Lagi-lagi
aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas
dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis.
aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira,
aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.
Sederhana
sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus
menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba
meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik
kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot
manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.
Entah
telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari
lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil
yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan jauh dariku. Tapi, ia memilih
menyimpan segalanya dalam diam. Ia menelan segala rasa sakitnya bersama
kepasrahan. Baginya, tak ada lagi jalan selain menerima nasibnya. Maka, aku pun
memilih diam, lalu menenggelamkan segalanya dalam tidur. Katanya, tidur bisa
mengubur kepiluan apa saja.
Orang
memiliki banyak cara untuk lari, menangis adalah salah satunya, tapi air mataku
terlanjur mengendap di pangkal tenggorok. Luka yang tak kau keluarkan dalam
bentuk paling manusia katanya bisa jadi borok. Mungkin saja, setumpuk lukaku
telah menjadi borok, menganga dan berbau anyir. Sebab, ia dipenuhi darah segar
bercampur daging yang membusuk. Betapapun aku mencoba menyekanya, mengoleskan
obat-obatan apa saja, ia terlanjur membusuk lebih dulu.
.jpg)
dengan segala keterbatasanmu, kamu harus sangat bersyukur atas kesempatan yang bisa kamu dapatkan skarang...
ReplyDeleteakan ada waktu untuk membalas semuanya. tak perlu terburu.. :)