“Berjuang tidak sebercanda
itu”
Bagi
para pejuang beasiswa, tentu saja LPDP adalah salah satu yang paling diminati.
Selepas lulus, keinginan untuk terus bersekolah tidak pernah surut. Pernah
sekali waktu keinginan itu melemah karena beberapa alasan, salah satu yang
paling krusial adalah biaya.
Keyakinan
untuk mencari beasiswa itu kemudian muncul setelah dosen pembimbing skripsiku
menghubungiku. Beliau dan tim penelitian jurusan tengah melaksanakan penelitian
dan mengajakku turut serta. Entah dari mana, rasa percaya diriku pun muncul.
Aku mantapkan diriku untuk mencari program beasiswa s2.
Awalnya
aku hanya mencari informasi dari berbagai sumber tentang beasiswa s2, mulai
dari beasiswa penuh sampai beasiswa yang hanya menawarkan bantuan akademik.
LPDP adalah yang paling pertama aku tuju.
Rupanya,
untuk mendapatkan beasiswa LPDP, banyak kualifikasi yang harus dipenuhi.
Beberapa persyaratan penting yang harus dimiliki adalah IPK minimal 3,00,
penguasaan bahasa inggris baik ITP, maupun IELTS, menyiapkan tiga esai sakti
yang menyentuh tentang kesuksesan terbesar dalam hidup, peran bagi Indonesia,
dan rencana studi s2, juga beberapa persyaratan administrasi lainnnya. Yang
paling memusingkan bagiku adalah penguasaan bahasa inggris. TOEFL ITP untuk tujuan
universitas dalam negeri 500 sementara
untuk luar negeri 550. Sementara, belum pernah sekalipun selama kuliah aku
mengikuti tes TOEFL. Satu-satunya tes bahasa inggris yang pernah aku ikuti adalah
TOEIC dan itu pun ketika masih SMA, tentu saja dengan hasil yang jauh dari kata
baik.
Dengan
hanya berbekal pengetahuan seadanya yang aku dapat dari fotokopian buku les
teman, aku pun mengikuti tes TOEFL pertamaku. Setara dengan usahaku yang
seadanya maka hasilnya pun seadanya. Skor TOEFL pertama yang aku dapatkan hanya
427.
Aku
kecewa dan hampir menyerah sebelum pertarungan sebenarnya. Kukatakan pada
sahabat baikku bahwa meskipun aku mencoba tes lagi dan berhasil, belum tentu
aku bisa lolos seleksi sesungguhnya. Lagipula, tes TOEFL biayanya lumayan
menguras kantong.
Tapi,
sahabatku mengatakan jika aku tidak mencobanya sekarang, mungkin aku akan
menyesal dan belum tentu bisa mencoba di tahun berikutnya. Ia dengan baik hati
mengunduh aplikasi tes TOEFL untuk latihanku setiap hari. Singkat cerita aku
mencoba tes selama beberapa bulan dan mengumpulkan empat sertifikat TOEFL yang
ke semua angkanya belum mencapai 500.
Tapi, siapa bilang TOEFL
dengan skor 487 menghalangiku untuk mengirim aplikasi beasiswa?
Aku
memantapkan hati setelah meminta izin pada orangtua untuk mengikuti seleksi
beasiswa sesungguhnya.
Hari-hari
terakhir deadline aku masih berkutat
dengan esai. Ada tiga esai yang harus kutulis.
1.
Esai tentang kesuksesan terbesar
dalam hidup
Bagian
ini, kita benar-benar harus bisa menangkap momen. Memilih satu kisah dalam
hidup kita yang kita anggap adalah puncak kesuksesan kita dan menyajikannya
dengan “sederhana tapi manis”. Aku mencari refrensi dari berbagai cerita dan
kisah dari awardee LPDP yang dengan berbaik
hati menuliskan kisahnya di blog, juga bertanya pada beberapa teman seputar
topik itu. Tapi, ternyata semua itu hanya refrensi tambahan. Yang pertama kali
harus benar-benar kita tanya adalah diri kita sendiri, kapan dan bagaimana kita
benar-benar merasa sukses dalam hidup kita. Pada akhirnya, aku memilih satu
kisah perjuanganku bersama sahabatku untuk sampai kuliah di Bandung. Mulai dari
kabur dan tidak diizinkan keluarga, sampai kisah bagaimana aku mengikuti banyak
ujian masuk dan gagal. Akan ada kesulitan untuk merangkum kisah hidup yang
berisi momen-momen penting dengan hanya dalam 500 kata. Ada baiknya kita
mempersiapkan esai ini lebih awal agar tidak terburu-buru.
2.
