Skip to main content

Nothing

"Tentang cinta, mungkin saja tak ada yang benar-benar mengerti mengapa manusia jatuh cinta pada manusia lain. Katakanlah bahwa cinta yang kita bicarakan adalah satu bentuk ketertarikan pada lawan jenis. Suatu hari, kita akan benar-benar menyadari bahwa sebuah hubungan tak hanya berdasar pada cinta."


"Lalu apa yang terpenting dalam sebuah hubungan El? kejujuran? kesabaran? rasa menerima? legowo?"

"Itu hanya beberapa faktor pendukung."

"Lalu?"

"Menurutmu, apa yang kau butuhkan ketika Kau memutuskan untuk membangun sebuah hubungan?"

"Jadi dasar dari semuanya adalah kebutuhan?"

"Apa yang membuatmu memutuskan untuk membagi sebagian kisahmu pada orang lain di luar dirimu dan membangun sebuah kenangan?"

"Entahlah..."

"Kau orang yang terbiasa menghadapi hal-hal rumit sorang diri. Kau terlatih sebab sejak kecil kehidupan mengasuhmu seperti itu. Ya, katakanlah Kau dibentuk sebagai pribadi yang kuat dan mandiri. Tapi, menjadi mandiri justru membentuk harapan bahwa suatu hari akan ada sesorang yang bisa Kau yakini dan Kau andalkan. Benar?"

"Aku tak yakin."

"Kau tidak bisa mengelak bahwa Kau membutuhkan orang lain di luar dirimu untuk bisa memberikan kenyamanan dalam hidup. Orang yang mampu menjadi tempatmu melepas penat, melepaskan beban-bebanmu. Paling tidak Ia bisa Kau percayai untuk berbagi cerita  tak hanya tentang kesenangan, tapi jauh lebih penting adalah cerita pedihmu?"

"Kukira tak akan ada orang seperti itu selain dirimu. Lagipula bukankah itu justru menunjukan bahwa aku tak pernah tulus bersama orang itu, sebab aku meminta yang lebih. Aku tak berhak meminta sesuatu yang tak ingin orang lain berikan padaku. Pengertian dan pemahaman. Barangkali ini karena aku pun tak pernah mengerti dan memahami mereka. Aku terbiasa sendiri dan aku mampu sendiri."

"Itu hal dasar yang wajar. Tidak ada satupun hubungan yang hanya dibangun dari rasa senang bersama, saling bertemu, saling merindu, saling bertukar kata-kata manis, tanpa saling merasakan kesedihan satu sama lain. Hubungan itu katanya, Aku adalah Kau dalam bentuk lain. Mengapa Kau begitu nyaman bersandar padaku?"

"Entahlah El...."

"Kau tahu? apa yang akan mendewasakan kita?"

"Masalah..."

"Orang yang terbiasa menghadapi masalah, akan membangun resistensi diri dan seiring berjalannya waktu pola pikirnya akan terbentuk, mengalir dan bijak menghadapi hidup."

"Menurutmu, apa yang aku butuhkan?"

"Tanyakan pada dirimu."

***

Comments

  1. kau lelah dan ingin bersandar. carilah!

    ReplyDelete
  2. ada bbrp hal yang hanya bisa dinikmati ketika kamu berbagi... tapi utk saat ini, cobalah menikmati banyak hal sendirian... can't u see that ur life has turned out to be so boring? kehidupan menawarkan banyak hal... sangat banyak selain keraguan, kepedihan, kesedihan, maupun air mata... nikmatilah selagi kamu bisa... ketika kamu menjadi tua dan berkeluarga, belum tentu kamu msh memiliki ksmpatan utk menikmati khdupan sprti saat kamu msh muda dan bebas

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.