Ayah, entah telah berapa lama kita tak menghabiskan malam di ruang tengah rumah kecil kita sambil bercerita, bercerita apa saja, segalanya. Aku ingat, sewaktu kecil, meski jauh, kau selalu mengajarkan padaku bagaimana segalanya akan terasa menyenangkan dan ringan jika dibicarakan. Ya, mungkin kaulah orangnya, lelaki pertama yang kucintai dan kucelotehi apa saja. Kau dengarkan sekalipun itu hal-hal tak penting. Aku belajar bahasa darimu dan aku belajar keteguhan cinta dari ibu. Meski keluarga kita tak sempurna, meski keluarga kita tak pernah utuh, meski seringkali aku melihat bagaimana bahasa menjadi begitu memuakkan manakala kau dan ibu bertengkar, tapi kasih sayang mengikat kita jauh lebih erat dibanding luapan emosi dan ego. Pernah suatu malam, di ruang tengah, di depan televisi, ketika kita utuh, Ibu, juga si Lanang, kau mulai menanyakan hal-hal serius, dan kau sebut namanya. Ada banyak cara untuk menyakiti seseorang, tapi hanya ada sedikit cara untuk membahagiakannya, katamu lembut. Sungguh, bagiku yang selalu saja papa menerjemahkan ucapanmu, itu kalimat terindah yang pernah kudengar. Aku menangis, bukan karena aku ingin memaksakan segalanya dengan segera Ayah, aku menangis karena menyadari betapa kau yang arif selama ini selalu luput dari hatiku yang dilumuri amarah.
Ayah, kini bocah kecil yang selalu merengek minta kau dengarkan ini telah besar rupanya, tapi tak cukup dewasa. Aku tak berpikir tentang membangun sebuah kehidupan bersama orang asing untuk meninggalkanmu, ibu, ataupun Lanang kecil kita. Aku hanya berpikir untuk melengkapi keluarga kita yang tak pernah utuh rasanya. Tapi rupanya Yah, aku yang terlalu lugu. Kehidupan tak hanya dibangun dengan kesenangan semata. Atau sebuah keinginan yang terlalu menggebu-gebu. Aku tak berpikir bahwa dengan keinginan demikian kehidupan seseorang dipertaruhkan, juga mimpi-mimpinya.
Ayah yang tak pernah lelah mendengarkanku, terimakasih telah mengajarkanku berkata-kata, sungguh kepadamu aku ingin berbicara, apa saja, segalanya.
Comments
Post a Comment