Skip to main content

Kita yang Membangun Cerita Friksi

Hei El, Kau tahu? kuhabiskan untuk apa saja hari-hariku belakangan ini? 
Mengapa wanita suka sekali mengenang cerita seolah-olah kehidupan adalah drama dan ia menjadi pemeran utama yang tunggal?
Belakangan ini kuhabiskan waktuku untuk mengukur sejauh mana batinku yang payah ini bertarung. Kita pernah benar-benar bertarung dengan musim. Kau ingat El? tempat itu, tempat di mana aroma buku terhidu di mana-mana, tempat di mana orang-orang silih berganti datang dan pergi lengkap dengan tatapan mata yang beragam. Andai saja waktu itu Kau menarik tanganku dan membawaku pergi, tentu saja tak akan ada cerita fiksi semacam ini. Aku kembali ke tempat itu hanya untuk melihat bayangan diriku yang dulu untuk kali pertama dalam hidupnya berbicara tentang harapan besar, ya, sebentuk pernikahan. Aku tengah mengenang air matanya kala itu, begitu lugu, tapi penuh keyakinan. Ia yang tengah meminta penegasan atas keyakinannya itu. Kini, aku melihat gambar itu hanya berupa bayang-bayang kenangan. Kini, di tempat yang sama, di kursi yang sama, aku duduk, masih menghidu aroma buku yang sama, tapi ke mana larinya keyakinan itu, ke mana minggatnya kepercayaan dan harapan itu?
Bagaimana bisa ia membiarkanku kehilangan kepercayaan itu El?

Comments

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.