meninggal karena komplikasi jatung. Tapi, kau mungkin tahu bahwa orang-orang dukuh ini begitu tergila-gila pada mitosnya sendiri, tabiat etnosentris yang tak pernah luntur meski teknologi di luar sana sudah didengung-dengungkan, meski modernisasi telah membumi.
Kematian mak Sumi menjadi misil yang meluncur secepat kilat, senjata ampuh untuk orang-orang makin menyalahkan kebutaan Pram dan Kanthi akan asmara mereka yang jahanam.
Kebodohan Pram membuat Ia percaya akan keyakinannya pada mitos block itu, bahwa emaknya meninggal karena karma atas kesalahan yang Ia buat, bahwa pernikahan dan kebutaannya terhadap Kanthi membawa petaka yang nyata. Ia tak pernah sekalipun melanggar larangan adat selama ini, ketika menaruh kayu bakar ke dalam tungku Ia menaruh ujungnya dulu “pamali” katanya, tak pernah melewatkan sekalipun bubur putih setiap hari wektonnya, dan selalu membawa rajahan, sesambet yang dibuat dari tumbukan berbagai macam tanaman langka, Pram selalu membawa kemanapun Ia pergi kecuali saat buang air. Sekali ini saja, cinta membutakan dan melepaskan keyakinannya.
Ya, candu itu terlalu kuat, tapi tak ada yang salah dengan itu, tak ada yang salah dengan asmaranya itu, andai Ia tahu bahwa Ia tak harus menghukum dirinya sendiri karena kematian mak Sumi, andai Ia sedikit mengenal ilmu pengetahuan. Ia tak harus menjadi seperti sekarang ini. Setahun usia pernikahannya dengan Kanthi, tak ada tawa, yang ada hanya renungan dan kemurungan Pram setiapa hari. Ia makin menjadi pendiam, Kanthi tak lagi dipedulikannya, bahkan meski jabang bayi dalam perut istrinya itu makin membesar. Ia tak ada bedanya dengan mayat, badan yang kosong setelah ditinggalkan ruhnya. Menahan derita rasa bersalah atas kematian emaknya.
Tak ada lagi yang bisa dilakukan Kanthi, juga tak ada yang bisa kulakukan untuknya. Terkadang aku mengutuki diriku sendiri yang membiarkannya dinikahi Pram, tapi sesal tak berarti apa-apa kecuali kehampaan yang berujung rasa bersalah. Derita batin yang dirasakan Kanthi membuatnya harus meregang nyawa saat melahirkan si bajang, hasil penyatuan gelora asmara Pram yang Ia tanamkan pada sel telur Kanthi dengan cinta dan gairah buta. Namun, si bajang pupus, rupanya Ia telah mati sejak dalam rahim Kanthi. Nelangsa, si bajang yang lahir dan mati tanpa upacara.
Kejadian itu membuat Pram makin gila, makin lengkap agaknya Ia mengutuki diri sendiri dengan rasa bersalahnya. Petaka itu benar-benar terajadi. Mak Sumi dan Kanthi pupus atas keyakinan Pram pada adat yang dilanggarnya, juga Bajang, jabang bayi buah asmara yang tak sempat Ia ciumi. Kisah ini lalu menjadi legenda ketika Pram mengerang tiap malam buta menyebut nama “Bajang...Bajang” dan orang-orang memanggil Pram yang gila dengan nama “si Bajang”, pemuda lugu, baik budi, dan taat adat yang dikutuk karena kebutaannya pada asmara.
Kini Bajang menjadi legenda hidup yang dicibir banyak orang. Di sawah para petani mencangkul dan menanam padi sambil mendengungkan legenda itu pada para bujangnya. Di pasar para Ibu selalu mengisahkan tentangnya sebagai bumbu transaksi, tawar menawar, ah petaka yang tak berkesudahan itu menjadikan Bajang alias Pram kawanku sebagai seorang pendosa besar yang dirasa pantas dikutuk adat. Dukuh ini mendapat imbasnya juga, sebagai seorang yang cukup mengenal ilmu pengetahuan kukatakan bahwa kematian dan kelahiran adalah rahasia-Nya yang tak bisa diduga-duga, tapi mereka justru makin bergairah untuk melemparkan murka ini pada Bajang.
Sejak hari kematian Kanthi banyak bayi yang tiba-tiba mati dalam perut ibunya, ada yang mati saat masih berusia seminggu, ada yang mati setelah setahun, ada juga beberapa bayi yang hilang dan tak pernah ditemukan samapi sekarang. Ya Bajanglah yang menjadi biangnya, pelangggarannya pada tujuh besan, perikahannya dengan Kanthi, menjadi alasan kuat untuk melemparkan Bajang ke kurungan upacara syura, upacara lengger untuk membebaskan dukuh dari jin dan dhemit, membebaskan dukuh dari ruh-ruh jahat. Ini syura ke tiga setelah kematian Kanthi, juga sejak hari di mana Pram menjadi Bajang, pemuda gila yang kakinya dipenuhi koreng, pemuda gila yang bau bacinnya selalu membuat orang-orang muntah, pemuda gila yang tiap hari berjalan dari satu dukuh ke dukuh lainnya lalu kembali ke dukuh ini pada malam harinya sambil mengerang-erang seperti harimau lapar terkena jebakan. Diteriakannya nama “Bajang” berkali-kali setelah itu Ia menangis hingga dini usai.
