Kepada Ia
Sekalipun
kini aku menjadi pembunuh paling nista, barangkali aku tak akan menyesali ini,
meski air mata tetap luluh dan meluruh. Hal yang paling kusesali adalah sesuatu
yang kujaga dengan sangat hati-hati agar ia tak terluka, agar kepedihan hidup
tak meniupkan aroma busuk padanya hingga ia berubah warna, agar ia tetap halus,
lugu, dan murni seperti hati seorang bayi, justru padanya kini aku menebarkan
ribuan jarum hingga darah dan nanah membuncah. Aku membebaskannya, sebab
kebebasan akan membuat kita mengenal banyak hal yang tak bisa kita kenali
manakala kita tetap saling menggenggam. Aku membebaskannya, sebab kebebasan
selalu menjadi ruang di mana kita akan mendapatkan banyak kasih sayang dari
Tuhan, dari alam. Aku tak berhak bermain-main dengan hati manusia, tapi aku
melakukan sebisaku agar kita mampu belajar menjadi lebih manusia. Kebebasan itu
akan menempatkan kita pada ruang di mana kita akan mengerti bagaimana caranya
bertutur sapa dengan diri kita sendiri, dengan begitu kita akan tahu bagaimana
caranya bertutur sapa dengan manusia lain. Mengapa kehidupan seolah-olah memaksa
kita untuk memahaminya lebih bijak, sebab kita harus memahami kesendirian dan
kebersamaan dengan lebih bijak. Tak ada yang salah dengan rasa sakit, rasa
sakit itu yang akan menuntun kita pada ruang di mana kita akan jauh lebih arif
menghargai kehidupan. Aku akan tumbuh dan menghargai kodratku sebagai seorang
manusia, sebagai seorang wanita yang legowo
dan patuh. Aku akan lebih menghargai kodratku dan tumbuh menjadi wanita yang
kuat tapi tetap menghargai lelakiku. Aku akan tumbuh menghargai kodratku untuk
mencintai kehidupanku dan mencintai lebih kehidupan lelakiku yang berhak
atasku. Aku akan lebih menghargai bahwa tidak pernah ada cinta yang penuh
tuntutan dan pada akhirnya aku tersiksa. Aku akan menghargai diriku sendiri dan
tak melulu menyalahkan apa saja ketika dunia menamparku. Aku akan belajar
tentang ketulusan. Sebab, cinta bukanlah ego yang melulu tendensius kukira. Aku akan
menemukan lelakiku, ia ataupun bukan ia. Ia akan belajar banyak hal di luar
sana, banyak hal yang tak akan ia temukan ketika kita tak saling melepas. Suatu
hari nanti, akan ia temukan wanitanya, aku ataupun orang selain aku. Pada hari
itu, kita akan sama-sama mengingat hari ini, mengingat rasa sakit ini,
mengingat kematangan dan kesiapan jiwa yang telah kita bangun karena rasa sakit
ini. Kata seorang kawan, “Jatuh cinta itu mudah dan sederhana, tapi membangun
sebuah hubungan cinta dan mempertahankannya itu tak sederhana.” kita butuh
segalanya, termasuk jiwa yang lapang. Aku dan ia tengah belajar membangun
kelapangan itu. .jpg)
Comments
Post a Comment