Kami sering melakukan ini, menertawakan nasib dan
meringis di tengah rasa sakit. Ya, aku dan ibuku. Hari ini pun sama, sambil
berbisik seolah suara kami bisa membangunkan serigala, ibuku menolak sebungkus nasi
yang sengaja aku beli di jalan tadi. Ibu hanya mengambil obat pesanannya,
sambil tergesa meninggalkanku dan sekantung makanan yang kuberikan padanya. “Udah,
bawa pulang aja. Di sini banyak makanan.” Ucapnya berbisik dari balik
gerbang. Rasa-rasanya, aku ingin menghantam gerbang besi itu, merobeknya, lalu
meniupnya serupa debu. Supaya aku bisa melihat wajah ibuku lebih jelas
tentunya. Tapi, gerbang itu tetap gagah, menjulang seolah penguasa rimba. Ia seperti
memasang wajah nanar dan mengeryitkan dahinya padaku. “Hei, kau anak tak berguna,
bagaimana mungkin kau bisa mengalahkanku.” Suaranya menggelegar. Aku benci
padanya, ya, dan suatu hari, aku berjanji, akan kurobohkan gerbang sialan itu.
Ibu terus memaksaku untuk cepat pergi, sebab majkannya
sedang ada di rumah. Akan jadi urusan yang memusingkan kalau ia tahu aku ada di
sana. Aku pun mengikuti caranya, berbisik dan memaksanya menerima makanan yang
sengaja kubawa. Sebab aku tahu, tak pernah ada makanan di dapur untuknya. Itulah
kenapa ia lagi-lagi jatuh sakit seperti sekarang ini. Ini seperti parodi. Sungguh.
Bagaimana bisa percakapan ibu dan anak yang tak pernah melakukan kesalahan
apapun harus dalam bentuk paling nista serupa itu, berbisik agar tak ada yang
mendengar. Toh kami tidak sedang menggelapkan uang bermilyar-milyar seperti
mereka yang selalu ayahku bicarakan. Aku dan ibu tertawa lirih, sejenak. Tapi,
kami menangis setelahnya. Ibu menerima makanannya setelah melihatku putus asa.
“Ini untuk minum
obat bu,” tukasku pasrah.
“Bagaimana bisa
ibu minum obat dengan perut kosong kerompong begitu, nanti jadi tambah sakit.”
Ya, ibu akhirnya menerimanya, tapi setelah itu ia sibuk
mencari tempat di dekat garasi untuk menyembunyikan makanan itu.
“Nanti
kalau si nyonya udah ke kamar, ibu ambil diam-diam.” Pungkas ibu sembari
menyelusupkan makanan itu ke balik bangku panjang di garasi. Aku hanya diam
melihatnya, sampai ibu melambaikan tangan
pertanda sudah waktunya ia harus masuk lagi ke rumah durja itu dan menyuruhku
pulang.
Aku meninggalkan gerbang agar ibu
tenang. Tak berapa lama, aku kembali lagi dan menatap rumah itu lama. Di sana,
ibuku yang malang menjadi seorang serdadu. Ia berperang dengan rasa lapar hanya untuk mengeyangkan perutku. Ia
yang malang, telah jatuh sakit berkali-kali dan kali ini pun sama. Aku
meninggalkan tempat itu dengan nyeri di sekujur tubuhku. Anjing tetangga
sebelah rumah itu menyalak keras sekali. Bahkan anjing pun menyalak saat ia
terancam dan tersakiti.
Sepanjang jalan aku berpikir keras
sekali. Tapi berpikir tak membuatku jadi berguna seketika. Pikiranku hanya
mengelana kemana-mana. Kukira, ibuku hanyalah seorang biasa, wanita biasa yang
menginginkan kehidupan biasa saja. Pernah sekali aku berpikir untuk lari. Kukira
dengan begitu, setidaknya ibu berhenti mengorbankan dirinya dan kembali
mendapatkan haknya sebagai seorang manusia. Ia berhak hidup dan berhak menerima
kedamaian. Tak sekalipun ibu mengeluhkan segalanya. Segala kehidupan dari
langit yang diterimanya. Ia yang kemudian dihianati oleh kebebasannya sendiri. Ia
yang dicurangi nasib. Tapi, ia selalu menunjukan satu hal padaku. Ia nrimo, menerima segalanya, legowo, sebab ini telah menjadi
takdirnya.
Pernah suatu malam, ia mengirimkan
pesan padaku, karena sakit yang sangat, ia yang biasa menahan segalanya,
kemudian meluruhkan tangis dan mengatakan padaku betapa ia merasa sendiri,
sepi, dan tak baik-baik saja. Ia hanya wanita, tetapi mengapa ia harus menjadi
kuda yang mengantar kereta ke mana saja. Ia merasa sebatang kara dan sedih. Seperti
seorang tuna famili, tuna sanak saudara. Ketabahannya meluruh bersama tukak
labung yang menyiksa. Kepedihan yang ia pendam bertahun-tahun membuncah seperti
lahar. Panas dan melepuhkan hati. Hatiku tentu saja.
Aku terluka dan merasa marah. Marah yang
memuncak dan membakar apa saja. Tapi, aku lupa, aku tak berhak marah. Tak ada
siapapun yang berhak kumarahi. Ya, kecuali diriku sendiri. Aku menyesali
mimpi-mimpi yang selama ini kubangun tanpa tahu malu. Aku menyesali
harapan-harapan yang tak berhak dimilki orang sepertiku. Tapi, ia, wanita itu,
bukan ibuku kalau ia tak mampu berbohong dengan sempurna. Ia menepuk kepalaku,
membelainya lembut dan mengatakan bahwa yang bisa menolongnya adalah
mimpi-mimpiku. Ia menghiburku, bahkan di tengah segala rasa sakitnya ia masih
menghiburku dan tertawa. Aku tahu, ia tengah menangis saat itu.
Kini, tawa itu telah menjadi semacam kebiasaan kami berdua. Menertawakan nasib yang durja. Menertawakan kepedihan
kami. Kami tertawa sebab hidup kami selalu serupa parodi.
Sisa Gerimis, 2014
Comments
Post a Comment