Esai kedua tentang peran kita untuk
Indonesia
Ketika
menulis esai ini sering dalam beberapa momen aku menyesal bahwa ketika kuliah
aku tidak banyak melakukan hal berguna bagi orang lain dan terlalu sibuk
memikirkan diri sendiri. Bagi sahabat pejuang yang aktif dalam kegiatan sosial
tentu akan merasa menulis esai ini seperti menulis buku harian. Begitu mudah
dan mengalir. Tapi bagiku, aku harus berpikir keras dan mengingat-ingat. Tentu
saja peran yang harus kita tulis adalah peran yang sesuai dengan latar belakang
kita. Akan tetapi, sekecil apapun peran yang pernah kita lakukan itu akan sangat
berharga dan berguna, jadi sahabat pejuang tidak perlu mengarang bebas untuk
menulis esai ini. Tuliskan benar-benar apa yang pernah kita lakukan dan
kontribusikan untuk orang lain, meskipun itu hanya satu. Pada bagian ini, aku
menuliskan tentang penelitian yang dilakukan oleh tim jurusan dan aku turut
serta di dalamnya. Juga, aku masukan penelitian skripsiku tentang penyusunan
bahan ajar yang nantinya akan berguna bagi siswa SMA. Juga tentang beberapa
organisasi yang selama ini aku ikuti. Salah satunya adalah komunitas sosial
Margadana.
3.
Esai selanjutnya adalah rencana
studi
Aku
tidak pernah mengira bahwa justru esai ketigaku ini yang pada akhirnya sampai
ke meja wawancara. Latar belakang pendidikanku adalah Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia dan aku mengajukan rencana studi Magister Sastra di
Universitas Indonesia. Dengan bekal kurikulum yang aku cari di website
Pascasarjana UI, aku menuliskan matakuliah yang akan aku kontrak selama kuliah
S2 nanti. Hanya 10% materi yang aku ketahui (bukan pahami-sekedar tahu) dan 90%
sisanya sangat awam. Tapi aku memang sudah berniat akan melanjutkan kajian
skripsiku yang masih sangat mentah itu dan aku matangkan di Tesis nanti. Niatan
itu didukung dengan kontrak mata kuliah yang mendukung yakni kajian sinematografi
dan kajian alihwahana karya sastra.
Selesai
merampungkan ketiga esai itu, dengan bantuan sahabat baikku ia mengirimkan
semua persyaratan aplikasi yang sudah susah payah aku kumpulkan, terutama
persyaratan administrasi yang mau tidak mau harus dibuat di Purbalingga, daerah
asalku. H-1 aku mendaftar online,
tapi sinyal di daerahku sangat tidak mendukung. Akhrinya, dengan bantuan
sahabat baikku yang lagi-lagi berbaik hati mau mengirimkan semua aplikasi
pendaftaran online, aku mendaftar
juga. (Selalu, kuterima kasihmu itu sahabatku.)
Hari-hari
setelah itu diisi dengan penantian. Mulai dari pengumuman lolos seleksi
administrasi sampai pengumuman jadwal wawancara. Aku masih harus berusaha lagi
untuk meminta izin pada manajemen tempatku bekerja. Ada tanggungjawab yang
membuatku kesusahan mendapat izin. Tapi, Alhamdulillah,
pada akhirnya 30 menit menjelang keberangkatanku untuk wawancara, pihak
manajemen memberiku izin untuk mengikuti seleksi.
Jadwal
wawancara setiap peserta berbeda. Ada yang dibagi menjadi beberapa hari ada
yang seharian penuh. Aku salah satu yang seharian penuh. Tahapan hari itu
adalah verifikasi data, esai on the spot,
Leaderless Group Discussion, dan
terakhir interview. Tiga tahap berhasil aku lalui dengan baik. Esai on the spot , aku diberi dua topik yang
harus diberi pendapat, yakni tentang globalisasi dan tentang hukuman mati bagi
pelaku kejahatan berat. Aku memilih yang kedua. Tidak ada kesulitan untuk
mengungkapkan pendapat. Selalu kita mulai dari pernyataan topiknya, kemudian
sajikan pendapat kita tentang kelemahan dan kelebihan, lalu pendapat apakah
kita setuju atau tidak, lalu tutup dengan simpulan kita tentang apa yang telah
kita tulis.
Leaderless Group
Discussion adalah jalan bagi pihak LPDP untuk
melihat bagaimana kemampuan kita untuk menanggapi persoalan, cara kita
mengeluarkan pendapat, dan cara kita menerima pendapat oranglain. Benar-benar
yang dilihat adalah cara dan sikap kita. terlepas dari pendapat apapun yang
kita keluarkan.
