Skip to main content

Sad

El, kapan kau datang dan membasuh segala air mata?
Bu, apa yang harus kulakukan agar kehidupan tak selalu mengkhianatimu?

Pada akhirnya, diam menjadi jalan paling kejam yang bisa kulakukan untukmu bu. Aku pernah berpikir untuk segera menemukan seseorang yang kepadanya dapat kuceritakan segalanya tentangmu, tentang lukamu, tentang hak-hakmu yang tak pernah kau dapatkan. Tapi, kukira cerita tentang kita selalu menjadi hal paling lapuk dan membosankan untuk oranglain. Aku memilih diam bu, lalu menenggelamkan segalanya dalam sunyi. Pernah pula aku berpikir bahwa manusia semacam itu akan datang dalam kehidupanku, kehidupan kita, serupa cahaya yang menyala dan menarik kita dari kegelapan bu. Tapi, kukira tak ada manusia seperti itu bu, ia takkan datang, atau paling tidak barangkali butuh waktu yang lama untuk menunggunya datang. Barangkali pula, ia akan datang ketika segala air mata telah kering dengan sendirinya dari mata kita bu. 

Apa yang harus kulakukan bu, manakala kau terluka dan aku hanya diam menulis sampah ini. 

Comments

  1. dia akan datang, pada waktu yang tepat. sambutlah dengan do'a

    ReplyDelete
  2. Tuhan selalu membasuh air matamu dengan tanganNya...
    Suatu hari, Dia akan meminjamkan tanganNya pada seseorang untuk menghapus air matamu, meski mungkin ia tak akan mampu menghapus segala kesedihan... Tuhan mengerti, tapi Ia menanti...

    *nunjuk ke atas*

    hahhahaaa... kabuuuurrrr

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.