Puzzle Gila
R. I Wijayanti
kau boleh menyusunnya menjadi seperti apapun, merangkai alur yang kau inginkan dan menemukan sendiri makna dan keabsurdannya ataupun mendapati bahwa kau hanya sia-sia membacanya karena tersesat dan salah menyusun puzzle ini, tapi sebenarnya semua yang akan kau susun tak ada yang salah karena penyusunannya bergantung pada sejauh mana keliaran imajimu sendiri. Jadi susunlah dengan kegilaanmu,!!!!!
Aku ingat dua hari lalu ia mengunjungi rumahku, membawa martabak telor kesukaan anakku yang pertama, dan membawa tahu susu untuk anakku yang kedua, sedang suamiku sendiri, ia diberi peci katanya biar shalatnya lebih khusyu, tentu kupikir bukan itu maksud sesungguhnya, aku sendiri tak diberi apapun. Seharusnya kuceritakan ini padamu kemarin tapi aku terlalu jengah melihat pertunjukan konyol itu, dia juga berbincang-bincang dengan suamiku lama, kau tahu? Mereka ngobrol di ruang keluarga, hanya ada mereka, ah kau tidak usah bertanya aku ada dimana karena itu sangat mengiris hatiku, asal kau tahu, sejujurnya aku ngumpet dibelakang sofa tempat mereka duduk. Konyol, iya aku tahu kau pasti berpikir seperti itu, tapi kau juga tahu kan perasaanku, kuceritakan ini karena kupikir kau merasakannya juga. Aih mereka sangat serius, sekalipun aku berada sangat dekat tapi tetap saja aku tak mengerti pembicaraan mereka. Seolah-olah mereka punya sandi-sandi untuk saling mengungkapkan sesuatu.
Saat dia kembali duduk diruang makan, seharusnya kau berada disana dan melihat sendiri ekspresi wajahnya yang terlihat tak berdosa, senyum-senyum tak jelas. Pasti kau akan bertanya apa yang kulakukan selanjutnya, baiklah kulanjutkan saja ceritaku, aku memandangnya dengan tatapan tajam seperti ini, lihat kesini, kemataku, mataku melotot seperti ini, ya tepat seperti ini lalu bibirku monyong begini, iya begini, dan hidungku mengembik seperti ini juga, kau bisa bayangkan aku saat itu kan, dan seharusnya kaupun bisa melihat raut wajahnya saat itu, wajahnya memerah seperti tomat. Kau jangan menyalahkanku, habis aku sendiri sangat marah padanya, ia bahkan mencoba menggaet suamiku dengan peci jelek itu, ah sudahlah kupikir kaupun tak akan mengerti perasaanku.
aku kan sudah menceritakan padamu kenapa kau tetap tidak mengerti, kau memaksa kebagian ini, kalau kau tak sabar ingin tahu siapa dia baiklah, aku sendiri tak mengenalnya, si sum tukang gosip itu pernah mengatakan padaku kalau dia adalah orang gila yang baru saja keluar dari rumah sakit gila, rumah sakit jiwa maksudku “dia itu gila, kemarin saja aku melihatnya memakan rumput dibelakang rumahku, apalagi coba sebutannya kalu bukan gila, sinting? Asal kau tahu minem, dia itu makan dengan lahap rumput itu, bahkan ia seperti sangat menikmatinya, sepertinya dia itu sangat kelaparan, aku juga dengar kalau dia itu baru saja diarak keliling kampung karena dituduh selingkuh, anaknya bahkan dikeluarkan dari sekolah, ya apalagi kalau tidak meniru sifatnya itu.” itu kata si sum saat kami bertemu kemarin lusa, tapi kau jangan dulu percaya karena kau tahu sendiri kan si sum itu siapa, mulutnya itu lebar, kaya ember bolong, banyak ngomong, memang si kadangkala omongannya benar, tapi seringnya sama sekali tak benar, si sum itu ratu gosip, mungkin saja si sum itu hanya membual tentang dia. Aku rasa ia bukan gila, tapi sedikit sinting, aku pernah melihatnya sedang duduk sendirian malam-malam dijembatan dekat rumahmu itu, dia melamun sendirian sambil menghisap tembakau yang digilingnya tiap beberapa menit sekali, ya aku melihatnya dengan jelas. Setelah itu ia berbicara sendiri semabari tertawa-tawa sendiri dan menangis lalu tertawa lagi. Menurutmu apa dia gila? Ah aku tetap merasa dia itu tidak gila, tapi sedikit sinting. Aku sendiri tidak tahu siapa dia sebenarnya. Bahkan hampir setahun setelah aku mengenalnya , tetap saja aku tak tahu pasti siapa dia.
