Psychopath
Nampaknya aku sudah mulai lelah menghadapi kehidupan yang terus membelenggu keberadaanku ini. Pergi ketempat manapun sama sekali tak mendapat apapun, yang kudapati hanya celaan orang-orang yang mengataiku ini mengatai itu, mereka bahkan tak tahu, tak sama sekali tahu seperti apa hidupku. Aku pikir mereka hanya bisa menghujatku dan memberondongku dengan berbagai celaan mereka. Kadang aku merasa alangkah beruntungnya kalau saja aku bisa mengakhiri hidupku sendiri, bukannya menghabisi nyawa orang lain sekehedak hati lantas memakan dagingnya dan mencabik-cabiknya, atau sekedar menyayat-nyayat bangkainya karena dagingnya yang alot. Lagi-lagi aku pun tak sanggup melakukan apapun selain menerima akibat dari perbuatanku saat aku menjadi diriku saat ini. Berkali-kali aku mendapat cercaan namun rasanya tak separah kali ini, bahkan aku sendiri kehilangan salah satu bagian dari tubuhku sendiri yang tak tahu hilang kemana, atau dimakan apa saat aku tidur, atau entahlah. Hal semacam ini adalah biasa, sebangun dari tidur yang rasanya teramat panjang, kadangkala aku kehilangan salah satunya bagian dari tubuhku. Aku rasa opsir-opsir itu yang melakukannya padaku, hah kenapa tidak sekalian saja mereka gorok leherku biar aku tak bangun lagi dan mendapati diriku yang begitu menyedihkan di tempat seperti ini.
Bahkan kali ini mereka seperti melihatku dengan keanehan yang teramat, entah apa yang terjadi pada para opsir itu, seolah aku ini hantu yang teramat menkutkan atau teramat menggelikan, “kupikir kali ini kalian yang gila hahahahah.” Teriaku. Petugas yang memberiku makan pagi tadi pun lari terbirit-birit saat aku membuka mataku, orang-orang nampak lebih aneh dariku, sudahkah mereka merasa lelah mengejek, mengolok-olok, dan mencela diriku, dan kini mereka mulai menemukan sensasi tersendiri dengan takut padaku, takut pada orang cungkring sepertiku. Aku mulai meraba-raba kejeruji dan mencba melihat keadaan diluar sana, nampaknya hari ini tempat mengerikan ini tak lagi mengerikan bahkan teramat sepi. Aku sendiri kebingungan karena tak mendapati bahkan seorang opsir pun yang menjaga di luar sana.
“apa hari ini ada pemilihan umum? Atau lebaran jatuh pada hari ini? Lucu sekali rasanya penjara tanpa satupun opsir yang menjaga.” Tukasku lirih.
Kulihat bahkan tak ada tahanan lain selain aku sendiri, dan aku mulai merasakan keterasingannya. Aku seperti menjadi manusia terakhir yang tertinggal seorang diri di penjara hina ini. Rasanya tak ada pilihan lain lagi selain menikmatinya dengan keterasingan, menikmati bahwa akulah manusia terakhir yang tertinggal disini, bayangkan saja bagaimana jika aku bukan manusia terakhir, sudahlah, tak usah kurisaukan, apa lacur akulah yang tersisa di tempat ini, barangkali nanti akupun akan lenyap seperti opsir dan para tahanan lainnya.
Aku mengingatnya, ya, aku mnegingatnya, saat aku kelaparan dan tak ada lagi yang bisa kumakan, tak ada yang bisa kuminum, karena tak ada apapun, hanya ada seorang opsir yang tengah mondar-mandir didepanku, menjagaku dari balik jeruji. Ia bahkan tersenyum begitu sengit padaku, tak membiarkanku bahkan untuk sekadar mengeluarkan urea dalam tubhku yang mulai menjadi racun-racun. Opsir itu meludahiku dengan cairan bacin dari mulutnya yang juga bacin. Ya, ia bahkan menodongkan senapannya tepat di hidungku saat aku memintanya sebatas mengantarku ketoilet, Senapan runduk Dragunov SVD (Snayperskaya Vintovka Dragunova), merupakan senapan semi otomatis rancangan Evgeniy Fedorovich Dragunov dari Rusia antara tahun 1958 dan 1963. Senapan ini dianggap sebagai senapan penembak tepat militer pertama dengan presisi tinggi dan banyak dipakai oleh kalangan penembak tepat dinegara-negara Eropa Timur.
