ini belum genap dua tahun sejak kita bertatap sapa dan mengeja nama...aku mengingatnya, saat untuk kali pertama itu, kau mengenalkanku dengan duniamu, bukan, dunia kita yang belum kusadari. menjadi seorang wali, dan datang kapanpun kanakku memmbutuhkanmu. aku dimanjakan oleh perlindunganmu, "itu bekal" katamu. mengajakku meninggalkan lorong gelap dari sisi tak terkira, lalu kita berkelana ke negri sophie dengan keingintahuan yang pelan-pelan kau ajarkan padaku...kini aku harus melepasmu pergi,,dengan mengantongi sebingkis bekal yang kau suapkan sampai detik sebelum langkahmu mulai menjauh...
Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit. Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih. Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

Wahyu hanya turun pada mereka pemegang risalah
ReplyDeleteItu pasti, karena mereka berhati suci
Jahatnya dunia ini padaku
Adalah pengajaran langsung darinya
Yang, Hyang, Tuhan
Atau yang selalu kita jadikan tempat bersandar
Namun itu tak membuat kekotoranku bersih
Tidak dari noda jiwa, ataupun dosa
Inilahlah aku, dik, hanya seorang dungu yang selalu ingin kembali
Rengekan kepadanya hanya terbalaskan tawa
Ada satu garis takdir kejam
Teruntuk diriku mungkin karena masa silam
Ingin aku seperti bocah-bocah bebas lainnya
Hidup merdeka, berlari kencang kemana saja
Izinkan aku kembali,
Kepadamu, yang menjadi akhir meski aku tahu
Aku kejam dan begitu tak berperasaan
****
Waktu memang rezim tak berampun
Impian masa lalu itu,
Jatuh di bawah jurang kesadaranku
Apakah ku mampu menebusnya dengan luka parah hidupku ini?
Ya, aku mengerti,
Akan kebodohan dan ketololanku dalam rasa
Nyanyian kerinduan yang ku dendangkan saat itu
Tak begitu terdengar merdu, sesungguhnya
Itu bukan lantunan kegembiraan, tapi tangisan
Ramai suara berbicara dalam pikiranku
Ada satu beban besar yang melampaui batas di dalamnya
Tentang dunia orang-orang lemah, manusia-manusia kesepian
Ingin ku lari padamu saja dan meninggalkan mereka, tapi
Hujan menghentikanku, tanda ku tak boleh lari dari pertarungan ini
Itu musuh terbesarku yang sesungguhnya,
Keinginan, ego, hasrat diri yang tak membuatku sedikit sabar, lalu
Apa yang mampu ku perbuat jika waktu tlah membawaku tersesat, dik?
(akan ku buat kan banyak jika engkau mau, puisi seperti itu)