Kupikir seharusnya kau menanyakannya pada si pram, kata si sum dia dekat dengan si pram itu, sudah sejak lama si sum menyelidiki hubungan antara mereka berdua. Aku saja kaget kenapa si sum itu begitu antusias menyelidiki hal itu, ah dia memang benar-benar maskot gosip.
kukatakan sekali lagi dia itu memang gila, kegilaannya membuatku juga gila, kupikir orang-orang sepertinya telah musnah tapi ternyata satu tersisa, dia. Kemarin dia menemui suamiku dan entah apa yang mereka perbincangkan yang kutahu dia itu memang gila. Kau bisa memberiku saran apa yang harus kulakukan? Tolonglah aku benar-benar sudah tak tahan lagi atas sikapnya dan keberadaannya yang lagi-lagi mengacaukan hidupku, mengacakukan keberadaanku. Anakku yang kedua sekarang minggat dari rumah, kurasa itu karena dia, dia menjadikan anakku juga ikut-ikutan gila, tak waras, sinting,,,bisa kau beritahu aku apalagi padanan katanya? ya seperti itulah kira-kira. Kau juga tahu kan kalau akhir-akhir ini banyak hal yang membuat banyak orang jadi gila, pak kades saja dua minggu yang lalu dilarikan kerumah sakit jiwa, lantaran tak kuat didemo warga karena kegilaan yang disebabkan oleh si dia itu, hah lagi-lagi dia mengacaukan ketenangan semua orang. Andai saja sekarang dia ada disini akan kujambak rambutnya yang keriting itu. kucakar-cakar wajahnya dan kuremas-remas kepalanya. Tapi apa lacur aku hanya seorang wanita lemah yang tak punya kekuatan apapun, sedangkan dia,,,,,,,,,kau seharusnya membantuku mencari solusi atas masalah yang membuatku gila ini, bukannya tertawa dan menertawakan kegilaanku,,kalau begitu sama saja kau gila. Ya apa boleh buat sudah sangat kentara, kita semua dibuatnya gila. Ah si sum juga, dia semakin membuat hati didadaku panas, dia bahkan mengatakan seperti ini “ hei minem hati-hati suamimu digaet sama dia, apa kau ini tak tahu atau pura-pura tak tahu, atau bahkan kau tak paham kalau sebenarnya anakmu yang kedua itu juga minggat karena dia, dia itu serigala berbau madu, siapa tahu setelah ini suamimupun akan minggat juga. Apalagi katanya dia sudah tak ada hubungan lagi dengan pram, iya pram yang digosipin selingkuhannya itu lho, yang diarak keliling kampung. Setelah kejadian itu kabarnya pram sendiri menghilang entah kemana, o.y ada yang bilang kalu pram bunuh diri lantaran malu, sedang dia sendiri jadi gila, dan menggilai banyak orang, termasuk suami dan anak keduamu itu nem.” Ah sudah kubilang kalau si sum itu tak semestinya dipercaya, tapi kenapa aku sendiri percaya begitu saja, ya seperti inilah hasilnya, aku merasa gila sendiri seharusnya kau ada saat si sum itu mengatakan hal itu. satu hal lagi si pram tidak bunuh diri, tapi kabarnya dia kembali pada bekas istrinya dulu. Aku sendiri baru tahu kalau si pram dulu pernah menikah, ya walau bagaimanapun si pram itukan juga manusia yang sepantasnya seperti juga kau, seperti juga aku, perihal kelainannya sekarang itu sungguh diluar dugaan, mungkin kau bisa menemukannya dibagian lain.
