Skip to main content

menatap senja di sudut matamu


Menatap Senja di Sudut Matamu
Sepotong  kisah sahabat

Bulir-bulir asin nampak mengendap di matanya yang mulai mengatup senja, seakan menahan rasa yang tak ingin Ia tampakkan di hadapan orang-orang tercitanya. Betapa Ia mencintaiku teramat dalam, hingga tak ingin luka yang dirasanya, juga dirasakan olehku, anak perempuan kedua dari empat bersaudara. Langit masih mendung saat aku meninggalkannya dengan beribu rasa menjalar di sekujur tubuh dan jiwaku. Ingin sekali berlari memeluknya, mencium pipinya yang mulai nampak keriputan-keriputan kecil, meneriakkan namanya, dan betapa aku mencintainya, pun teramat mencintainya. Namun gambaran mimpi-mimpi yang kuperjuangkan dan kuyakinkan padanya dulu, membuatku harus diam, menatapnya dari balik kaca bus, melihatnya melambaikan tangannya yang masih tetap kekar meski usia semakin menuruti langkah bijaknya. Saat mengingat itu, hatiku terasa dingin, terasa kosong, teramat merindukannya yang selalu mengorbankan segalanya untukku, andai bintang dapat dipetiknya, Ia akan membawakan sekarung untukku, hanya untuk menerangi kamarku, sementara Ia siap meski harus hidup di bawah kolong-kolong yang gelap sekalipun, asal aku tidak sepertinya. Kali ini pun aku mengingatnya, menatap bintang dan malam yang sepi, teramat merindukan keberaannya, Bunda, juga adik-adikku. Betapa jauhnya jarak memisahkan kami, terkadang aku berpikir, sampaikah aku pada apa yang kujanjikan padanya, sampaikah aku pada setiap jengkal mimpi-mimpi yang membuatnya harus berkorban terlalu banyak,memikirkan hal itu membuat bayang-bayang wajahnya semakin nyata, kerutan-kerutan di keningnya, pun sudut-sudut matanya yang mulai senja. Tapi angin barat masih berarak ke timur, dan lautan masih berwarna biru, keyakinan yang selalu kuyakini tatkala kegelisahan mulai menyeruak menguasai kepercayaanku terhadap mimpi dan cita-citaku.
      Angin menerobos sel pori kulitku, kesejukannya menjadi tasbih kerinduanku padanya. Saat aku berdiri memandang matahari tenggelam di ufuk barat, dan burung-burung berarak kembali ke tempat asal mereka, sementara pohon-pohon menikmati hembusan-hembusan itu, tepat empat tahun sudah sejak kepergianku meninggalkan sarang, meninggalkan kamar-kamar cintanya, tapi hatiku tetap terikat tali cinta itu, kemanapun aku pergi, dan mimpi yang pada akhirnya kudapati, menatap langit, menatap senja, langit yang sama, tanah yang sama, dan angin yang sama seperti pertama kali aku kesini,empat tahun silam. Kedamaian yang tak terbayangkan sebelumnya, likunya jalan, terjalnya jurang, dan tinginya gunung gemunung yang telah terdaki. Kini aku berhasil menatap senja dengan kedamaian cinta dan pengorbanannya, seperti burung-burung itu, akupun akan kembali, berarak menuju tempat kembaliku, menujunya yang teramat kurindu. Menggenggam seberkas kata mimpi, dan membawakan sepenggal kata keberhasilan, kini aku menanti hari untuk kembali. Ada kisah lain yang kubawa bersamaku esok, kisah yang tak ada dalam mimpiku sebelumnya, namun membuatku menoleh kearahnya saat dipertengahan jalan-jalanku. Ingin segera kukabarkan padanya kisah itu, tentang seorang pemuda yang lalu menjadi jembatan hati putrinya ini, ingin segera kuceritakan padanya tentang seorang pemuda yang mungkin akan membuatnya merasa iri, karena cinta itu akhirnya bukan hanya untuknya, tentang seorang pemuda yang akan menjadi imam untuk putrinya. Saat menanti senja kali ini, saat esok aku akan menjumpainya yang mungkin semakin menua, semakin legam, dan sudut-sudut matanya yang makin mengkerut, aku sungguh berharap Ia, lelaki yang teramat kucintai itu, Ayah terbaik untukku, malaikat kiriman Al-Illah yang menjadi akar penguatku, akan menukikan seulas senyum pada pemuda itu.
“INDAH...?” suara lembut itu terbang bersama angin menerobos celah-celah rumah siput di telingaku, aku berbalik dan mendapati pemuda itu tengah berdiri metatapku tajam, tersenyum padaku, memancarkan sebeerkas sinar-sinar yang tak terdefinisikan.  Menambah kedamaian dalam ruang fitrah di hatiku. Aku tersenyum membalasnya, Ia berjalan ke arahku, langkahnya menampakkan betapa bijaknya Ia, betapa langkah-langkah itu adalah langkah-langkah yang akan kuikuti, langkah suci menuju ridhonya hidup, keridhoan Illahi.
“tiket kereta sudah kupesan, besok kita berangkat pagi.” Tegasnya sembari memberikan sebotol minuman dingin kesukaanku. Aku hanya menukikan senyum simpul dan mengikuti langkahnya, kami berdua berdiri di hadapan mentari yang semakin tenggelam, menantikan esok yang bahagia, mengharapkan Ia, orang yang sangat kucintai itu, akan menerima pemuda di sampingku ini, untuk membimbingku, melanjutkan tugasnya, membawaku pada keridhoan-Nya yang agung.
“semoga Ayahmu menerima pinanganku, dan mempercayaiku untuk mejagamu karena Allah...”
Air mataku menaglir tanpa kusadari, pun hal yang sama di mata pemuda di sampingku ini, kami menatap senja bersama, menatap senja di sudut-sudut pengharapan suci.


Comments

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.