Aku, ya, setidaknya pernah, atau jujur saja harus kuakui bahwa belakangan ini aku mulai memikirkannya, menemukan seseorang yang kepadanya aku meletakan segala keinginan menjadi yang halal. Entahlah el. barangkali ini karena usia, tapi kurasa bukan. Paling tidak, aku masih dua puluhan. Masih cukup muda untuk tak memikirkannya. Selalu begini saat mendengar kabar beberapa kawanku yang telah memilih untuk sebuah mimpi sederhana tapi manis dan aku iri. Ya, apalagi, pernikahan tentu saja.
Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit. Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih. Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...
hmmm... the nurul effect ini mah... :P
ReplyDeletetadi pagi waktu aku sms soal ini kamunya ga bahas sma skali soal tanggapanmu yang ini.. ahahahah :P
Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, sungguh. ^_^
ReplyDelete