Lalu pada akhirnya el, kehilangan menjadi lebih menyakitkan manakala kita menyadarinya lebih dulu sebelum ia benar-benar hilang. Sebab aku merasa pernah memiliki memori sekuat dinding rumah ini, karenanya aku begitu yakin bahwa satu di antara kita akan mengerti, betapa bermaknanya segala yang terbangun dan teramu dalam pertemanan. Kukira el, berceloteh akan membuat keyakinan satu sama lain terbangun kembali. Aku ingin memeluk mereka, mengatakan betapa "mereka tak perlu sendiri".
Sempat aku bertanya el, barangkali pada Tuhan, atau padamu, mengapa ada lubang menganga di dadaku, mengapa air mata menderas. Barangkali inilah jawabanya el, "aku kehilangan, sesuatu paling berharga."
*Sepiring nasi liwet tak pernah begitu seberharga ini, yang gagal kumakan dan aku terluka, ya sepiring nasi liwet, yang kepadanya aku menaruh harapan mendengar banyak hal...
.jpg)
Tentang *Nukil Kisah Margadana* : Saat engkau mengomentari catatanku *Suatu saat akan ku katakan pada ayah dan ibumu*, aku mulai berpikir, apa dia yang dalam sujud-sujudku terbayang sedang berdoa, lalu dengan kasih-Nya, aku disuruhnya lebih dulu berkelana dalam rimba cinta dengan 2 jurang kegagalan yang menyakitkan? Kemudian dengan tenang-Nya, aku disuruh untuk mengalir padamu dan Ia seakan berkata malam itu : Ini lho, yang banyak berdoa pada-Ku agar kau (aku) mendengar rintihan hatinya.
ReplyDeleteDan aku pun tak bisa marah pada-Nya - saat engkau memilih ia, Dia yang begitu doyan *menjahiliku*, bercanda denganku, satu-satunya manusia yang tetap tertawa meski terjatuh dalam penderitaan neraka. (hehehe)
Akan aku tebus kesalahanku, dear..