Ya, kuceritakan ini padamu, atas kesaksian yang kudapati kala itu.
“bajang...bajang..” begitulah teriaknya, Pram kawanku atau Bajang si gila itu meronta saat dipaksa masuk ke dalam kurungan dan diikat tali bambu yang tajam. Semua warga dukuh menyaksikannya juga pak Kebayan dan keluarganya.
Aku tak bohong, memang benar sorot mata pak Kebayan memancarkan kesenduan, air matanya berurai. Aku tahu Ia tak pernah menyalahkan menantunya itu.
“semua kehendak gusti Allah” katanya saat dulu Kanthi meninggal.
Wajahnya menjadi begitu pias saat Bajang mulai disiram air garam dan dirajah. Ada janur kuning gading dari pohon kelapa yang tak pernah berbuah dan kemenyan yang dibakar dengan daun cengkih. Beberapa lengger siap menari diiringi tembang-tembang macapat, pupuh jawa yang bercerita alur hidup manusia dari lahir sampai akhirnya meninggal. Pak Kebayan tak tahan lagi melihat anak menantunya diperlakukan seperti dhemit yang harus dilenyapkan.
Aku cukup mengenalnya bahwa Ia adalah seorang pendatang dari Karang Asem, desa yang kental paham keagamaannya, Ia bukan seorang penganut Islam kejawen seperti yang dianut oleh warga dukuh ini. Kulihat saat Ia bergegas menemui Bapakku yang tengah menyiapkan cemeti warisan nenek leluhurku, ya kau pasti bisa menebaknya untuk apa cemeti itu, tentu saja untuk mencambuki si Bajang dalam kurungan.
“pak kadus, tolong lepaskan saja si Pram, tak ada gunanya kita menyiksa seseorang yang sudah tidak waras pikirannya, dia bukan pembawa petaka, semua sudah digariskan gusti Allah pak” pinta pak Kebayan pada Bapakku. Kulihat matanya merah menahan tangis, tapi Bapakku tak bergeming, seperti halnya Pram dulu, Ia seorang yang tak pernah melanggar adat sekalipun, seperti yang selalu Ia nasehatkan padaku untuk tak pernah melanggarnya, tapi aku tak tahan hidup dalam pengekangan, itulah sebabnya aku memilih merantau dan berkelana mencari ilmu. Bapakku meninggalkan pak Kebayan tanpa kata-kata, dengan cemeti ditangannya Ia naik ke atas panggung di mana lengger tengah menari dan sinden telah sampai pada tembang ke sebelas, tembang terakhir dalam macapat, Bapak Pocung, kisah perjalanan terakhir seorang anak manusia ialah kematian.
Di antara riuh warga dukuh yang ngeri sekaligus puas melihat Bajang dicabuki berkali-kali sampai koreng-koreng di kakinya mengelupas dan berdarah. Bau amis dan bacinnya sampai ke mana-mana, lengger masih terus menari, dan tembang Bapak Pocung belum berakhir. Pram mengerang kesakitan, tubuhnya gontai, di antara gelap matanya, Ia mendapati cahaya terang yang memancar di hadapnannya. Angin berhembus meniupkan kesejukan pada tubuhnya yang perih oleh cemeti pak kadus, Pram melihat lembayung berjatuhan di hadapannya, bunga terindah yang telah lama tak Ia saksikan, lengger yang tengah melenggak-lenggok itu menjelma menjadi banowati yang Ia rindu selama tiga Syura ini, Kanthi.
Pram menyaksikan Kanthi menari dengan senyumannya yang begitu indah, juga wajah jelita yang begitu Ia rindu seperti saat pertama kali Ia melihat perawan jelita itu.
Pak Kebayan tertunduk lesu, getir di hatinya seperti saat Ia kehilangan Kanthi, putri sulungnya juga cucu pertama yang tak sempat Ia gendong itu. kini kegetiran itu terulang kembali, percikan bulir asin dari matanya tak terbendung lagi, lebih nelangsa, pada akhirnya Ia harus kehilangan Pram, menantu yang tak sempat Ia kasihi selayaknya. Si Bajang pupus dalam upacara Syura.
Bandung, April 2012

sayang, font nya terlalu kecil dan lebih baik teksnya rata aja, pake justify... biar enak dibaca hehe
ReplyDeletesemoga dengan adanya tulisan ini meminimalisir hadirnya 'bajang'-'bajang' selanjutnya :)
ReplyDelete