Skip to main content

surat untuk bunda


Untuk Bunda yang setiap langkah kakinya adalah doa.
            Aku merindukanmu bu, maafkan putrimu yang cengeng ini, karena barangkali entah telah berapa banyak air mata menetes karena terlalu rindu, tapi sebanyak apapun itu tidak akan melebihi banyaknya pengorbananmu untukku juga untuk Restu adikku. Maafkan aku juga bu yang masih menadahkan tangan meminta padamu meski telah sebesar ini. Entah kapan mimpi-mimpiku juga mimpi-mimpimu akan menjadi nyata, tapi aku janji padamu aku akan terus berjuang, meski perjuanganku tak akan sekuat perjuanganmu yang lapang, meski keringatku tak akan sepeluh keringat yang kau teteskan tiap hari dari dini hingga menjelang pertengahan malam.          
            Bu, kali ini ingin kukisahkan tentang kenakalanku yang makin menjadi, tentang kawan-kawanku yang beragam kisah yang tak bisa kurangkum. Kuingat pesan kecilmu yang selalu kukantongi dalam saku hati, tentang hidup untuk berbagi, tentang habluminannas, tapi manusia mahkluk yang rumit bu, juga aku. Sore tadi aku berkaca dan mendapati diriku begitu buruk bu, seorang kawan membicarakan keburukan kawanku dan aku dongkol karenanya, aku marah sampai tak bisa mengontrol mulutku ini bu, tahukah kau apa yang putrimu ini lakukan? Membicarakannya di belakang. Betapa hina. Aku menangis karena malu bu, malu pada Tuhan dan malu padamu. Aku bahkan tak jauh lebih buruk darinya bu, aku menyesal sampai sesak nafasku karena takut, karena malu, karena marah pada diriku sendiri yang begini. Apa yang harus kulakukan bu? Apa Allah masih mau melihatku?barangkali kau lebih kecewa bu, karena wejanganmu dan pelajaran-pelajaran darimu menguap di awang-awang.
            Lagi-lagi hujan menjadi mesin waktu yang mengantarkanku pada ingatan-ingatan keberadaanmu bu, lagi-lagi kesunyian mendera hati hingga kerinduan terhadapmu menjadi-jadi. Ingin kukabarkan padamu tentang kisah-kisah putri kecilmu ini, tapi angin tak kunjung menghantarkan pesan rinduku padamu bu. Aku rindu, sangat rindu. Biarlah bu, biarlah kali ini aku mengumpulkan rinduku padamu hingga suatu ketika nanti, saat putrimu ini memakai toga dan kau datang dengan doa-doa mengecup keningku, lalu berkata “ibu juga rindu dan ibu bangga padamu”, biarlah kukumpulkan kerinduan yang tak seberapa itu, sampai saat-saat itu datang dan aku bisa membuat bibir-bibirmu tersenyum ayu, memandangku dengan kebahagiaan karena pengorbananmu yang maha itu takkan sia-sia.
            Itulah sepenggal kisah putrimu Bu, semoga bisa menghantarkan kerinduanku padamu, dan membawakan kerinduanmu padaku lewat surat balasan darimu Bu.

Comments

  1. Hey bebiii... Haness's here...
    so glad to find this blog... :)
    I already knew you have talent and it's time to explore it... Sing your mind out...
    Never give up to chase your dreams... :)
    regard, Ness

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hopeless

      Lagi-lagi aku melihat wanita itu ditampar bertubi-tubi. Ia lah wanita yang menjadi nas dalam setiap sajak-sajakku. Wanita yang meleburkan kehidupannya bersama tangis. aku sering membayangkannya. Hidup di sebuah dunia yang dipenuhi senyumannya. Kukira, aku akan memilih abadi di sana, sekalipun aku harus menentang langit.        Sederhana sekali keinginannya, tak melihatku kelaparan. Bahkan, ia lupa bahwa ia harus menahan nyeri di tukak lambungnya untuk itu. Beberapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mengeluarkannya dari gerbang durja itu. Menarik kehidupannya yang diberangus kemiskinan. Tapi, lagi-lagi keyakinanku melorot manakala melihat air matanya meluruh sebab ia menahan rasa sakit yang lebih.       Entah telah berapa banyak hari di mana ia merasa begitu sendiri dan sepi. Jauh dari lelaki yang ia kira mampu menjadi tempatnya bersandar, jauh dari bayi kecil yang ia kira mampu menghilangkan lelahnya, dan j...

nightmare :(

tentu saja, tak pernah terbentas dalam hari-hariku sebelum ini bahwa aku akan hidup dalam beberapa hari tanpa cahaya, tanpa air, tanpa aliran listrik. aku masih bersyukur seorang kawan memberiku ijin tinggal di kosannya dan menikmati fasilitas yang ada, meski aku tahu ungsianku menyebabkan kerepotan yang parah, (maafkan aku tak bisa berbuat apapun). ini mimpi buruk yang tak kubayangkan sebelumnya, tumbuh besar dan besar pula tanggungjawab di bahuku, tuntutan bahwa aku harus mampu melakukan segalanya seorang diri, tak lagi menggantungkan diri, atau merengek manja. alarm besar dalam hidupku mulai berbunyi.

Mapat

Hari-hari dan skripsi, sebotol air putih, dan wajah ibu.  Anggap saja, malam ini aku sedang tak ingin menyentuh apapun, selain mencium aroma tubuhmu bu.