Ada banyak hari di mana kita telah menghabiskan berbagai moment, menikmatinya, menertawakannya, mungkin saja menangisinya, 'bersama'. Tapi, hanya ada sedikit hari di mana kita akan lupa bahwa kita adalah bagian dari 'kebersamaan' itu. Barangkali hari ini adalah bagian dari yang sedikit itu. Bukankan memang benar? teman hanyalah orang asing yang tiba-tiba bertemu, yang tiba-tiba bersamanya kita menjadi konyol? yang kemudian bersamanya kita memiliki candaan baru. Terkadang, ya, terkadang, dan terkadang adalah berarti tidak selalu, kita mulai berharap segala yang lebih. Berharap bahwa 'kebersaman' itu akan menghapus luka kita, menyeka air mata kita, atau mungkin memeluk kita dengan mesra dan hangat. Ada kalanya kita begitu kecewa manakala justru pada titik di mana kita membutuhkan 'kebersamaan' itu, ia menguap serupa didih air. Ada kalanya kita mulai berpikir untuk sendiri, sebab kesendirian nyatanya jauh lebih aman dan nyaman. Tidak ada yang peduli dan harus dipedulikan. Ya, manusia masih dan masih jadi makhluk yang mengerikan. Satu kata 'kebersmaan' yang sampai beberapa waktu lalu masih terdengar dekat, menjadi begitu asing dan menyakitkan. Kita kembali menjadi diri kita yang sibuk dengan kehidupan kita sendiri, sibuk dengan berbagai tuntutan yang memberangus diri kita masing-masing, dan barangkali sibuk dengan orang asing yang kemudian menjadi lebih dekat dan lebih hangat. Aaaaaaah...kita.
Hari ini kita menukar 'kebersaman' dengan 'ego' paling 'durja' justru di titik di mana 'kebersamaan' itu dibutuhkan, sebab kita tak pernah tahu ada di pangkal kegelapan sebelah manakah hati kita.
Suatu hari, ya, akan datang hari di mana kita akan kembali saling merindu, saling peduli, dan saling memeluk satu dan yang lain. Akan ada hari di mana kita tak pernah ingin menukar 'kebersamaan' itu dengan 'kesedirian' semanis apapun. Akan ada hari di mana persahabatan jauh lebih indah dibanding keasingan. Akan ada hari di mana kita akan kembali menghargai bahwa tanpa satu sama lain, tak pernah ada yang utuh. Akan ada hari di mana kita kembali berteriak saling meminta bantuan, memaksa dalam canda, atau kesal tapi tetap peduli. Akan ada hari di mana di frame itu, kita benar-benar utuh. Akan ada hari di mana kita kembali saling mendengar dan saling bercerita, cerita apa saja, tentang hidup, tentang luka, tentang bahagia. Akan ada hari di mana kita akan kembali membuka diri dan saling menepuk bahu, berpeluk erat.
Akan ada hari di mana kita yakin bahwa tak ada yang meninggalkan kita, selain diri kita sendiri.



Comments
Post a Comment