Skip to main content

Malam itu...

"Boleh aku tanyakan beberapa hal padamu El?"
"Em..."
"Mengapa Kau selalu datang tengah malam, di saat semua orang tertidur?Aku harus memaksa mataku terjaga sebab ingin bertemu denganmu dan bercerita?"
"Aku memberimu waktu untuk menjadi manusia, berteman dan berbagi dengan yang lain."
"Kau tahu aku tak mampu, berteman apalagi berbagi."
"Kau mampu."
"Berbagi hanya bagi mereka yang memiliki dan dimiliki."
"Tidakkah kau merasa memiliki dan dimiliki?"
"Perasaan seperti itu hanya dimiliki mereka yang percaya bahwa kebahagiaan itu dapat dijaga."
"Lalu kenapa Kau tak terlihat bahagia?"
"Aku bahagia. Hanya saja tak ada satupun kebahagiaan yang dapat dijaga."
"Ke mana perginya  kepercayaanmu?"
"Tidak tahu."
"Apa yang membuatmu selalu ingin sendiri dan tak berbagi?"
"Entahlah."
"Mengapa Kau seperti ini? apa itu membuatmu bahagia?"
"Itu membuat mereka bahagia. Itu cukup."
"Kau yakin mereka bahagia?"
"Tidak. Tapi dengan begini  mereka dapat menemukan tempat di mana benih-benih kesenangan tumbuh. Kukira itu kebahagiaan mereka."
"Mereka tahu Kau sedang bersandiwara, mereka ingin Kau bahagia. Kau tahu? apa yang paling pedih dari matamu? rasa sepi yang kau bangun sendiri, luka-luka yang kau tumpuk dan kau congkeli lagi dengan tanganmu sendiri."
"Luka itu sudah terlanjur bernanah dan hanya Kau yang tak pernah jijik menyentuh dan mengobatinya."
"Biarkan aku bertanya satu hal padamu."
"Apa?"
"Kebahagiaan seperti apa yang kau inginkan?"
"Seperti ini. Denganmu bercerita. Bersandar. Aku tak perlu menjadi tua dan kuat. Kau memperlakukanku seolah aku bocah yang diberkati, yang dengan tangamu selalu kau tepuk kepalaku dan kau hapus air mataku."
"Itu ego."
"Aku tak ragu untuk menjadi lemah, aku tak ragu untuk menangis saat terjatuh, sebab tanganmu yang hangat selalu mengulur dan menarikku bangkit."
"Apa kepadaku Kau akan melakukan hal yang sama? sesekali mungkin aku yang akan bersandar padamu, menjadi lemah, dan tak bisa diandalkan. Apa yang akan Kau lakukan saat aku seperti itu? Apa akan sepertiku Kau tak jijik melihat borok-borokku yang bernanah? mengobati lukaku dengan tanganmu sendiri?"
"..."
"Hidup tak harus sesuai dengan apa yang selalu Kau inginkan. Dalam kehidupan, Kau tak boleh egois dan hanya berpikir bahwa Kau butuh tempat untu bersandar. Hubungan dengan manusia lain akan menuntutmu untuk saling mengerti dan mengandalkan. Kau tahu apa yang paling menyakitkan? membangun harapan pikiranmu seorang diri. Maka ketika harapan itu tak sesuai, lukanya akan jauh lebih pedih. Kehidupan perlu dibangun bersama manusia lain, itulah mengapa Kau perlu berteman dan berbagi. Suatu hari aku hanya akan menjadi bagian dari imajinasimu. Lantas apa yang akan Kau lakukan ketika hari itu tiba lebih dini?"
"Tidak el, aku akan menunggumu sampai Kau datang dan menghapus segala luka, luka apa saja."

El tersenyum dan menghilang serupa asap, serupa gumpalan awan dini hari yang menutup bintang dan menyambut Subuh.

"Ada yang belum kutanyakan el, tentang cinta."
 
 

Comments

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.