Kamar peluru SVD kaliber 7.62 x 54R, dengan kecepatan laras 830 meter/detik, senapan ini dapat menggunakan amunisi Mosin Nagant M1891/30, tetapi akan lebih akurat untuk amunisi 7N1 yang memang dirancang untuk senapan SVD. Tahun 1999, amunusi 7N1 diganti dengan 7N14 dengan bobot proyektil 151 grain. Sejauh ini amunisi 7N14 masih belum dipasarkan untuk ekspor.Jarak mematikan tembakan SVD mencapai 1000 meter, namun jarak tembak yang paling efektif adalah 600 meter. Diacungkannya tinggi-tinggi senapan itu, lalu diarahkan kembali tepat dihidungku. Hei, opsir itu lupa kalau aku hanya sebatas amnusia papa yang terjerembab kebalik jeruji lantaran suatu hal yang nisbi. Mereka berkata aku gila, sementara yang lain berkata aku sinting. Aku hanya akan mengatakan kalau sebenarnya aku kesakitan karena menahan urin dalam saluran kencingku ini. Tapi opsir itu tetap menatap tajam padaku dengan tatapan sengit, kurasa aku satu-satunya manusia gila yang tak memiliki kesabaran, sampai pada batas ingatan terakhirku, saat aku merasakan marah yang menjadi, dan seolah tubuhku lepas dari keberadaanku, aku menjadi manusia lain, jiwaku terpenggal menjadi dua bagian sama rata, dan aku lupa kejadian berikutnya. Paginya aku terbangun dengan tangan di borgol dan diputar kebelakang, kakiku dipasung dan kepalaku di ikatkan pada satu tiang besi berdiameter entah berapa, tapi aku cukup paham bahwa itu besar, dan definisi besar adalah sesuatu yang tak terjangkau oleh tanganmu, bahkan tubuhmu. Lalu darah menempel diwajahku, dibadanku dan diseluruh bagian dari tubuhku. Rasanya lapar yang kemarin hampir membunuhku kini terobati, seperti bermimpi memakan dasing terlezat sedunia, dan mimpi itu terasa nyata. Ada yang ganjil, aku tak lagi berada di penjara dengan jeruji terbuka, maksudku jeruji yang biasa adalah jeruji besi dengan bentuk seperti stik terjajar, bukan seperti tempat sekarang ini, tempat yang bahkan aku sendiri tak tahu kemana pangkal dan kemana ujungnya. Gelap, hanya sedikit cahaya dan itu mengarah pada tubuhku yang krempeng ini.
Kamar peluru SVD kaliber 7.62 x 54R, dengan kecepatan laras 830 meter/detik, senapan ini dapat menggunakan amunisi Mosin Nagant M1891/30, tetapi akan lebih akurat untuk amunisi 7N1 yang memang dirancang untuk senapan SVD. Tahun 1999, amunusi 7N1 diganti dengan 7N14 dengan bobot proyektil 151 grain. Sejauh ini amunisi 7N14 masih belum dipasarkan untuk ekspor.Jarak mematikan tembakan SVD mencapai 1000 meter, namun jarak tembak yang paling efektif adalah 600 meter. Diacungkannya tinggi-tinggi senapan itu, lalu diarahkan kembali tepat dihidungku. Hei, opsir itu lupa kalau aku hanya sebatas amnusia papa yang terjerembab kebalik jeruji lantaran suatu hal yang nisbi. Mereka berkata aku gila, sementara yang lain berkata aku sinting. Aku hanya akan mengatakan kalau sebenarnya aku kesakitan karena menahan urin dalam saluran kencingku ini. Tapi opsir itu tetap menatap tajam padaku dengan tatapan sengit, kurasa aku satu-satunya manusia gila yang tak memiliki kesabaran, sampai pada batas ingatan terakhirku, saat aku merasakan marah yang menjadi, dan seolah tubuhku lepas dari keberadaanku, aku menjadi manusia lain, jiwaku terpenggal menjadi dua bagian sama rata, dan aku lupa kejadian berikutnya. Paginya aku terbangun dengan tangan di borgol dan diputar kebelakang, kakiku dipasung dan kepalaku di ikatkan pada satu tiang besi berdiameter entah berapa, tapi aku cukup paham bahwa itu besar, dan definisi besar adalah sesuatu yang tak terjangkau oleh tanganmu, bahkan tubuhmu. Lalu darah menempel diwajahku, dibadanku dan diseluruh bagian dari tubuhku. Rasanya lapar yang kemarin hampir membunuhku kini terobati, seperti bermimpi memakan dasing terlezat sedunia, dan mimpi itu terasa nyata. Ada yang ganjil, aku tak lagi berada di penjara dengan jeruji terbuka, maksudku jeruji yang biasa adalah jeruji besi dengan bentuk seperti stik terjajar, bukan seperti tempat sekarang ini, tempat yang bahkan aku sendiri tak tahu kemana pangkal dan kemana ujungnya. Gelap, hanya sedikit cahaya dan itu mengarah pada tubuhku yang krempeng ini.