mengapa harus kebagian ini, seharusnya kau kebagian lain untuk menemukan arti kegilaanku dan kegilaanmu, aku sudah menyarankan untuk menemukannya terlebih dulu, tapi tak mengapa jika kau mau menemukan sesuatu dibagian ini. Dimana kau hari ini? Apa kau tak mendengar berita tentang dia? Kabarnya dia kembali kekampung ini lagi, dengar tidak beritanya? Inikan bukan hal baru, ya memang si sangat santer jadi perbincangan. Dia kembali dengan anaknya, ya anaknya yang kata si sum itu dikeluarkan dari sekolah, sebenarnya bukan seperti itu ceritanya, anaknya itu pergi keluar negeri, kata orang-orang anaknya itu pintar jadi dia dikirim keluar negeri. Kan selalu kubilang padamu kalau si sum itu ratu gosip, tukang ngomong yang tak jelas kebenarannya, iya, iya aku juga tahu maksudmu kalau aku juga pernah termakan omongan si tukang bual itu ya musti bagaimana lagi si sum itu pintar ngomong bahkan kata si sum si dia itu orang gila yang mau menggaet suamiku. Seharusnya aku sendiri yakin kalau suamiku itu masih normal-normal saja. Aku memang pernah mendapatinya seperti orang aneh yang duduk dipingir jembatan dekat rumahmu itu, dia tertawa sendiri menangis lalu tertawa lagi, tapi kau sendiri sejak awal sudah tahu bahwa aku tak perah bilang dia itu gila, mungkin saja dia itu sinting. Aku sendiri heran saat anak keduaku itu pulang kerumah dan banyak mengatakan padaku tentang si dia itu, anak keduaku sudah menganggapnya sebagai orang tua sendiri, anak keduaku hanya pergi untuk menemani dia menjemput anaknya dibandara yang habis dari luar negeri itu, anak keduaku itu rupanya teman dari anaknya yang kata si sum dikeluarkan dari sekolah itu. Tapi tidakkah kau bertanya-tanya kenapa si sum begitu membenci si dia? Sampai-sampai dia menyebarkan berita-berita gila ini? Coba saja kau cari bagian-bagian sebelumnya atau sesudahnya atau pada bagian yang tersisa, ini sungguh membuatku gila.
kupikir kali ini si sum yang gila, aku melihatnya dikebun dekat rumah pak kades, ia marah-marah sendiri, matanya merah saga, dan tangannya dikepalkan erat. Aku sendiri tidak melihatnya begitu jelas, tapi si sum seperti sedang menaruh beberapa buntelan yang aku sendiri tak tahu itu apa. Ia mengubur buntelan itu tepat dibelakang rumah pak kades sambil komat-kamit seperti dukun saja, tahukah kau? Aku hampir-hampir tertawa terbahak-bahak saat si sum juga mengambil beberapa helai kain dari jemuran pak kades. Ya kau benar kenapa aku tidak berpikir untuk mendekati si sum dan bertanya apa yang sedang ia lakukan, ah rasanya itu bukan ide yang baik karena kau tahu sendiri kan kalau si sum itu pembantu pak kades ya sudah sewajarnya ia mengambil pakaian jemuran pak kades. Yang aneh adalah saat si sum tiba-tiba membakarnya dan dia berjingkrak-jingkrak seperti sedang melakukan ritual khusus, ya si sum mirip orang-orang hipy yang sedang melakukan ritual persembahan pada dewa-dewa. Aku saja tercengang melihat si sum yang tukang gosip itu berubah terlihat seperti madam-madam peramal. Kau jangan salah sangka dulu, karena akupun sejujurnya tak ingin beerprasangka terhadapnya, aku sudah cukup gila dengan suamiku yang kata si sum digaet oleh si dia, iya si dia, yang membuat suami dan anakku kabur, minggat. Kupikir si sum ini memang kali ini sudah gila, ah bukannya kita semua memang gila karena si dia yang menyebarkan kegilaan, iya kau mengingatkanku bahwa itu semua kata si sum. Ada yang aneh lagi, tiba-tiba saja warga-warga berhuyung-huyung datang kerumah pak kades dan melempari rumah pak kades dengan batu dan kerikil, mereka saling berteriak begini “ kami minta orang gila itu diusir dari kampung ini, atau pak kades harus turun jabatan, kami tidak mau orang gila sekaligus penyuka sesama jenis itu ada dikampung ini, menjijikan, dia kotor, dia harus diusir.” Iya puluhan orang itu meneriakan hal itu, mereka ingin mengusir orang itu, siapa lagi ya si dia itu, apalagi setelah kata si sum dia itu ada hubungan dengan si pram, gila, bahkan kau sendiripun tahu kalau mereka itu sama-sama laki-laki, sama-sama pria, ya aku sendiripun tak begitu kaget bahkan sedikit merasa lega karena ternyata bukan suami ataupun anak keduaku itu yang digaet sama dia. Dia itu datang kekampung ini setahun yang lalu hanya berdua dengan anaknya yang seumuran dengan anak keduaku itu. suamiku adalah ketua Rt jadi dia sering kerumahku, awalnya biasa saja sampai si sum mengatakan kalau dia itu tidak normal dan sepertinya suka pada suamiku, semenjak itulah aku jadi khawatir, aku was-was dan aku mulai memperhatikan gerak-geriknya.
