Bagian II
Sebuah bayangan hitam menyerobot ke hadapan Afa seperti macan menemukan mangsa incarannya. Di antara peluh keringat membanjiri tubuhnya, Ia lebih takut microchip itu jatuh ke tangan mereka. Mata bengis dan bau sengit itu begitu jelas. Di depannya kebengisan itu begitu jelas seakan Ia, begundal itu, sangat membenci dirinya. Lima belas hari lalu, Ia lah tujuan hidup para begundal itu. pemuda itu lah yang memaksa mereka meninggalkan rumah dan keluarga mereka. Demi bocah dan microchip ditangannya itu. masih teringat jelas dalam benak mereka, tawa dan kebahagiaan hari-hari lalu, saat bocah-bocah kecil yang lugu tu duduk di pangkuannya, dan berdendang suka-suka.
“ayah, hari minggu besok ke taman ya yah...” celetuk salah satu dari bocah lugu itu. sambil membelai rambut ikalnya, pria bertubuh tambun itu menarik ujung-ujung bibirnya, sambil terus mengayun-ayun bocah itu dalam pangkuannya. Hanya beberapa kali saja dalam hari-harinya tersisa untuk mereka, betapa ingin memanjakan bocah-bocah itu seperti halnya ayah yang baik, namun hidup bukan hanya harus menjalani realitas. Pintu rumahnya hancur berkeping-keping. Wanita usia 40 tahunan itu, berambut agak ikalnya diikat satu lebih menyerupai sanggul-sanggul priyayi jawa masa penjajahan Belanda, berlari tunggang langgang mengahampirinya yang tengah duduk dengan bocah-bocah lugu itu.
“mereka datang....” suara itu menelusuk jelas ke telinga pria tengah baya itu. matanya terbelalak, diturunkannya putri kecilnya dan buru-buru menarik mereka, istri dan anak-anaknya ke ruangan rahasia dalam rumahnya. Di bawah gorong-gorong dipan kayu tersembunyi sebuah lorong bawah tanah menuju kebun belakang rumah yang bisa menghubungkannya ke jalan besar.
Afa berdiri mengumpulkan sisa-sisa kekuatan di kakinya, wajah tirusnya tetap tertunduk. Matanya menerawang ke semak-semak, pada tanah hitam di bawahnya, ke dalamnya dan lebih dalam lagi. Membayangkan tubuhnya terlentang membujur kaku di dalam sana. Bibirnya yang kering meringis, entah berapa hari sejak terakhir kali ia sempat menegu air rawa. Para pembunuh bayaran itu mulai mendekat ke arahnya, semakin dekat hingga Afa bisa melihat dadanya pun endusan napasnya yang bau kecut. Bukan hanya pemuda itu yang merasakan kelelahan, namun begundal-begundal itu sesungguhnya jauh lebih dan teramat lelah darinya, Afa paham betul hal itu. Tekanan dan ancaman yang telah menanti, kehilangan anak-istri, keluarga, bahkan anak sendiri. Sesungguhnya mereka hanya orang-orang tak beruntung, terpelosok ke dalam organisasi itu, dunia setan yang tak kenal nurani apalagi belas kasih. Doktrin-doktrin membuat orang-orang tak beruntung itu menjadi robot, menjadi mesin-mesin di bawah kendali satu pemimpin yang mereka sebut suhu agung. Saat pertama kali memasukinya, jaminan pertama adalah nyawa, menjadi bagian dari organisasi gelap itu dengan pertukaran mahal, nyawa sendiri, anak-istri, sampai akar-akar keturunan mereka. Sebuah persaudaraan yang erat adalah ketika darah yang sama mengalir di tubuh mereka. Mereka yang menjadi anggota dari organisasi gelap itu masing-masing memiliki satu simbol persaudaraan ditubuhnya. Yang mereka sebut trinacria. Afa mengangkat wajahnya, menatap para begundal itu tajam dan senyum sengit tersungging di sudut bibir keringnya.
“tidakkah kita berjodoh?” tukas salah satu dari pembunuh bayaran itu, senapan laras panjang buatan rusia dengan butiran peluru kekuningan yang mereka sebut parabellum, benda mematikan yang biasa digunakan tentara Amerika itu terarah pada Afa.
“melepaskanku berarti memilih mati dan membunuh semua orang yang kau cintai, membunuhku, namamu akan tercatat dalam buku bendel merah pengabdi setia sebagai pahlawan garda depan, tapi jika aku mati, kalian dan persaudaraan bodoh kalian tetap akan berakhir.”
Satu begundal itu semakin berniat menghabisi Afa. Senapan itu sudah terbidik tepat di sasarannya. Jika itu adalah batok kepalanya, maka hanya dalam hitungan menit Afa akan berakhir, jika itu dada kirinya atau sedikit lebih ke bawah, ginjal, atau hatinya, mungkin saja Afa juga hanya tinggal nama untuk beberapa saat setelahnya. Namun mereka tahu, apa konsekuensi dari kata “membunuhku” atau “melepaskanku”, pilihan sulit untuk mencari titik-titik yang akan melumpuhkan pemuda itu namun tak mengancam nyawanya.
Pemandangan yang lucu bagi seorang seperti Afa, karena dalam pikirnya, mereka tak akan pernah menarik pelatuk di ujung jarinya itu. atupun setidaknya ketika dia harus mati, dan kawan-kawan yang tak jelas nasibnya itu, apakah mati atau masih hidup dan bersembunyi di suatu sudut entah dimana, atau bahkan menjadi santapan empuk hewan-hewan nokturno. Kami semua akan mati dengan kepuasan, kedamaian dengan hancurnya persaudaraan kuno itu. sejujurnya Afa sendiri tidak terlalu yakin pada keyakinan itu, pada John yang begitu mempercayainya, ataupun begundal-begundal di hadapannya itu. Ia hanya tertawa kecil, tawa sengit untuk mengejek betapa bodohnya mereka yang hidup seperti robot, menjadi mesin-mesin era baru yang di gembar-gemborkan para pengabdi setia ilmu pengetahuan. Afa mencoba meraba microchip di sakunya. Ia sendiri tak tah jelas apa isinya, yang ia tahu, beberapa waktu sebelum pengejaran, John memberikan microchip itu sambil berkata, “ jangan biarkan mereka memasuki alam bawah sadarmu.”
Sniper-sniper tangguh yag datang menjadi begundal itu menekan pelatuknya tiba-tiba. Suara gemuruh bergema sesaat sebelum tubuh Afa bergetar. Afa masih berdiri tegak ketika sebuah benda kecil tiba-tiba menyerobot dadanya secepat kilat, membawa asap-asap tipis dan berbau.
“seperti inikah akhirnya? Inikah pilihan kalian sesungguhnya?” suara Afa terdengar makin tersedak, darah segar mengalir deras dari dadanya yang bidang, pun dari mulutnya yang entah kapan untuk kali terakhir meneguk setetes air ataupun menelan secuil makanan. Napasnya semakin terasa sesak, dan sisa-sisa kekuatan di kakinya rantas. Ia, pemuda 22 tahun itu terhempas di antara pekatnya malam, di antara rerimbunan pohon, dan bunyi-bunyi jangkrik bersautan. Matanya masih menerawang ke awang-awang, di antara kesadaran dan kenisbian, menerawang jauh pada ingatan-ingatan di otak kecilnya, gambaran-gambaran itu berkelebatan di matanya. Tentang pelarian selam lima belas hari, tentang John yang menghilang, tentang Doni, tentang Anna...***
aaaarrgghh,,, aku hidup lagi! aku hidup lagi untuk menjemputmu! :)
ReplyDelete