Skip to main content

di kaki pohon karsen


Di Kaki Pohon Karsen
            “kau mengulanginya lagi ra?” celetuk Mira sambil menggelengkan kepalanya dan biji-biji kecil di mulutnya menggertak, Ia sering melakukannya saat marah atau tak percaya pada sesuatu, kali ini jelas, Ia sedang tak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan.
“berapa kali lagi kau akan melakukannya, tidak, sampai kapan kau akan melakukannya?” teriaknya sebelum akhirnya kubungkam erat-erat mulutnya yang lebar itu. Mira, karibku itu selalu tak menyukai tindakan bodoh yang kuanggap keren itu, kabur dari kelas dan lari ke kebun belakang sekolah untuk sekadar terlelap di bawah pohon karsen yang teduh. Entah berapa puluh tahun umur pohon itu, tapi daun-daunnya yang lebat dan akar-akarnya yang menjalar ke mana-mana menandakan umurnya yang sangat tua. Entahlah, tiap kali aku bosan atau tiap kali merindukan Dira, rasanya satu-satunya tempat yang bisa menenangkanku hanya pohon itu. kali ini pun sama saja, sangat merindukannya sampai sesak, belajar dan berpikirpun rasanya lelah, entah berapa lama setelah kecelakaan itu, entah berapa waktu.
            Aku diam dan menatap jauh ke pohon yang menjulang tinggi itu, daun-daunnya diterbangan angin satu-satu gugur dengan bahagia, di sanalah utuk pertama kalinya aku menemukan seorang Dira, bocah lelaki bodoh yang menyebalkan. Di kaki pohon karsen itu Ia terlelap, meski tak tahu kenapa ia selalu kabur dari kelas dan bersembunyi di tempat itu.
            Saat itu Mira menyuruhku membawa barang-barang bekas itu ke gudang belakang sekolah, sambil kesal aku menuruti keinginannya. Meski dalam hati menggerutu entah berapa lama. Kelas dalam renovasi, akan ada perlombaan antarkelas karena itulah semua hal diperbaiki, dihias, dan diubah sedemikian rupa. Ah, terlalu neko-neko, pikirku. Aku terus melangkah dengan kesal meski tak memerlukan bahyak waktu untuk sampai di gudang, hanya saja aku tidak terlalu menyukai hal-hal yang berlebihan di kelas.
“Menghias kelas seperti gedung pesta perayaan pernikahan, hahaha memuakkan.” Gerutuku keras.
            Senar gitar dan alunan nada-nada yang terdengar harmonis tiba-tiba menarik kekesalanku dan menjatuhkannya ke tanah, menguburnya dalam-dalam, dan mataku terpejam menikmati alunannya. Seakan burung-burrung pipit ikut berdendang merdu, sebelum akhirnya aku kembali pada kesadaranku.
“siapa yang bermain gitar?” tuturku lirih. Keanehan yang lagi-lagi membuatku muak, siapa yang bermain gitar di tempat seperti ini. Tapi yang kudapati hanyalah seorang anak lelaki dengan seragam yang sama denganku, memegang gitar dan matanya terpejam, di kaki pohon karsen yang teduh itu, anak lelaki itu, mengalunkan nada-nada yang ritmis, alunannya seperti mengandung kisah yang masih misteri.
“kamu ngapain di sini?”
Suara itupun seperti nada-nada lagu, dan aku mendengarnya semakin jelas sebelum akhirnya aku membuka mataku dan mendapati anak lelaki itu berdiri tepat di depan mataku.
“ah...aku Cuma...itu..anu..” aku mengutuki diriku sendiri yang begitu gugup dan salah tingkah, tapi terlalu ironis nasibku, karena bocah itu nyatanya telah menghilang dari hadapanku secepat kilat. Aku masih ada keberanian berlari mengejarnya meski yang kudapati hanya kenihilan. Siapa dia, kelas berapa, pertanyaan-pertanyaan itu yang pada akhirnya menjadi gangguan terbesar dalam hidupku. Ah, menyebalkan.
“Dara, kok naruh barang aja lama, darimana aja?” serbu Mira yang dari tadi menungguku. Aku masih tetap diam tak menjawab pertanyaannya yang beregrumul itu.
            Sekolah terasa melelahkan, kubenamkan dalam-dalam kepalaku di atas bantal empuk buatan mama. Ah mama yang terhebat untuk ini. Kutatap langit-langit kamarku dan keanehan lagi-lagi seperti pedati yang mengendalikanku, yang muncul di sana adalah gambaran bocah lelaki tadi siang. Matanya yang terpejam, suaranya yang seperti lagu, atau jari-jemarinya yang memetikkan senar-senar dan menghadirkan misteri. Aku semakin melihat gambarnya dengan jelas dan semakin jelas, siapa bocah itu? ah pikiranku hampir kacau karenanya. Hampir semalaman tak bisa tidur dibuatnya, penasaran adalah hal yang paling kubenci.
            Sepagi ini aku sudah berada di sekolah, karena rasa penasaranku itu membuat hidupku terganggu. Pa Parmin, penjaga sekolah yang baru saja datang itu kutanyai banyak hal tentang bocah lelaki kemarin siang, aku terus nyerocos tentangnya sampai mulutku hampir berbusa, lalu berhenti karena kehabisan nafas, tapi jawaban Pa Parmin hanya gelengan kepala atau sekedar menepuk bahuku dan tersenyum aneh. Aku duduk di depan gerbang sekolah dengan perasaan tersara bara. Kulihat jam di tanganku dan waktu masih teramat pagi untuk datang ke tempat ini. Pa Parmin saja baru berangkat, bisa membayangkan betapa gilanya rasa penasaran membuatku datang sepagi ini. Kupandangi Pa Parmin yang mulai membesihkan ruangan, tapi hari terasa semakin lama untuk menunggu matahari, anak-anak tetap belum berdatangan, Mira, si ratu telat itu, hanya keajaiban yang bisa membawanya ke hadapanku sekarang ini.
            Aku berjalan ke kebun belakang sekolah tempat dimana aku menemukannya kemarin. Tepat di bawah pohon karsen itu, Ia duduk dan bersandar sambil memetik senar-senar gitar dan memejamkan matanya. Perasaan aneh yang baru saja kurasakan ini, perasaan yang mengganggu tidurku semalaman, untuk pertama kalinya di umur empat belasan. Aku duduk dan bersandar seperti apa yang dilakuaknnya kemarin, dan mencoba merasakan perasaan seperti apa yang Ia rasakan, meski pada kahirnya aku tak menemukan apapun. Kupandangi jam di tanganku, waktu seakan begitu lama, sejak jam setengah enam tadi aku tiba di sekolah, meski hanya menunggu sampai jam tujuh, tapi waktu terasa begitu lama. Lalu kuputuskan untuk pergi ke kelas barangkali Pa Parmin sudah membukanya. Namun tiba-tiba sesuatu menarik perhatianku, sebuah gundukan tanah di samping pohon karsen itu. aku segera bergegas menggalinya dan kutemukan banyak kertas-kertas kecil di dalamnya. Tumpukan surat-surat untuk wanita tak bernama.
“dia yang menulisnyakah?” gumamku lirih. Kubaca lembar demi lembar surat itu dan mendapati surat terakhir yang Ia tuliskan kemarin.
untuk wanita tak bernama...
kalau saja waktu bisa kau berikan ulang padaku, aku tidak berharap akan lahir dan menganalmu. Katanya nasib yang paling malang adalah dilahirkan dan pada akhirnya ditinggalkan. Barangkali sebentar lagi aku akan mencarimu dan meminta alasan kenapa kau meninggalkanku meski usiaku masih sangat kecil. Tahukah kau? Saat itu adalah saat yang paling menakutkan ketika hidup di dunia tapi tak memiliki siapapun untuk bersandar, untuk sekadar mengatakan aku lelah di sekolah, atau mengeluh aku lapar dan ingin makan masakanmu, atau seperti anak-anak lainnya memiliki seorang wanita yang dipanggilnya ibu. Tapi aku hanya bisa menyandar pada pohon karsen yang setiap hari menemaniku, mendengarkan keluh dan rengekan sedihku. Pohon karsen ini lebih bertanggung jawab dibanding denganmu. Ini surat terakhir yang kutuliskan untukmu. Barangkali besok aku akan bertemu denganmu dan tidak lagi memerlukan surat-surat ini untuk memarahimu.

