Skip to main content

kidung dan tasbih


Kurindukan keberadaanmu
Aku rindu padamu yang membawaku pada malam-malam penuh kehusyuan
Dalam bungkukan-bungkukan pengharapan
Dalam sujud penuh kenikmatan
Aku rindu padamu yang memandikan badanku dengan air dari telaga-telaga firdaus
Merengkuh ruhku dalam selimut-selimut kepatuhan, ketaatan
Gersang. Saat tiba-tiba kau menghilang
Meninggalkanku, atau aku yang membenamkanmu dalam tanah-tanah dosa?
Aku merindukanmu yang selalu menarik lidahku hanya untuk doa-doa pengharapan dan penghambaan
Aku benar-benar merindukanmu
Bagimana jika ternyata aku kehilanganmu?
Sementara entah esok ataupun nanti, atau saat ini
Badan ini segera membusuk bersama cacing-cacing yang menggeliat diantara tanah dan bebatuan
nyawa, jiwa, dan ruh akan terbang meninggalkan ruangnya yang rapuh
rumah singgah yang hanya sebatas onggokan daging dan tulang belulang
yang juga akan terbenam dalam tanah
aku sungguh merindukanmu. Iman!

Raga yang rapuh, 14/04/11


Comments

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.