Skip to main content

the secret of soul


The Secret Of Soul
Aku masih temenung diantara kawan-kawanku yang terus metertawakan diriku dan cerita laluku yang konyol.
“dan kau percaya?”
“tak ada alasan untuk tak mempercayainya.” Aku menghela napas panjang lalu menghembuskan pelan. Kudengar tawa mereka semakin menjadi, tapi kau akan tahu kalau aku sama sekali tak mempedulikan hal itu. Aku yakin kau akan seyakin diriku, bagaimana tidak, setiap malam aku menemuinya di kehidupan lain. Meski mereka semua pada akhirnya hanya akan mentertawakan diiriku. Aku memutuskan untuk meninggalkan mereka yang membuat hatiku makin galau.
“hei Ruichi, kau mau kemana?” suara mereka memanggilku namun berlalu begitu saja, aku lelah dan tak ingin lagi memedulikan tawa itu. Harapan satu-satunya yang tertinggal adalah bahwa kau akan mempercayaiku lebih dari mereka, kau akan percaya bahwa apa yang kualami dan kurasakan adalah benar-benar terjadi. Ada kehidupan lain yang membungkus kehidupanku menjadi orang lain, setiap malam, meski itu dalam mimpi, tapi aku yakin itu adalah nyata. Aku masih berdiam diri sepanjang jalan setapak menuju rumahku. Jalanan begitu lengang, hanya ada aku dan angin yang menerbangkan daun-daun bunga plum. Pikiranku masih melayang jauh entah dimana, pada tempat yang benar-benar  tak kukenal, pada diriku yang menjadi orang lain, seorang wanita. Aku teringat ketika Ibu masih hidup dulu sewaktu aku masih usia belasan, ibu berkata padaku,
 “kau memang ajaib, sewaktu dalam kandungan Ibu kau adalah jabang bayi perempuan, tapi semua ternganga dan hampir tak percaya saat kau lahir menjadi seorang bayi laki-laki.” Ucap Ibu masih dengan keheranan dalam hatinya.
“mungkin kau ataupun dukun-dukun itu salah mengira-ira bahwa yang dalam rahimmu adalah seorang bayi perempuan.” Ucapku sambil lalu tak memperhatikannya.
“meski tahun kau lahir desa kita masih belum terjamah teknologi yang rupa-rupa seperti sekarang ini, tapi rumah sakit besar di kabupaten sudah ada alat untuk menerawangmu di dalam perut Ibu.”
USG?”
“ah iya, kata wanita-wanita muda yang mereka sebut bidan itu juga kau adalah jabang bayi perempuan. Bahkan Ibu sudah menyiapkan semua peralatan bayi perempuan, baju-baju, juga nama Nagisha.” Kulihat Ibu menghela napasnya panjang dan menelan dalam-dalam kekecewaannya.
“Tuhan lebih ahli dari alat itu Bu, kuharap Ibu tak menyesali aku laki-laki.” tuturku yang juga sedikit merasa kecewa melihat kekecewaan di wajah Ibuku, wanita yang teramat kucinta itu.
“tapi Ibu bahagia kau terlahir laki-laki, Ibu tahu apapun jenis kelaminmu, kau tetap anak Ibu yang amat Ibu cintai.”
Ucapan itu kurekam baik-baik dalam ingatanku, kusimpan pada satu tempat rahasia dalam memoriku dan suatu hari seperti hari ini aku bisa membukanya tanpa orang lain ketahui. Lalu Ibu meninggal beberapa tahun yang lalu dan sejak saat itulah malam-malamku menjadi kehidupan lain yang tak kukenal. Saat malam tiba, saat aku mulai tertidur dan menjemput mimpi-mimpi manusia, aku lalu tersadar bahwa aku berada di kehidupan lain dan menjadi orang lain.
Suatu tempat entah dimana, hanya ada kegelapan dan hutan-hutan rimba yang menakutkan, aku mendapati diriku menjadi seorang wanita, wanita tangguh bernama Kikyo, memori tentang kehidupanku di kehidupan nyata hilang yang ada adalah aku menjadi tokoh baru bernama kikyo. Aku menunduk lesu, saat napasku menjadi semakin tak karuan, dadaku naik turun dan pedang di tanganku amis bersimbah darah. Seorang pemuda dengan tubuh tambun lari ke arahku, tapi tubuhku tak lagi berdaya untuk berbalik ke arahnya ataupun menangkis serangannya jika saja ternyata Ia musuhku.
