Skip to main content

Kepada Ayah

Ayah, entah telah berapa lama kita tak menghabiskan malam di ruang tengah rumah kecil kita sambil bercerita, bercerita apa saja, segalanya. Aku ingat, sewaktu kecil, meski jauh, kau selalu mengajarkan padaku bagaimana segalanya akan terasa menyenangkan dan ringan jika dibicarakan. Ya, mungkin kaulah orangnya, lelaki pertama yang kucintai dan kucelotehi apa saja. Kau dengarkan sekalipun itu hal-hal tak penting. Aku belajar bahasa darimu dan aku belajar keteguhan cinta dari ibu. Meski keluarga kita tak sempurna, meski keluarga kita tak pernah utuh, meski seringkali aku melihat bagaimana bahasa menjadi begitu memuakkan manakala kau dan ibu bertengkar, tapi kasih sayang mengikat kita jauh lebih erat dibanding luapan emosi dan ego. Pernah suatu malam, di ruang tengah, di depan televisi, ketika kita utuh, Ibu, juga si Lanang, kau mulai menanyakan hal-hal serius, dan kau sebut namanya. Ada banyak cara untuk menyakiti seseorang, tapi hanya ada sedikit cara untuk membahagiakannya, katamu lembut. Sungguh, bagiku yang selalu saja papa menerjemahkan ucapanmu, itu kalimat terindah yang pernah kudengar. Aku menangis, bukan karena aku ingin memaksakan segalanya dengan segera Ayah, aku menangis karena menyadari betapa kau yang arif selama ini selalu luput dari hatiku yang dilumuri amarah. 

Ayah, kini bocah kecil yang selalu merengek minta kau dengarkan ini telah besar rupanya, tapi tak cukup dewasa. Aku tak berpikir tentang membangun sebuah kehidupan bersama orang asing untuk meninggalkanmu, ibu, ataupun Lanang kecil kita. Aku hanya berpikir untuk melengkapi keluarga kita yang tak pernah utuh rasanya. Tapi rupanya Yah, aku yang terlalu lugu. Kehidupan tak hanya dibangun dengan kesenangan semata. Atau sebuah keinginan yang terlalu menggebu-gebu. Aku tak berpikir bahwa dengan keinginan demikian kehidupan seseorang dipertaruhkan, juga mimpi-mimpinya. 

Ayah yang tak pernah lelah mendengarkanku, terimakasih telah mengajarkanku berkata-kata, sungguh kepadamu aku ingin berbicara, apa saja, segalanya.

Comments

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.