apa yang menjadi hebat dengan menjadi sepotong kuku yang terus tumbuh dan menyela di antara daging-daging hidup. Ia hanya menjadi benalu yang tak kan pernah ber'usai'. bahkan meelihat makhluk kecil seperti nyamuk pun aku iri...ya..iri...mereka pun bisa mencari makanannya sendiri, terbang dengan sayap-sayapnya sendiri, berdiri di atas kakinya sendiri, dan tidur di pagi hari dengan begitu lelap. barangkali aku akan terus tumbuh menjadi anak nakal yang melempar liat ke jendela-jendela tetangga, lalu mereka akan mengadukan kenakalanku pada-Mu,,,bukan,,tapi Kau selalu melihatku,,,karena itukah Kau menahan hadiah untukku dan membiarkanku terus melihat anak-anak lain menerima hadiah-Mu,,sementara aku akan tetap menjadi anak nakal dan tokoh antagonis dalam drama nyata....maafkan aku....
Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit. Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih. Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...
kadang kita terlalu sering mencari gelap yg menjadi keseluruhan dan enggan mencari terang yang hadir sebagai titik... kenapa tidak memulai dengan berlatih menyadari titik terang itu hingga menjadikannya warna mayor?
ReplyDeletekenapa gak meminta hadiah-Nya dan membuktikan bahwa kamupun layak mendapat hadiah dari-Nya
ReplyDelete