“Kikyo,,,kau baik-baik saja?” suara itu begitu merdu namun bijaksana, tangannya yang lebar dan kuat menarik tubuhku dan memapahku sebelum lagi-lagi gerombolan orang-orang dengan tubuh aneh itu datang dan menyerang. Tubuhku masih terkulai tak berdaya, tapi orang-orang bertubuh aneh yang mereka sebut Judika itu terus merongrong memaksaku mengangkat lagi pedangku. Dengan sisa-sisa kekuatan di kaki dan tanganku, kubantai mereka semua. Mereka memang makhluk aneh dengan kekuatan yang bisa memangsaku kapan saja seandainya saja mereka bisa memangsaku, aku adalah keturunan terakhir dari keluarga manusia abad ini, tentu saja tubuh dan jiwaku akan sangat berharga untuk mereka. Tapi mereka tak akan pernah mengalahkan Kikyo, karena aku adalah keturunan terakhir yang akan tetap ada. Mereka habis, darah mereka lebih amis dari darah manusia, lebih bacin dari darah siluman apapun, karena mereka adalah Judika, ras manusia yang bersatu dengan teknologi dan mesin-mesin, maka darah mereka adalah konstruksi dari mutasi gen-gen dengan paduan molekul-molekul mesin. Darah mereka bacin dengan warna biru keruh.
“kau baik-baik saja Kikyo?” Tanya Ray, pemuda yang selalu melindungiku itu.
“aku tak boleh selemah ini, Blastfield membutuhkanku dan para Megan. Judika akan selamanya memburuku, tapi Blastfield harus memiliki satu anak manusia yang tersisa, mesin-mesin tak bisa dibiarkan menguasai Blastfield.” Aku tak menyadarinya tapi cakar-cakar Judika berhasil menembus dadaku, darah mengalir deras membuatku terjerembab, tersungkur ke tanah. Tak lagi kuingat apapun, tapi semua menjadi gelap, suara-suara membahana memanggil-manggilku.
“Kikyo, sadarlah,,,Kikyo,,,” suara Ray makin lama makin menghilang.
“Ruichi bangunlah, ruichi bangun.”
Dua suara itu saling bererbut.
“Ruichi,,,jam 7.”
            Aku membuka mataku, dan kudapati diriku tergolek lemas di tempat tidur. Wajahku peluh, keringat bercucuran membasahi tubuhku, dan aku merasa sangat lelah, ada satu tempat pada tubuhku yang teramat sakit, lalu kubuka bajuku dan aku terbelalak ketika melihat dada kiriku terluka serta mengeluarkan banyak darah. Apa kau mepercayainya? Aku tidak, tapi itu nyata.
“kau belum bangun juga?Ayo cepat atau kita terlambat!” suara Sei hampir tak terdengar lagi olehku.
“Sei…”
“ada apa Rui? Hha kau terluka? Kenapa?” Sei memandangku heran, melihat darah yang mengalir dari dadaku yang terluka. Aku hanya menggeleng karena kebingungan yang sama dengan yang Sei rasakan. Sei buru-buru membungkus dadaku dengan selembar kain untuk menghambat pendarahanku. Lalu Ia buru-buru memapahku dan mengantarkanku ke dokter. Sepanjang perjalanan Sei tampak lebih khwatir dari aku sendiri. Yang aneh adalah aku tak lagi merasakan sakit speerti yang tadi kurasakan, hanya saja aku merasa sangat lelah.
            Dokter memperban lukaku dengan hati-hati, tentu saja Ia lebih heran dari Sei maupun aku, baru pertama dalam karir kedokterannya Ia menangani kasus sepertiku.
“Rui, bagaimana kau bisa terluka? Apa kau kau terkena Sleep Syindrom? Tidur sambil berjalan atau melukai dirimu sendiri dalam tidur, atau hal-hal semacam itu?”
Aku hanya menggeleng, kuingat-ingat apa yang terjadi dalam tidurku, dan apa yang meneybabkan luka itu ada di tubuhku. Kepalaku pening dan tak ada yang kutemukan dalam memori-memoriku.