Tahap
selanjutnya adalah tahap yang membuatku benar-benar merasa bahwa mungkin aku
harus melepaskan mimpi ini. Ya, wawancara. Pada tahap ini, ada tiga
pewawancara, satu dari pihak LPDP, satu dari bidang keilmuan yang kita geluti,
dan satu lagi adalah seorang psikolog. Awalnya aku sudah menyiapkan diri setenang
mungkin. Aku ingin menjawab semua pertanyaan pewawancara dengan anggun dan
elegan. Tapi, kenyataan berkata lain. Aku memulai dengan menjabat tangan
pewawancara dan tersenyum cerah. Lalu aku dipersilakan duduk dan memperkenalkan
diri. Pertanyaan pertama adalah seputar jurusan dan universitas yang aku tuju.
Sebelum akhirnya, semua pertanyaan berkutat di bidang sastra. Seputar
pembidangan sastra, kajian hermeneutik, metode penyampaian sastra, dan Muhammad
Iqbal (salah satu sastrawan Timur Tengah yang baru aku ketahui setelah seleksi
ini). Semua pertanyaan 80% tentang rencana studi dan aku tidak bisa
menjawabnya. Beberapa pertanyaan yang bisa aku jawab dengan luwes adalah
pertanyaan psikolog. Sekalipun aku tidak bisa menjawabnya, aku tetap mencoba
bertahan dengan terus tersenyum. Dibanding menjadi penjawab, aku lebih
cenderung menjadi pendengar dalam tahap kali ini.
Hari
itu benar-benar menjadi diriku sendiri. Aku mengakui ketidaktahuanku dan
berharap akan bisa belajar untuk lebih tahu. Seperti yang aku ungkapkan pada
ketiga pewawancara bahwa aku ingin bersekolah agar aku tidak mampat. Aku ingin
mempunyai kesempatan lebih luas agar bisa melakukan banyak hal untuk orang
lain.
Sesungguhnya
setelah wawancara itu, aku terus mengutuki diriku sendiri, seharusnya aku lebih
banyak membaca dan mencari tahu seputar sastra. Aku merasa malu, bahwa selama
empat tahun aku belajar sastra aku bahkan tidak tahu sastrawan sebesar Muhammad
Iqbal. Hari setelah wawancara aku isi dengan mempelajari semua kajaian sastra
dan membaca beberapa karya Muhammad Iqbal yang sungguh sufistik itu.
Akhirnya,
hari pengumuman itu tiba. Dibanding menunggu pengumuman, aku justru sibuk
dengan pekerjaanku. Aku sudah terlanjur pesimis bahwa mungkin saja beasiswa itu
bukan jalanku. Bagiku, Allah memberiku kesempatan untuk wawancara saja sudah
lebih dari cukup.
Salah
satu teman yang ikut seleksi mengirim pesan bahwa pengumuman sudah ada, aku
harus login atau membuka email. Aku
pun membuka email dan login ke
website LPDP. Pertama kali membuka status pendaftaran, di sana tertulis “Lolos
Seleksi Intervier”, aku menutupnya kembali karena aku salah baca, aku kira
statusnya masih sama “Lolos Seleksi Administrasi”. Akhirnya, aku membukanya
sekali lagi dan membaca lengkap dari atas sampai bawah laman. Di sana tertulis
“Selamat anda lolos seleksi interview” yang artinya aku lolos tahapan ini.
Aku
hanya terdiam. Hampir tidak percaya dengan apa yang kubaca. Lalu beberapa menit
kemudian, semua perasaan bertumpuk di dada membuncah sampai di tenggorok juga
pelupuk mata. Alhamdulillah ya Rabbana, aku merasa bersyukur sampai habis
kata-kataku. Duhur itu menjadi waktu di mana aku ingin mengucapkan banyak
sekali kata-kata yang rasanya tak sanggup aku ucapkan satu persatu. Allah, al
Illahku, yang Maha baik, telah memberiku kesempatan untuk menerima beasiswa
ini.
Sampai
hari itu aku tahu, bahwa hasil tidak akan pernah berkhianat pada usaha, dan
bahwa dengan doa segalanya menjadi lebih kuat. Sungguh, jika bukan karena
Allah, aku tak akan sampai pada hari itu dan hari ini.
Kuterima
kasi-Mu Allahu Rabbi,
Kuterima
kasihmu Ibu Bapak yang tak henti-hentinya mendoakanku, juga sahabat manisku
yang telah memeberiku dorongan semangat juga membantu setiap langkahku untuk
sampai ke sana.




This comment has been removed by the author.
ReplyDelete