Skip to main content

Sekerut Dahi untukmu El, Aku Rindu

Hei el, lama rasanya kita tak menghabiskan malam dengan secangkir kopi, tumpukan buku, dan imajinasi. Rupanya buku telah menjadi begitu asing bagiku. Lama rasanya kita tak membahasakan kehidupan. Terlalu lama kau tak mampir dan menepuk kepalaku yang keras ini. Sungguh, kepala ini tak lagi sekeras batu, tapi ia jauh lebih rapuh dari yang bisa kau duga. Apa yang membuatnya rapuh el? apa karena ia terlalu menikmati hari-hari yang nyaman? Kenapa ia mudah meluapkan kesedihan dan melankolia? Apa karena ia tak lagi sadar betapa berharganya setetes air mata itu? Mengapa ia tak lagi pandai menyembunyikan segalanya sendiri dan menjadi kuat? Apa karena ia tak lagi mampu mengungkapkan segalanya padamu? Karena ia tak lagi mampu memilih bahasa paling sederhana untuk mengurangi gumpalan asing di dadanya? Atau karena ia tak lagi mampu berdiri di atas kakinya sendiri hingga ia harus bergantung pada mimpi dan keinginan manusia lain, el?
Sungguh, kepala ini tak lagi sekeras batu.
Barangkali aku telah berubah terlalu banyak. Bukan, kita, kau dan aku. Kau pun berubah. Aku ingin memulainya lagi el, segala yang kini asing bagiku. Termasuk bergumul dengan bahasa, huruf-huruf di depan mata.
Biarkan aku menulis surat ini untukmu el, kutitipkan pada kilatan cahaya langit timur kotaku yang malam  ini menyihirku, takjub. Semoga surat ini akan sampai padamu, entah kapan.
Tentang kehidupan el,
Barangkali kau masih akan mentertawakanku sebab aku masih saja tak mampu memahaminya. Kau perlu mengajarkan padaku lagi tentang rasa syukur, tentang menerima, tentang sabar, tentang berjuang, tentang menikmati, tentang betapa bahagianya mengenal ketulusan. Aku telah terlalu tamak. Pernah aku melihat wajah-wajah penuh kesederhanaan el, wajahnya begitu teduh. Ingin sekali rasanya kucuri kesederhanaan dari wajah-wajah teduh itu. Aku berharap kau ada di sini dan  mengajarkan padaku bagaimana mengasuh hatiku, agar ia lebih sederhana.
Katakan padaku el, apa itu keluarga?
Adakah definisi yang lebih sederhana dari sebuah ikatan yang dibangun oleh aliran darah, el?
Beberapa hari aku berada di sana, di tempat di mana aku lahir dan dibesarkan el. Setiap sudut tempat itu membawa setumpuk kenangan, tentangku, tentang keluargaku. Juga tentang serpihan-serpihan ingatan yang sempat aku buang. Apa karena aku kini tumbuh menjadi anak nakal lagi el? karenanya ingatan itu datang lagi dan tak mau pergi.
Telah terlalu lama rasanya aku ingin pulang, bukan sekedar datang lalu pergi. Tapi kepulangan selalu membutuhkan sebuah rumah. Ya, rumah, sebuah tempat di mana kau akan bertahan di sana dan tak ingin pergi. Sebuah rumah di mana ada yang selalu menunggu dan mencintaimu, entah betapapun sulitnya hidupmu. Sebuah tempat di mana kau akan kembali untuk tinggal tak hanya sekedar berkunjung. Naif sekali.
Tapi el, tempat itu hanya bangunan tanpa hati siapa pun tertinggal di sana. Entah ke mana perginya hati-hati itu el. Entah telah terbang ke mana hati yang sempat kami, aku, mungkin ibu dan ayahku tinggalkan di sana. Gambaran mengerikan yang selalu ingin aku buang itu datang, el. Betapa ingin aku menghapusnya lagi, tapi aku terlalu lemah sekarang. Bahkan aku tak lagi mampu memilih bahasa paling sederhana dan menuliskan ini lalu mengirimkannya padamu. Aku selalu merindukan raut-raut wajah yang telah berkorban untukku itu el. Selalu. Tapi rasanya tak ada tempat untuk kembali.
Kau pernah pulang el? apa kau punya rumah? Aku bahkan tak pernah bertanya di mana rumahmu, betapa buruknya aku, kukira karena itulah kau pergi, karena aku selalu egois mementingkan diriku sendiri, kan el?

Seperti halnya persahabatanku,
Kau berhak pergi, seperti halnya dia, gadis baik yang selalu ada di sampingku itu memilih untuk pergi. Kau tahu el? terlalu menyakitkan karena aku terlalu malu untuk memintanya tetap tinggal. Ia takkan pernah membaca surat ini, sama seperti ia yang tak pernah tahu apa yang ada di dalam dadaku el. Ia benar el, aku telah berubah terlalu banyak, karenanya ia berhak memutuskan untuk pergi. Ingin rasanya aku memeluknya dan mengatakan padanya meski sekali, lihatlah baik-baik apa yang ada dalam diriku, sekali saja. Tapi ia lebih meyakini apa yang ingin ia yakini. Itu menyakitkan el, kehilangan dirinya sebelum aku sempat mendukungnya melewati masa-masa sulitnya di sana. Aku berharap ia bahagia. Aku bersyukur bahwa Tuhan telah memberinya seseorang yang dapat mengurangi rasa sakit dan memberinya tempat bersandar. Paling tidak, ia tak akan terlalu kesepian di sana. Aku bahkan tak tahu mengapa kami sejauh ini. 

Kau pernah mengatakan padaku untuk memperjuangkan apa yang hatiku yakini kan el?
Lalu apa yang akan kau lakukan ketika terlalu banyak yang menentang hatimu?
Pernahkah kau menunggu seseorang el? menungguku misalnya, seperti halnya aku selalu menunggumu. Menunggu menjadi rutinitas yang tak terlalu membosankan, ada yang ingin kutunggu el. Bahkan ketika terlalu banyak yang meninggalkanku, mungkin aku akan menunggu hingga menjadi batu. Hingga orang menjadi bosan dan meninggalkanku, mungkin juga kau. Tentu saja aku tak ingin menunggu kehampaan el. Katanya kita berhak bahagia, bisakah aku menunggu dan bahagia? Bisakah aku memiliki rumah dan tempat untuk pulang el? bisakah aku menjadi tempat pulang? atau bangunan itu juga akan menjadi bosan sebab aku terlalu naif dan melankolis? Sebab rasanya aku begitu menjengkelkan.


Comments

  1. emberan cyiiinn ente menjengkelkan hahahahha

    I'm so glad to find this post!! You may not say anything to me or anyone else, but the most important thing is you can be honest to yourself... that's good for you... Don't be a stranger to yourself. :)

    entah mengapa sejak kepulanganmu bbrp waktu yg lalu kamu rasanya sulit skali berbagi cerita, aku gak maksa kamu cerita semuanya ke aku, tapi aku tau ada yg salah padamu...
    are you feeling better now after writing all your feelings and thoughts?? writing could be the best medicine for people like us...

    anyway, aku minta maaf bgt soal telfon kamu di malam sebelum wisuda. I was so tired back then. I'll give you a call later...

    Love ya!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.