            Sudah sepuluh tahun berlalu dari kejadian itu, dan selama sepuluh tahun itu juga aku memimpikan hal yang sama. Mimpi yang teramat nyata,aku mulai mengingatnya satu-satu mimpi itu, kehidupanku dalam mimpi itu, sebuah tempat bernama Blastfield dan orang-orang yang merka sebut Megan, juga para Judika yang memburuku, ya memburuku sebagai Kikyo. Ku ceritakan hal itu pada kawan-kawanku tapi mereka hanya mentertawakanku seperti sekarang ini. Aku pengigau, aku penghayal, bahkan mungkin aku gila. Aku masih termenung sepanjang jalan dan sepucuk kelopak bunga plum kecil meraba wajahku. Kutengadahkan diri ke langit dan bertanya apa artinya semua ini, adakah hubungan dengan jabang bayi perempuan yang menghilang dan berubah menjadi aku? Kau pasti akan semakin menganggapku gila.
“Rui,,Ruichi…” seseorang berlari ke arahku, Sei.
“maafkan mereka.”
“mungkin mereka benar aku sudah gila.”
“aku percaya padamu Rui.” Ucapan Sei membuatku merasa tenang, Sei selalu datang seperti angin yang menerbangkan daun-daun bunga plum itu, menyejukan dan meneduhkan jiwaku. Perempuan itu yang selalu menemaniku sejak kematian Ibu, sahabat kecil yang diam-diam kucintai.
“Sei…”
            Kami terhenti dan memandang pada kehampaan yang semakin absurd, aku masih belum mengerti apa yang terjadi padaku, dan apa hubunganku dengan Kikyo, Blastfield, dan para Judika.
“mereka disebut Judika, manusia-manusia yang mengalami mutasi genetik dan bersekutu dengan mesin-mesin untuk menguasai bumi ini, bumi yang mereka sebut dengan Blastfield, tempat yang amat berbeda dengan sekarang. Hanya ada hutan-hutan rimba yang gelap, karena langit tertutup asap-asap industri, kabut hitam, dan deru mesin-mesin yang menjadi angin. Tak ada angin sesejuk di sini Sei, tak ada bunga plum dengan merah mudanya yang merona, hanya ada pohon kering berwarna hitam, udara kotor dan langit berkabut yang gelap.”
“lalu apa rencanamu selanjutnya Rui?” pertanyaan Sei hanya mengambang di awing-awang. Benar, apa yang akan kulakukan selanjutnya, aku pun tak tahu.
            Sore ini hujan turun begitu deras, langit berkabut sejak siang tadi, dan angin berhembus terlalu kencang. Sei masih asyik dengan komputernya, Ia lebih berusaha mencari tahu apa yang terjadi padaku dibandingkan dengan diriku sendiri. Aku masih terdiam merebahkan diri, entah kenapa hari terasa teramat melankolis, lampu berkedip tampak cantik, tapi hati terasa amat hampa. Perasaan aneh menjalar seketika, hari semakin terasa melelahkan, berpikirpun terasa lelah. Tak kusadari keringat mengucur dari tubuhku, badan tiba-tiba demam tinggi, kesadaranku mengawang-awang. Aku masih ingat ketika tiba-tiba cahaya bergerak kesana-kemari dan suara Sei makin lama makin tenggelam.
“Ruichi,,,ruichi,,,”
“kikyo,,,kikyo,,,sadarlah” kubuka mataku perlahan.
“syukurlah,,,racun judika itu sudah berhasil dinetralkan.” Ucap Ray sembari membantuku bangkit.
“apa yang terjadi?” tanyaku masih dalam kebingungan, kali ini aku yang tak mengingat bahwa di dunia lain aku menjadi seorang Ruichi, terakhir kali Judika kembali menyerangku, pertarungan itu membuatku kehabisan banyak tenaga dan racun Judika menembus darahku, aku terjatuh saat Ray datang dan membawaku lari dari para monster mesin itu.
“apa mereka akan terus memburuku seperti ini Ray? Aku lelah, suatu ketika nanti rasku tetap akan punah, tak akan ada lagi manusia” aku mulai merasakan kelelahan, juga perasaan lain yang mengganggu kehidupanku saat ini. Aku merasa terikat dengan kehidupan di masa lalu, saat bumi seharusnya tak seperti sekarang ini. Saat angin masih berhembus sejuk, ataupun saat alam masih menebarkan udara-udara dengan sinar mentari yang hangat. Tapi semua itu hanya memori aneh yang tiba-tiba datang.
“kau menyesal berada di kehidupan ini?”
“tidak Ray, tidak sama sekali, hanya saja aku merasa seharusnya aku hidup di kehidupan sebelumnya, perasaan bodoh.”
“sampai kapanpun aku akan melindungimu Kikyo, meskipun aku hanya sebatas robot bodoh yang tak berguna, tapi aku tetap akan melindungimu, karena itulah kau tak boleh menyerah.”