            Kali ini kurasakan kegetiran dalam hatiku. Sebuah gambaran nyata seorang anak lelaki yang malang. Alunan nada yang keluar dari senar-senar gitarnya kembali mendengung di telingaku. Tiba-tiba angin menyapu dan menggungurkan daun-daun karsen yang kering, speerti salju jatuh satu-satu terbawa olehnya. Kubenamkan mataku dan kembali bersandar di batangnya yang tambun lalu mendengarkan alunan nada itu kembali berdengung di telinga.
            Hari-hari berganti dan berlalu, kuhabiskan waktuku di kaki pohon karsen ini dan berharap menemukan kembali anak lelaki itu. surat itu memang surat terakhirnya, juga hari itu adalah hari terakhir Ia datang dan bersandar di bawah pohon karsen ini. Meski waktu sudah berlalu dan Ia tak pernah lagi datang ke tempat ini, aku tetap dengan keyakinanku bahwa suatu saat mungkin Ia tiba-tiba datang. Siapa dia, bahkan sekedar nama pun aku tak tahu, namun aku menunggunya setiap hari seperti orang bodoh, meski tahu Ia tidak akan datang tapi aku tetap menunggunya. Suatu hari aku mendengarnya dari Mira, ada murid sekolah kami yang meninggal dunia karena gantung diri. Seorang yatim piatu yang telah lama menderita HIV. Kabarnya penyakit itulah yang membuat Ibunya meninggal dunia saat Ia masih berusia lima tahun, lalu ayahnya bunuh diri karena tak bisa menerima keadaan yang sama, HIV telah menular terlalu cepat, entah darimana asal penyakit itu tapi bocah kecil tak berdosa itu pun tertular.
“namanya Dira...” tutur Mira sambil menepuk punggungku.
            Air mataku meleleh mendengarnya. seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang dalam tidurku dan aku terjebak di dalamnya. Kali ini pun sama, mengingatnya membuat kegetiran lalu seperti kenangan yang tak terhapuskan. Meski sudah setahun berlalu. Di kaki pohon karsen ini untuk pertama dan terakhir kali bertemu dengan bocah lelaki bernama Dira itu. bocah bodoh yang pergi begitu saja dan membiarkanku menunggu, bahkan sampai hari ini aku masih menunggunya, tiap hari aku menunggunya, bersandar dan memejamkan mata di kaki pohon karsen ini, memandangi daun-daun berguguran satu-satu seperti melihat sorot matanya dan masih selalu kuingat jelas alunan nada dari senar-senar gitarnya di pohon karsen ini.
“kamu ngapain di sini?”
“ah...aku Cuma...itu..anu..”

***



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.