Skip to main content

Lost

Lalu pada akhirnya el, kehilangan menjadi lebih menyakitkan manakala kita menyadarinya lebih dulu sebelum  ia benar-benar hilang. Sebab aku merasa pernah memiliki memori sekuat dinding rumah ini, karenanya aku begitu yakin bahwa satu di antara kita akan mengerti, betapa bermaknanya segala yang terbangun dan teramu dalam pertemanan. Kukira el, berceloteh akan membuat keyakinan satu sama lain terbangun kembali. Aku ingin memeluk mereka, mengatakan betapa "mereka tak perlu sendiri". 

Sempat aku bertanya el, barangkali pada Tuhan, atau padamu, mengapa ada lubang menganga di dadaku, mengapa air mata menderas. Barangkali inilah jawabanya el, "aku kehilangan, sesuatu paling berharga."

*Sepiring nasi liwet tak pernah begitu seberharga ini, yang gagal kumakan dan aku terluka, ya sepiring nasi liwet, yang kepadanya aku menaruh harapan mendengar banyak hal... 

Comments

  1. Tentang *Nukil Kisah Margadana* : Saat engkau mengomentari catatanku *Suatu saat akan ku katakan pada ayah dan ibumu*, aku mulai berpikir, apa dia yang dalam sujud-sujudku terbayang sedang berdoa, lalu dengan kasih-Nya, aku disuruhnya lebih dulu berkelana dalam rimba cinta dengan 2 jurang kegagalan yang menyakitkan? Kemudian dengan tenang-Nya, aku disuruh untuk mengalir padamu dan Ia seakan berkata malam itu : Ini lho, yang banyak berdoa pada-Ku agar kau (aku) mendengar rintihan hatinya.
    Dan aku pun tak bisa marah pada-Nya - saat engkau memilih ia, Dia yang begitu doyan *menjahiliku*, bercanda denganku, satu-satunya manusia yang tetap tertawa meski terjatuh dalam penderitaan neraka. (hehehe)

    Akan aku tebus kesalahanku, dear..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.