            Racun di tubuhku telah hilang, tapi kekuatanku belum juga kembali. Ray masih menyiapkan kapsul-kapsul untuk membantu mengembalikan kekuatanku, sementara aku harus menyiapkan pedangku. Perasaan aneh apa ini? Tapi perasaan ini masih saja menggangguku. Perasaan aku seharusnya hidup di kehidupan sebelum ini, namun karena sustu hal misteri itu aku harus berpindah dan lahir pada kehidupan ini. Atau aku juga berada di kehidupan pada abad itu? Lalu aku berada di sini sekarang mengahadapi para Judika yang semakin ganas memburuku.
“Kikyo,,,”
“apa terjadi sesuatu?”
“mereka datang.”
Mata Ray memperlihatkan bahwa kali ini tidak seperti biasanya. Mereka, para Judika itu akan menyerang Blastfield dengan jumlahnya yang ribuan. Para Megan, penghuni blastfield dalam keadaan bahaya.
“selamatkan keluargamu Ray,,,”
“tidak, aku akan melindungimu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak aku diciptakan oleh ayahmu.”
“jangan bodoh, kau juga seorang Megan, kau dan keluargamu, juga rasmu yang masih tersisa, harus selamat dan menjaga Blastfield, jangan khwatirkan aku, mereka tak akan semudah itu membunuhku.”
            Suara bergemuruh begitu kencang. Aku merasakan dengusan napas meraka, makin lama, makin mendekat, para Judika itu kini dengan koloni yang lebih banyak dari biasanya. Makhluk-makhluk bodoh yang diciptakan manusia-manusia bodoh yang terobsesi dengan mesin-mesin dan dibutakan teknologi.
“aku siap menghadapi mereka!” Ray masih berdiri di belakangku dan tetap kukuh ingin melindungiku, sementara banyak Megan yang telah menjadi Sandra bahkan dihancurkan hingga berkeping-keping oleh mereka. Mungkin saja kali ini tiba waktunya, penghabisan atas semuanya, aku dan rasku yang akan tetap tinggal di bumi ini, atau mereka dan mesin-mesin konyol itu.
“pertarungan dimulai, bersiaplah Ray.”
“aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, meskipun aku mati, aku akan mati dengan bahagia karena bisa melindungimu hingga akhir. Aku mencintaimu Kyo.”
Ucapan Ray mengagetkanku, aku menatapnya, tak ada kebohongan di matanya. Dia, sahabat yang ayah ciptakan untuku, sahabat yang selalu menemani dan melindungiku, meski tubuhnya hanya kumpulan dari mesin-mesin yang ayah buat menyerupai manusia, Ia adalah Megan terbaik yang pernah kutemui di abad 22 ini.
            Blastfield dipenuhi para Judika yang sangat ingin menguasainya, dan pertarungan ini adalah akhir dari segalanya. Ray mengeluarkan seluruh kekuatannya,aku pun sama, mereka pun sama. Kami adalah makhluk-makhluk abad ini yang masih ingin mempertahankan kehidupan kami maupun ras kami. Kekuatanku hampir tak ada lagi, sisa-sisa tenaga yang kukumpulkan hanya mampu menahan satu-satu serangan mereka, namun sial, mereka menyerangku bersaamaan, kulihat Ray tersungkur tak berdaya, kabel-kabel di dadanya mulai kendur satu-satu dan mengeluarkan percekian api. Aku tahu Ia mulai terluka dan tak lagi berdaya menahan serangan mereka.
“Ray bertahanlah.” Inikah akhir dari semuanya, benarkah ini akhir dari segalanya, semua masih tampak mengerikan sebelum akhirnya sesuatu menusuk punggungku dari belakang dan membuatku tersungkur.
“ruichi,,ruichi,,,”
Aku membuka mataku dan mendapati Sei disampingku.
“Sei aku harus kembali ke sana dan menyelamatkan Kikyo, bagaimana aku bisa kembali ke sana? Tapi sebagai diriku sendiri diriku saat ini, sebagai Ruichi,,,bantulah aku Sei.”
“hanya ada satu cara kau kembali ke sana, saat tidur kau akan berada di tempat Kikyo, hanya saja kau tidak bisa menjadi Ruichi, karena jiwa kalian menyatu.”
“Sei, kikyo tidak mengenalku, hanya aku yang mengingatnya, jiwa kami masih bisa berpisah Sei, bantulah aku.”