“kreeeett” terdengar seperti bunyi seseorang menggeser sesuatu, lalu terdengar langkah orang berjalan kearahku, langkahnya ringan, dan iramanya seperti langkah seorang perempuan.
“klekk” aku tahu wanita itu menyalakan saklar dan sejurus kemudian semua terang, aku mampu melihat diriku sendiri pada gambaran yang lebih jelas dari sebelumnya, dan mampu pula melihat seorang wanita muda berambut lurus tergerai, mengenakan blus biru dan celana katun bermerk, sepatu hak tinggi yang tidak terlalu tinggi, tapi cukup memperlihatkan bahwa ia berasal bukan dari kalangan biasa. Mungkin saja aku kini tengah bermimpi, didatangi bidadari. Tak kusadari aku mulai berkhayal, tentang segala rupa yang nantinya akan terjadi, orang-orang sepertinya telah banyak menemuiku, dan menanyakan berbagai hal yang tak kupahami sama sekali, dari seluruh yang mendatangiku semuanya bertanya hal yang sama, apakah aku merasa baik-baik saja, itu hanyalah pertanyaan klasik yang kuno. Lalu mereka mulai mendekatiku dengan cara-cara yang tak tulus, penuh kebualan, dan palsu. Apa aku pemakan daging manusia, apa rasanya menarik untuku, ah itu saja yang selalu mereka tanyakan, sementara aku merasa tak ada yang ganjil denganku aku bukan seorang kanibal, pun aku bukan seorang keji yang mampu membunuh orang layaknya cicak, berkali-kali kuterangkan pada mereka hal itu, tapi mereka justru menganggapku gila. Lalu hari berikutnya selalu saja ada kabar buruk tentang mereka sampai ketelingaku, dan aku pun dalam keadaan buruk karena kabar buruk itu datang setelah aku berada dalam keadaan menyedihkan, terkurung pada tempat yang lebih dan lebih dan lebih buruk lagi dari sebelumnya. Hal semacam itu terjadi berulang kali, dan nampaknya kali ini aku harus bersiap-siap untuk kejadian yang sama. Wanita muda itu mendatangiku, semakin dekat dan semakin dekat lagi, ia mulai memandangku sementara aku enggan memandangnya.
“apa kau baik-baik saja joy?” wanita itu mulai mendekatiku, ia bahkan mulai bertanya-tanya tentang keadaanku, tepat sama seperti yang lainnya. Aku teringsut, ketakutan, sebuah rasa takut yang tak jelas asalnya. Kutundukkan kepalaku, sekalipun nafasku turun naik, dan ketakutan itu menjalar kesegala arah dalam diriku. “tidak,,,tak usah takut, joy, namaku erika, aku yang akan membebaskanmu joy.” Ujar wanita itu sembari terus mendekatiku, namun aku tetap menghindarinya semampuku, sekalipun tubuhku tak mampu lagi bergerak kemanapun.
“ joy,,, percayalah padaku, jangan takut, aku akan mencoba membebaskanmu. Joy,,,joy.”
