Skip to main content

Aku, mmm...

Aku, ya, setidaknya pernah, atau jujur saja harus kuakui bahwa belakangan ini aku mulai memikirkannya, menemukan seseorang yang kepadanya aku meletakan segala keinginan menjadi yang halal. Entahlah el. barangkali ini karena usia, tapi kurasa bukan. Paling tidak, aku masih dua puluhan. Masih cukup muda untuk tak memikirkannya. Selalu begini saat mendengar kabar beberapa kawanku yang telah memilih untuk sebuah mimpi sederhana tapi manis dan aku iri. Ya, apalagi, pernikahan tentu saja.

Comments

  1. hmmm... the nurul effect ini mah... :P
    tadi pagi waktu aku sms soal ini kamunya ga bahas sma skali soal tanggapanmu yang ini.. ahahahah :P

    ReplyDelete
  2. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, sungguh. ^_^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.