            Sei kembali menidurkanku dengan obat penenang, saat aku mulai terjaga ia akan terus memanggilku agar  jiwaku bisa melepaskan diri dari jiwa Kikyo, hanya dengan cara itulah aku bisa menyelamatkan Kikyo.
“kau harus bertahan Ruichi, kau harus segera kembali, aku akan menunggumu, di sini.” Ucap Sei lirih.
            Tubuh Ray semakin berantakan, kali ini kabel-kabel di tubuhnya benar-benar terbakar. Aku mengumpulkan lagi sisa-sisa kekuatanku dan mencoba untuk bangkit. Meski darah mengalir deras dari tubuhku, namun ada kekuatan lain yang tiba-tiba datang dan membuatku bertahan. Aku merasa bukan diriku sendiri, aku merasa bukan Kikyo, tapi seorang lain dalam diriku bersatu dengan jiwaku. Suara-suara itu terdengar begitu jelas.
“Ruichi, ruichi, lepaslah dari jiwa Kikyo, dan selamatkan mereka semua. Ruichi bertahanlah.”
Tubuhku mengeleuarkan cahaya aneh yang berpendar kian kemari, aku melihat diriku sendiri berputar-putar di hadapanku, aku melihat diriku sebagai Ruichi, juga melihat diriku sebagai Kikyo, dan kekuatan dahsyat itu menangkapku tiba-tiba.
“hhzzzzzzzt.”
“kikyo,,,” aku melihatnya terluka parah di hadapanku, dan para Judika yang masih menyerangnya tanpa ampun, aku berhasil melepaskan diri dari tubuhnya. Kuambil pedang Ray yang terlempar dari tangannya dan mulai menyerang sebisaku dengan kekuatanku. Hanya berharap Kikyo tetap hidup, dan harapan itu muncul menjadi kekuatan dahsyat mengalahkan para Judika itu.
Kulihat Kikyo yang terluka parah, juga Ray yang masih tersungkur tak sadarkan diri, abad 22 yang mengerikan telah berakhir.
            Luka-luka Kikyo telah membaik, para Megan juga berhasil memperbaiki tubuh Ray menjadi seperti semula. Meski Blastfield masih tetap gelap dengan asap-asap hitam yang menutup langit, tapi sementara ini semua akan terasa damai.
“terimakasih telah datang dan menyelamatkanku.” Suara kikyo begitu lembut, seperti hembusan angin yang ada pada kehidupan nyataku. Takdir ini mempertemukan kami dengan cara yang tak biasa, kejadian yang tetap menjadi misteri Tuhan.
“maafkan aku karena harus menggantikanku lahir di abad ini kau begitu menderita.”
Suaraku tertahan di tenggorokan hampir Ia tak mendnegarnya. Ia hanya tersenyum dan menghembuskan napasnya panjang. Kulihat senyumnya yang begitu meneduhkan jiwa, untuk sejenak aku merasa tak ingin kembali, meski ada Sei yang menungguku. Malu kuakui tapi hatiku saat ini terbagi, keinginanku untuk menyelamatkan kehidupannya membuatku menyadari bahwa jiwa kami yang sempat menyatu membuat perasaanku menyatu padanya. Tapi aku sadar aku tidak seharusnya ada di sini, ada seseorang di kehidupanku yang sedang menungguku untuk kembali. Sei.
“aku harus kembali,,,”
“begitukah? Ruichi, terimakasih karena telah membuatku terlahir di kehidupan ini, meski melelahkan tapi aku masih bisa bertemu denganmu dan pada akhirnya kau tetap menyelamatkanku. Aku takkan pernah menyesalinya.”
Kami terdiam dan memandang langit yang masih juga hitam, meski untuk sejenak bagi kami langit itu tampak terang. Ternyata Ray melihat kami dari suatu tempat yang tak kami sadari, barangkali perasaan Megan itu lebih menyakitkan dari luka yang baru saja Ia alami. Bagaimana dengan Sei? Mungkin Ia sedang menungguku dengan perasaan kacau dan kekhawatiran yang menjadi. Tiba-tiba langit menampakkan sedikit cahaya putihnya, kabut-kabut hitam itu menyingkir perlahan dan hembusan angin itu terasa menyentuh jiwa dan mendamaikannya. Aku dan kikyo masih menengadah padanya yang mulai tampak bercahaya.

                                Penghujung malam, 19/11/11




Comments

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.