Aku hanya bisa mengendus-endus untuk mengusirnya, agar wanita itu menjauhiku, menghindar dariku sebelum aku benar-benar marah dan berubah menajdi sesuatu yang tak mampu kukendalikan. Kugelengkan keras kepalaku, namun wanita itu tetap kokoh, mendekatiku, mengulurkan tangannya padaku, seakan inginmenyentuhku. Sekali lagi aku mengendus-endus, berharap ia akan tahu sesuatu yang kutakutkan. Diriku sendiri. Kini aku benar-benar mulai terusik, satu bagian dari diriku akan muncul dan tak terelakan lagi, ia akan membuatku berubah menjadi monster, ya, monster yang selalu di katakan orang-orang diluar sana, dan pada saat aku kembali pada jiwaku, kudapati diriku begitu menyedihkan, berada di tempat yang jauh teramat jauh lebih dan lebih mengerikan.
“joy...tidakkah kau mengingatku?”
Suara wanita itu melemah, terdengar ia terisak, aku tetap tak sanggup memandangnya, sebab ketakutanku akan diriku snediri. Tak lama seorang pria yang juga muda muncul dari balik pintu besi itu, sorot lampu yang begitu terang membuatnya terlihat begitu jelas, kemeja dan jas putih serta celana katun hitam, ia mendekat kearah kami, sedikit berlari, sembari memanggil nama wanita yang sedari tadi mendekaitku itu.
“erika,,,erika,,” tukas lelaki itu
“ia bahkan tak mengenaliku, ia bahkan tak mengenaliku tom, bagaimana aku membebaskannya, dan meyakinkan semua orang, kalau ia tidak butuh hukuman tapi terapi tom, terapi. Semua orang di luar sana mencercanya, bahkan ingin membunuhnya, ingin melihat melihat bangkainya, sepertinya mereka teramat ingin merayakan kematiannya, tidakkah mereka paham, bahwa joy sakit, joy kesakitan, ia tak butuh hukuman, tapi penyembuhan tom, penyembuhan.” Tujar wanita itu sembari menangis.
“kalau saja aku menemukannya dengan cepat, ia tak akan sesakit ini tom, ini salahku.”
“ini bukan salahmu erika, aku tahu betapa kau ingin menyembuhkannya, tapi joy telah melakukan banyak hal yang tak pernah terlintas sama sekali dalam pikiran kita. Joy telah melangkah terlalu jauh erika, jika kau terlalu memaksanya, ia akan melakukan hal yang sama terhadapmu.”
“apa maksudmu, aku harus menyerah begitu saja? Tidak tom, aku akan menyembuhkannya, jangan terlalu khawatir dia akan melukaiku.”
Wanita itu pergi meninggalkan tempat ini, menuju pintu besi itu dan enyah, aku tak lagi mampu melihatnya. Percakapannya dengan pria di hadapanku ini sungguh membatku geli dan ingin sekali tertawa. “hahahaha” “kenapa kau tertawa?”
“sejak kecil ia selalu begitu, tak akan pernah menyerah untuk apapun itu, sekalipun ayah kami memukulinya ataupun menyiramnya dengan air panas, ia akan tetap melapangkan tubuhnya untuk melindungiku, melindungi orang tak berguna sepertiku.”
“joy,,,jadi kau mengingatnya?” ujar tom dengan terkejut.
“tak usah begitu terkejut, aku tak mungkin melupakan satu-satunya orang yang selalu melindungiku, sekalipun saat aku berubah menjadi monster.” Kutatap tom yang masih menganga karena bingung, lalu kulanjutkan perkataanku,
“erikalah satu-satunya yang kupunya, satu-satunya yang menganggap keberadanku yang nisbi ini, sekalipun ia hanya bocah perempuan kecil yang ingusan, hanya ialah yang mengulurkan tangannya saat aku terjatuh karena di pukul ayah, atau saat orang-orang melempariku dengan tomat ataupun telur busuk. Ayah selalu melampiaskan amarahnya padaku, katanya ibu mati karena kesintinganku, aku gila sejak lahir, hhh, benar, aku gila sejak lahir, meski begitu, erika selalu myakinkanku kalau aku sama dengannya, sama dengan orang-orang pada umumnya, ia meyakinkanku dan terus meyakinkanku, hanya didekatnyalah aku menyadari keberadaanku tak lagi nisbi, tak lagi samar, bahwa aku juga sama dengan orang-orang di luar sana. Namun, ia pergi, pergi meninggalkanku, membiarkanku menjadi monster yang tak bisa kukendalikan lagi, ia pergi dan lama.”
