Skip to main content

beludru di bulan maret



ini belum genap dua tahun sejak kita bertatap sapa dan mengeja nama...aku mengingatnya, saat untuk kali pertama itu, kau mengenalkanku dengan duniamu, bukan, dunia kita yang belum kusadari. menjadi seorang wali, dan datang kapanpun kanakku memmbutuhkanmu. aku dimanjakan oleh perlindunganmu, "itu bekal" katamu. mengajakku meninggalkan lorong gelap dari sisi tak terkira, lalu kita berkelana ke negri sophie dengan keingintahuan yang pelan-pelan kau ajarkan padaku...kini aku harus melepasmu pergi,,dengan mengantongi sebingkis bekal yang kau suapkan sampai detik sebelum langkahmu mulai menjauh...

Comments

  1. Wahyu hanya turun pada mereka pemegang risalah
    Itu pasti, karena mereka berhati suci
    Jahatnya dunia ini padaku
    Adalah pengajaran langsung darinya
    Yang, Hyang, Tuhan
    Atau yang selalu kita jadikan tempat bersandar
    Namun itu tak membuat kekotoranku bersih
    Tidak dari noda jiwa, ataupun dosa
    Inilahlah aku, dik, hanya seorang dungu yang selalu ingin kembali

    Rengekan kepadanya hanya terbalaskan tawa
    Ada satu garis takdir kejam
    Teruntuk diriku mungkin karena masa silam
    Ingin aku seperti bocah-bocah bebas lainnya
    Hidup merdeka, berlari kencang kemana saja

    Izinkan aku kembali,
    Kepadamu, yang menjadi akhir meski aku tahu
    Aku kejam dan begitu tak berperasaan
    ****
    Waktu memang rezim tak berampun
    Impian masa lalu itu,
    Jatuh di bawah jurang kesadaranku
    Apakah ku mampu menebusnya dengan luka parah hidupku ini?
    Ya, aku mengerti,
    Akan kebodohan dan ketololanku dalam rasa
    Nyanyian kerinduan yang ku dendangkan saat itu
    Tak begitu terdengar merdu, sesungguhnya
    Itu bukan lantunan kegembiraan, tapi tangisan

    Ramai suara berbicara dalam pikiranku
    Ada satu beban besar yang melampaui batas di dalamnya
    Tentang dunia orang-orang lemah, manusia-manusia kesepian
    Ingin ku lari padamu saja dan meninggalkan mereka, tapi
    Hujan menghentikanku, tanda ku tak boleh lari dari pertarungan ini

    Itu musuh terbesarku yang sesungguhnya,
    Keinginan, ego, hasrat diri yang tak membuatku sedikit sabar, lalu
    Apa yang mampu ku perbuat jika waktu tlah membawaku tersesat, dik?

    (akan ku buat kan banyak jika engkau mau, puisi seperti itu)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.