Orang-orang yang berdemo itu juga aku sangat yakin bahwa mereka tahu dari si sum, yang lebih parahnya demo mereka berimbas pada kegilaan semua orang, bahkan pak kades mendadak linglung, tidak, maksudku sinting lantaran sebagian rumahnya rusak dan ia sendiri terancam lengser dari jabatan yang sangat dicintainya itu, bagaimanapun kalau aku jadi pak kades, atau kau jadi pak kadespun akan lebih gila, bayangkan saja pak kades harus menjual tanah miliknya berhektar-hektar untuk mendapatkan posisi kades. Aku yakin sekarang kau tahu siapa si sum.
aku dengar dari orang-orang katanya si pram menghilang semenjak kejadian diarak keliling kampung bersama dia karena ketahuan berselingkuh, padahal si pram sudah punya istri, dan istrinya itu perempuan, tapi dia mulai gila malah berselingkuh dengan seorang lelaki yang sudah punya anak 20 tahunan, siapa yang tidak merasa jijik dan marah, kalau kau bagaimana? Ah sudahlah aku tahu jawabanmu. Tapi hal ini benar-benar mengejutkanku, karena kabar burung yang sampai ketelingaku bahwa istri si pram itu adalah si sum, iya si sum yang suka menggosip itu. Si sum itu istri si pram, mereka menikah lama, mungkin seusia dengan pernikahanku, seharusnya si sum sudah punya banyak anak tapi sayang si sum tidak punya satupun anak. Kata tetangga tempatnya tinggal dulu, si sum dan si pram sering bertengkar, ya apalagi kalau bukan masalah anak, si pram menuduh si sum yang mandul, si sum sendiri menduh si pram homo, tidak normal, si sum menuduh si pram sering keluar malam dan pulang pagi dengan si dia karena mereka ada hubungan tak wajar. Sering, bahkan setiap hari si sum dan si pram bertengkar hebat, sampai si pram menalak si sum, dan pergi meninggalkan rumah bahkan kampung tempat tinggal si pram dulu. Kabar burungnya si pram merantau, sedang si sum jadi pembantu di rumah kepala desa, tapi akupun tak pernah tahu sal-usul si sum, si pram ataupun si dia, kabar burungnya lagi si pram menemui si dia, sampai kejadian yang mengakibatkan lengsernya kepala desa, kabar burungnya kali ini si pram mati dan si sum sendiri jadi gila.
Maret 2011
Kau tahu, ini karyamu yang paling aku sukai. Saat membaca ini pertama kali, di kertas putih yang ku tahu kau semangat sekali saat mencetaknya, aku membatin : gadis yang luar biasa. Apakah ceritaku dapat ditulis olehnya? Lalu aku tersesat. Maaf.
ReplyDeleteFyuh, aku bahagia ketika kau berkata telah menemukan ia yang akan membahagiakanmu. Aku hanya menyesal, mengapa Tuhan begitu senang *menjahili*-ku, memperlihatkan suara-suara hatimu ini, ketika aku telah menjadi begitu *tua*? Eh, kau tahu apa yang diinginkan seorang ibu - kelak kau juga akan mengalaminya, dari anak perempuannya? Ya, seorang lelaki yang mampu di bahunya mengangkat kehidupan orang banyak : istri, keluarga, manusia.
Tapi, terkadang ada ibu-bapak yg tak tega memisahkan anaknya dengan yg dicinta. Siapa itu? Ibu-bapakku, saat kakak pertamaku menikah.
Maafkan aku. Akan aku tebus kesalahanku, sungguh.