Skip to main content

Terkadang Kita...

Ada banyak hari di mana kita telah menghabiskan berbagai moment, menikmatinya, menertawakannya, mungkin saja menangisinya, 'bersama'. Tapi, hanya ada sedikit hari di mana kita akan lupa bahwa kita adalah bagian dari 'kebersamaan' itu. Barangkali hari ini adalah bagian dari yang sedikit itu. Bukankan memang benar? teman hanyalah orang asing yang tiba-tiba bertemu, yang tiba-tiba bersamanya kita menjadi konyol? yang kemudian bersamanya kita memiliki candaan baru. Terkadang, ya, terkadang, dan terkadang adalah berarti tidak selalu, kita mulai berharap segala yang lebih. Berharap bahwa 'kebersaman' itu akan menghapus luka kita, menyeka air mata kita, atau mungkin memeluk kita dengan mesra dan hangat.  Ada kalanya kita begitu kecewa manakala justru pada titik di mana kita membutuhkan 'kebersamaan' itu, ia menguap serupa didih air. Ada kalanya kita mulai berpikir untuk sendiri, sebab kesendirian nyatanya jauh lebih aman dan nyaman. Tidak ada yang peduli dan harus dipedulikan. Ya, manusia masih dan masih jadi makhluk yang mengerikan. Satu kata 'kebersmaan' yang sampai beberapa waktu lalu masih terdengar dekat, menjadi begitu asing dan menyakitkan. Kita kembali menjadi diri kita yang sibuk dengan kehidupan kita sendiri, sibuk dengan berbagai tuntutan yang memberangus diri kita masing-masing, dan barangkali sibuk dengan orang asing yang kemudian menjadi lebih dekat dan lebih hangat. Aaaaaaah...kita.

Hari ini kita menukar 'kebersaman' dengan 'ego' paling 'durja' justru di titik di mana 'kebersamaan' itu dibutuhkan, sebab kita tak pernah tahu ada di pangkal kegelapan sebelah manakah hati kita. 

Suatu hari, ya, akan datang hari di mana kita akan kembali saling merindu, saling peduli, dan saling memeluk satu dan yang lain. Akan ada hari di mana kita tak pernah ingin menukar 'kebersamaan' itu dengan 'kesedirian' semanis apapun. Akan ada hari di mana persahabatan jauh lebih indah dibanding keasingan. Akan ada hari di mana kita akan kembali menghargai bahwa tanpa satu sama lain, tak pernah ada yang utuh. Akan ada hari di mana kita kembali berteriak saling meminta bantuan, memaksa dalam canda, atau kesal tapi tetap peduli. Akan ada hari di mana di frame itu, kita benar-benar utuh. Akan ada hari di mana kita kembali saling mendengar dan saling bercerita, cerita apa saja, tentang hidup, tentang luka, tentang bahagia. Akan ada hari di mana kita akan kembali membuka diri dan saling menepuk bahu, berpeluk erat.

Akan ada hari di mana kita yakin bahwa tak ada yang meninggalkan kita, selain diri kita sendiri.







Comments

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.