Terkadang, untuk mendapatkan sedikit kebenaran, kita perlu melakukan banyak kesalahan. Boleh jadi, selama ini kita begitu angkuh el, merasa diri paling benar, dan merasa segalanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Aku lupa el, kita tak sedang menjalani hidup sendiri atau hanya aku dan kau saja. Kita berteman dan menjalin banyak hubungan dengan manusia lain. Tidak ada satu orang pun yang tak ingin dipahami karakter dan cara mereka menjalani kehidupan. Maka katanya, untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain kita harus tahu bagaimana cara menerimanya. Memberi ruang kepada mereka akan membuat mereka jauh lebih nyaman dibanding harus mengekang mereka dan memaksa agar mereka memahami kita juga, el. Aku kira akan datang giliran kita el, waktu di mana mereka akan memahamiku juga kau. Tapi tak perlu dipakasakan. Kesadaran akan datang pada mereka yang mau menerima bahwa aku dan kau ada.
Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit. Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih. Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

ngg... ngerasa familiar dg tulisan ini ya.. dejavu kali ya LOL :*
ReplyDelete