Skip to main content

hujan kembali deru

di kota itu, dulu kita sama-sama asing. ada yang menarikku pada sebuah dunia yang sama-sama kita singgahi kini. kau tahu El? kita sama-sama mengelana pada kehampaan, di mana langit menjadi begitu gelap dan hujan lagi-lagi penuh deru. El, aku pulang pada keputusasaan, pada pilihan hidup yang mungkin saja absurd...tapi, bukankah katamu hidup bukan hanya persoalan pilihan? atau kebebasan yang barangkali kini tak lagi kutemui. aku mantap, ingin keluar! pagi tadi tepatnya, tapi kau tahu El? hujan menderas, lagi dan lagi. kau sendiri tahu aku terlanjur tergila-gila pada hujan, lalu menganggapnya begitu penting. lantas ke mana kemantapan itu menguap? apakah harus kucari-cari di udara yang kadang hampa-nya sendiri adalah enigma...aku bisa makin gila El, karena hujan ini tak juga menyusut.

Comments

  1. aku baru baca...hhh, kau benar nes, setiap orang punya keistimewaan buat jalan hidup yang mereka pilih. salah--> maksudku aku juga tak berhak mencampuri kehidupan mereka, sayangnya barangkali aku terlalu rempong buat ngarepin mereka juga peduli padaku ness,,,muak...ness, aku kacau, makin hari pikiranku makin ruwet, kuharap kamu ngga bosen dengerin celotehanku yang tolol dan konyol, aku mungkin bisa berdamai dengan lukaku, tapi sulit buat berdamai dnegan luka ibuku nes.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.