inilah goresan entah yang ke sekian...aku tak peduli,,aku tak ingin peduli. aku menangis di antara riuh tawa, aku sendiri heran dengan apa yang kutangiskan, "menangis itu wajar" kata kawanku,,,tapi kataku, itu hanya sekedar pembenaran atas lelah-lelahku yang kukeluhkan...aku menyesal,,,aku menyesal untuk memohon pada manusia yang tak kan melirik air mataku,,,aku tak akan melakukan kebodohan itu lagi...
Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit. Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih. Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...
Comments
Post a Comment