Aku mungkin hanya monster sekarang, monster yang tak pantas lagi menerima uluran tangan erika, kurasa aku sudah terlalu sinting, sekalipun aku tak menyadari bentuk kesintinganku ini, yang kutahu, tiap kali aku berpindah dari tempat yang satu ketempat yang lainnya, itu jauh lebih menyedihkan dari tempatku sebelumnya. Aku sudah tahu bagaimana aku akan berakhir, tentu saja berakhir dalam bentuk seperti apa dan bagaimana. Berita kali ini adalah tentang kematian opsir yang beberapa hari lalu menodongkan senapan mengerikan ke arahku, aku tahu orang akan berkoar kalau akulah pelakunya tapi sesungguhnya mereka salah, bukan aku, tapi orang lain yang bersembunyi dalam diriku, jiwa yang menenggelamkan kemanusiaanku dalam dunia monster, dan aku menjadi monster dimata mereka sejak lama, sejak lama, sekian lama. Kini sekalipun adik kecilku yang seperti malaikat itu datang kembali, aku tahu aku sudah tak tertolong lagi. Beberapa waktu setelah ini, jiwa yang bersembunyi dalam diriku itu, ia akan membunuh banyak lagi orang, dan akulah yang akan menjadi bulan-bulanan pada saat setelahya. Sudahlah, kini tak ada bedanya antara hidup ataupun mati, siapa yang akan peduli lagi pada manusia sepertiku, barangkali bangkaiku akan menjadi persembahan kemerdekaan manusia-manusia di luar sana yang teramat menginginan kematianku. Kupandangi lelaki bernama Tom itu, semakin jauh dan akhirnya menghilang dibalik pintu. Sudah sedari lama kudengar lelaki itu telah menikahi erika, saat ia berada di jakarta menyelesaikan sekolahnya. Kami hanya dua bersaudara, ku ingat waktu itu, ibu menggendong erika bayi dan menuntunku, kami berkeliling kampung mencari ayah yang sudah seminggu tak pulang ke rumah. Airmata ibu jatuh berbulir-bulir, membasahi wajahnya yang pasi karena tak tidur mengkhawatirkan ayah, namun naas, kami justru menemukan ayah di warung kopi yang lebih pantas di sebut warung pelacur. Ayahku sedang berjudi dan bermain wanita. Usiaku baru enam tahun, saat kusaksikan ibu gantung diri didepan mataku, lucu sekali, aku justru tertawa, dan terus tertawa, menertawakan kesedihanku. Kerap kali ayah pulang hanya untuk melampiaskan marahnya karena kalah judi, atau karena di tipu teman wanitanya yang biadab itu. ayah pulang hanya untuk memukulku, menempeleng pipiku, katanya aku begitu memalukan menjadi anaknya karena aku terlahir cacat, cacat mental, debil, imbesil, atau apalah itu. erika adikku, tapi selalu melindungiku, menjagaku sepenuh hatinya, sampai kemudian orang-orang menyadari kalau aku begitu menakutkan, semua orang takut, menjauhiku, bahkan mereka tak ada bedanya dengan ayah. Hanya erika yang menganggapku manusia, aku seringkali di dakwa di rumah pak kades, katanya aku memakan mentah-mentah ayam mereka seperti seekor serigala yang kelaparan, tapi aku sendiri tak tahu. Tak jarang aku di arak keliling kampung dengan ditelanjangi, erikalah yang bersujud dan memohon-mohon kepada mereka agar melepaskanku, ya, namun itu semua tak lama, sebelum akhirnya erika pergi ke jakarta, ia bilang ingin jadi dokter agar bisa menyembuhkanku, tapi ia salah, ia justru membuatku menjadi monster. Ia pergi terlalu lama, hingga pada akhirnya, sekarang ia datang saat aku sudah tak lagi tertolong, tak lagi bisa di sembuhkan seperti keinginannya itu.
