Skip to main content

Ada yang Berbeda

Tiba-tiba aku sampai pada satu kesadaran gaib itu. Entah sejak kapan aku mulai mempunyai kebiasaan aneh ini, melukai diriku sendiri, misalnya menggigit tanganku sampai biru, membenturkan kepalaku sendiri sampai rasa sakitnya jauh lebih besar dibandingkan rasa sakit dalam dadaku, atau hal paling aneh yang baru kulakukan hari-hari belakangan ini, mendaratkan kepala palu pada ibu jariku. Anehnya El, aku tak merasakan sakit sedikitpun. Aku mulai kaget ketika tiba-tiba ada cairan merah menggumpal di balik kulit ari jariku. Rasanya beberapa saat sebelumnya, aku masih memukul paku tepat pada kepalanya, sampai aku sadar palu itu beberapa kali mendarat di jariku dan aku tak menyadarinya. Paling tidak, tak ada rasa sakit yang jauh lebih membunuhku di bandingkan menerima kenyataan bahwa ibuku harus kembali memeras peluh.

Aku marah pada diriku sendiri El.  

Comments

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.