Hei El, Kau tahu? kuhabiskan untuk apa saja hari-hariku belakangan ini?
Mengapa wanita suka sekali mengenang cerita seolah-olah kehidupan adalah drama dan ia menjadi pemeran utama yang tunggal?
Belakangan ini kuhabiskan waktuku untuk mengukur sejauh mana batinku yang payah ini bertarung. Kita pernah benar-benar bertarung dengan musim. Kau ingat El? tempat itu, tempat di mana aroma buku terhidu di mana-mana, tempat di mana orang-orang silih berganti datang dan pergi lengkap dengan tatapan mata yang beragam. Andai saja waktu itu Kau menarik tanganku dan membawaku pergi, tentu saja tak akan ada cerita fiksi semacam ini. Aku kembali ke tempat itu hanya untuk melihat bayangan diriku yang dulu untuk kali pertama dalam hidupnya berbicara tentang harapan besar, ya, sebentuk pernikahan. Aku tengah mengenang air matanya kala itu, begitu lugu, tapi penuh keyakinan. Ia yang tengah meminta penegasan atas keyakinannya itu. Kini, aku melihat gambar itu hanya berupa bayang-bayang kenangan. Kini, di tempat yang sama, di kursi yang sama, aku duduk, masih menghidu aroma buku yang sama, tapi ke mana larinya keyakinan itu, ke mana minggatnya kepercayaan dan harapan itu?
Bagaimana bisa ia membiarkanku kehilangan kepercayaan itu El?

Comments
Post a Comment