***
Pada detik-detik berikutnya kurasakan tubuhku menjadi dua, dan jwa yang selalu bersembunyi dalam tubuhku itu, kini ia menampakkan dirinya di hadapku, terlihat benar-benar mengerikan. Ia seolah terbentuk dari segunung amarah yang menggunduk, teramat mengerikan.
“hahahahahahahah.....” ia bahkan tertawa keras, keras sekali, tawanya memekakan telingaku, aku lari dan bersembunyi, namun ia tetap mengikutiku, membuntutiku dan tak mau melepasku. Ia seakan ingin menjadikanku budaknya yang selalu mengikuti semua keinginannya itu. kali ini ia membisikkan sesuatu padaku, mendekatkan melutnya pada teingaku, napasnya terendus tak beraturan dan berbau busuk, bau puluhan mayat yang juga membusuk dalam mulutnya.
“ kenapa harus lari? Kau lucu sekali, kau lari dari jiwamu sendiri?”
“tidak...tidak...kau bukan aku...”
“sudah berapa kali kubilang kita adalah satu, kau terlihat begitu lemah dan menyedihkan, apa kau pikir erika bisa menyembuhkanmu? Atau setidaknya mengeluarkanmu dari tempat bedebah ini? Salah besar jika kau berpikir begitu, dia bahagia dengan kehidupannya sendiri dn juga suaminya itu, dia tak akan menolongmu lagi, hahaha.”
“diam!!!!!diam!!!!”
Aku harus pergi dari tempat ini secepatnya, agar orang mengerikan yang wajah dan tubuhnya menyerupaiku itu tak berbicara terlalu panjang tentang erika, dia hanya akan membuatku juga membenci erika. Aku mencoba mencari celah dimana aku dapat menerobosnya dan melarikan diri dari orang mengerikan itu, aku lebih senang menyebutnya monster, namun sayang, benar apa yang ia katakan, ruangan ini memang terlalu biadab hingga tak ada sedidkitpun celah bahkan sekadar lubang tikuspun tak ada. Aku terus beringsut mencari celah, dengan tangan dan tubuhku yang terikat, pun aku hanya mampu beringsut, tanpa kusadari bahwa pergerakanku hanya ilusi, karena sedari tadi aku tak bergerak kemanapun, tiang besi ini terlalu besar untuk kurobohkan dengan tubuhku yang kerempeng ini.
“sudah kukatakan, kau tak kan bisa lari dariku joy, karena kita adalah satu.”
“diam,,,tidak,,,tidak,,, kau bukan aku, kau hanya monster, kau monster.”
Monster itu kini masuk dalam sela-sela jariku dengan tawanya yang tetap melengking, ia terus merayap kesepanjang pembuluh darahku, dan kini berhenti di antara kerongkongan dan tenggorokan, monster mulai merobek-robeknya dari dalam, lalu kulihat kulit legamku mulai meneteskan darah-darah segar. Monster iru bergerak ke bagian lainnya, lalu melakaukan hal yang sama hingga sekujur tubuhku berdarah-darah. Aku berteriak-teriak memanggil erika, namun erika tak kunjung datang, sekali lagi ku panggil dia, dia tetap tak datang menolongku seperti janjinya itu. sudah lama ku bayangkan hari ini, hari dimana aku akan habis seperti ini, dan tak ada yang mengacuhkanku, telah lama kubayangkan akan seperti ini hidupku berakhir. Lebih menyedihkan dari sekedar kematian seekor anjing hutan dalam rimba. Samar-samar kudengar suara erika memanggil-manggil namaku, mungkin saja itu hanya ilusi pengantar kematianku, kali ini orang-orang akan berpesta pora, ya, menikmati akhir kisahku yang tragis.
“joy,,,jangan menyakiti dirimu sendiri,,,joy sadarlah.”
Lagi-lagi suara erika terdengar begitu samar, namun kali ini ilusi itu terasa nyata, kudengar tangisnya yang terisak begitu dekat ketelingaku, kurasakan tangan erika menarik monster itu dari tubuhku, tapi, aku sudah berakhir, benar-benar sudah berakhir.
“joy,,,” ***
Comments
Post a Comment